Jabodetabek Teknologi

Electricity Connect 2025 Hadirkan Peta Jalan Energi Bersih Indonesia 10 Tahun ke Depan

INTENS PLUS – JAKARTA. Agenda besar sektor ketenagalistrikan nasional, Electricity Connect 2025, resmi dibuka di Jakarta International Convention Center (JICC). Kegiatan berskala internasional yang digagas oleh Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) serta didukung penuh oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT PLN (Persero) ini menjadi momentum penting bagi Indonesia dalam mempercepat transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan untuk 10 tahun kedepan.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman P. Hutajulu, mengatakan bahwa pemerintah menaruh perhatian serius terhadap dampak pemanasan global yang kini melanda dunia. Menurutnya, transisi dari energi fosil menuju energi baru terbarukan (EBT) menjadi langkah mutlak yang harus dipercepat.

“Yang perlu kita perhatikan adalah adanya trilema energi. Yang pertamanya adalah security, kita harus memberikan listrik yang cukup kepada seluruh lapisan masyarakat. Dan yang kedua adalah listrik tersebut harus affordable atau terjangkau. Dan yang ketiga adalah sustainability. Jadi, kita harus mendorong EBT ke sistem kita semuanya,” ujar Jisman dalam pembukaan acara. Rabu (19/11/2025)

Acara tersebut, mempertemukan pemerintah, pelaku industri, investor, dan pemangku kepentingan global tahun ini yang mengusung misi besar, menghadirkan arah pembangunan energi terbarukan di Indonesia. 

Dengan rangkaian konferensi, pameran, workshop, dan dialog tingkat tinggi, Electricity Connect 2025 diharapkan menjadi ruang kolaborasi strategis yang melahirkan terobosan baru menuju ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Jisman menekankan, bahwa langkah pemerintah ini sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan kemandirian energi dengan memaksimalkan potensi EBT domestik, mulai dari tenaga surya, angin, air, hingga panas bumi yang tersebar di seluruh nusantara.

Dalam forum tersebut, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, memaparkan peta jalan transisi energi Indonesia melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Langkah ini disebut sebagai RUPTL paling hijau sepanjang sejarah penyusunan rencana strategis PLN.

“Pembangunan pembangkit pada periode ini akan didominasi oleh energi baru terbarukan, dengan total kapasitas mencapai 69,5 gigawatt (GW) atau sekitar 76 persen dari seluruh penambahan pembangkit yang direncanakan,” ucapnya.

Menurut Darmawan, untuk mengintegrasikan suplai listrik EBT tersebut, PLN bersama pemerintah telah menyiapkan pembangunan infrastruktur jaringan masif, sejauh 48.000 kilometer sirkuit (kms) transmisi, dan 109.000 MVA gardu induk. Dengan estimasi investasi mencapai Rp3.000 triliun dalam 10 tahun.

“Tentu saja dengan adanya transisi energi ini kita akan dapat memberikan energi bersih yang berharga, dengan biaya pokok produksi diharapkan semakin menurun. Dan dalam proses itu, kita beralih dari energi fosil yang basisnya impor ke EBT domestik sehingga meningkatkan ketahanan energi,” jelas Darmawan.

Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, menegaskan bahwa Kantor Staf Presiden (KSP) memberikan perhatian khusus terhadap upaya kemandirian energi nasional. Pihaknya memastikan program transisi energi yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden dapat dieksekusi dengan tepat sasaran.

“Kita memahami bahwa sumber energi Indonesia tersebar hingga pulau-pulau terpencil. Itulah kekuatan besar bangsa, meski beberapa daerah penghasil energi belum sepenuhnya menikmati listrik optimal. Situasi ini menjadi peluang perbaikan yang kini dipercepat melalui RUPTL,” tutur Qodari.

Ia menambahkan, potensi ekonomi dari rencana ekspansi EBT sangat besar. Dengan nilai investasi Rp3.000 triliun dalam satu dekade, kontribusi sektor energi diperkirakan mampu menambah 1 persen pertumbuhan ekonomi nasional setiap tahun.

“Energi ini sangat vital karena nanti diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8%. Tidak ada cerita pertumbuhan ekonomi 8% tanpa kelistrikan yang kuat,” terangnya.

Ketua Panitia Pelaksana Electricity Connect 2025 sekaligus Sekretaris Jenderal MKI, Arsyadany G. Akmalaputri, menyampaikan bahwa acara ini menjadi pintu kolaborasi lebih luas antara pemerintah, industri, dan investor dalam memperkuat ekosistem energi terbarukan di kawasan Asia, khususnya Indonesia.

“Kami menyuguhkan berbagai agenda unggulan, seperti plenary sessions, panel discussion, thematic discussions, high level dialogues, knowledge hub, serta workshop, juga penandatanganan nota kesepahaman, supplier gathering dan one on one meeting,” ujarnya.

Selain itu, masih ada pula pameran teknologi kelistrikan diikuti 94 exhibitor, menampilkan inovasi dan teknologi terbaru dari industri ketenagalistrikan dalam dan luar negeri.

“Optimis agenda Electricity Connect tahun ini akan berjalan sukses dan membuka lebih banyak pintu kolaborasi dan inovasi. Sama seperti tahun lalu, kegiatan ini merupakan Net Zero Emission event, di mana seluruh jejak karbon ditukar dengan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca,” pungkas Arsyadany.

Arsyadany mengungkapkan, dengan peta jalan transisi energi yang semakin jelas, dukungan penuh pemerintah, serta kolaborasi lintas sektor yang diperkuat melalui Electricity Connect 2025, Indonesia kini memasuki fase penting dalam perjalanan menuju ketahanan energi dan capaian Net Zero Emission.

“Kegiatan ini bukan hanya agenda tahunan, tetapi penanda komitmen nasional untuk seluruh masyarakat di berbagai wilayah. Agar dapat menikmati energi bersih, terjangkau, dan juga andal dalam satu dekade ke depan,” kata Arsyadany.(*)

Penulis : Elis

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *