INTENS PLUS – JAKARTA. Organisasi relawan pendukung Joko Widodo (Jokowi) yang selama dua periode menjadi garda terdepan dalam pemenangan dan pembelaan politik, Pro Jokowi (Projo), kini resmi bergeser arah.
Dalam Kongres III Projo di Jakarta pada Sabtu (1/11), Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi menyatakan dukungan penuh kepada Presiden Prabowo Subianto dan mengungkapkan rencana dirinya bergabung dengan Partai Gerindra.
Langkah politik tersebut menjadi kejutan besar bagi publik. Pasalnya, selama 10 tahun terakhir, Projo dikenal sebagai elemen pendukung paling setia kepada Jokowi, bahkan kerap melekat dengan slogan “merah kata Jokowi, merah kata Projo; putih kata Jokowi, putih kata Projo.”
Namun memasuki pemerintahan baru, Projo kini menegaskan diri sebagai pendukung utama Prabowo Subianto, sekaligus melakukan rebranding yang menandai berakhirnya keterikatan simbolik dengan Jokowi.
Dalam pidatonya, Budi Arie menyampaikan secara terbuka bahwa ia tengah meminta restu dari anggota Projo untuk bergabung ke Partai Gerindra.
“Saya meminta izin kepada seluruh anggota Projo untuk saya bergabung ke Partai Gerindra kan kita belum bergabung,” katanya dikutip, Selasa (4/11/2025).
Ia juga menegaskan tidak akan bergabung dengan PSI, partai yang dipimpin Kaesang Pangarep putra bungsu Jokowi dan dikaitkan dengan figur mister J.
Keputusan ini semakin memperkuat kesan bahwa langkah politik Budi Arie berjarak dari Jokowi dan keluarga.
Budi Arie juga mengumumkan perubahan mendasar pada identitas Projo. Logo organisasi yang sejak awal menampilkan siluet wajah Jokowi, akan diganti.
Keputusan ini dinilai sebagai simbol bahwa Projo kini tidak lagi mengikatkan diri pada figur Jokowi dan sedang menyiapkan wajah baru dalam politik nasional.
Dinilai Cari Perlindungan Politik
Manuver Budi Arie menuai kritik. Politikus PDIP Ferdinand Hutahaean menilai langkah sang ketua umum Projo telah dimotivasi oleh kepentingan pribadi, terutama terkait posisinya dalam penyelidikan dugaan keterlibatan dalam kasus judi online di kepolisian.
“Karena bagaimanapun Budi Arie saat ini statusnya di kepolisian terkait dugaan judi online dan masih panas-panasnya seperti kopi panas di pagi hari. Saya yakin kalau Budi Arie tidak mencari perlindungan politik dan hukum, maka dia akan dijadikan tersangka,” ujar Ferdinand, dikutip dari Kompas.TV, Senin (3/11/2025).
Ferdinand menilai satu-satunya tempat aman bagi Budi Arie adalah Gerindra, meskipun menurutnya Gerindra tidak membutuhkan figur tersebut.
“Saya khawatir ini justru merugikan Gerindra dengan status Budi Arie saat ini,” tambahnya.
Pengamat politik Adi Prayitno menilai, secara kalkulatif, perpindahan Budi Arie ke Gerindra adalah langkah yang realistis dan rasional.
Ia mengatakan, aktor politik yang ingin tetap relevan dalam struktur kekuasaan memang membutuhkan kendaraan partai.
“Sepertinya Budi Arie sudah mulai realistis bahwa untuk menjadi aktor kunci, termasuk mengakses jabatan-jabatan politik strategis di negara ini, memang harus melalui partai politik, suka atau tidak,” ujar Adi, Minggu (2/11/2025).
Namun Adi menilai publik melihat langkah ini sebagai upaya Budi Arie secara perlahan meninggalkan politik Jokowi.
Ini diperkuat oleh keputusan mengganti logo Projo yang tidak lagi memuat wajah Jokowi.
“Projo adalah relawan yang paling identik dengan Jokowi. Perubahan logo dan rencana bergabung ke Gerindra itu dimaknai sebagai manuver politik untuk meninggalkan Jokowi,” jelasnya.
Jokowi Mulai Ditinggalkan Kawan
Ferdinand Hutahaean juga menyebut Jokowi mulai ditinggalkan para pendukungnya sejak tak lagi menjabat presiden.
“Sebentar lagi Jokowi akan sendirian,” ucapnya.
Ia menilai sebagian pergi karena kepentingan politik, sebagian lagi karena persoalan hukum.
Ferdinand mencontohkan Immanuel Ebenezer (Noel), loyalis Jokowi yang ditangkap KPK dalam kasus dugaan suap saat menjabat Wakil Menteri Ketenagakerjaan.
“Orang-orang oportunis yang meninggalkan Jokowi banyak sekali.”
Ketua Umum Relawan Pasukan Bawah Tanah (Pasbata) yang kini mendukung Prabowo, David, menilai masuknya Projo ke Gerindra merupakan langkah positif untuk melanjutkan program pembangunan nasional.
“Kami lahir dari Bapak Jokowi, dan hari ini kami berjuang bersama Bapak Prabowo untuk melanjutkan cita-cita besar beliau demi rakyat dan negara,” ujarnya.
David mengajak publik untuk tidak memperpanjang polemik politik yang hanya membuang energi. Pilpres telah selesai, sehingga ia menilai lebih baik fokus pada agenda pembangunan.
“Sudahlah, kita sudahi semua ini. Mari kita ajari rakyat untuk pintar, bukan disuguhi isu pembodohan seperti ijazah dan lain-lain,” katanya.(*)
Penulis : Elis
