Headline Yogyakarta

Dari 6 ke 15 Titik, Pemkot Yogyakarta Kembangkan Sekolah Lansia Berkurikulum Khusus Usia 60+

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperluas layanan bagi warga lanjut usia melalui pengembangan Sekolah Lansia, sebuah program pendidikan nonformal yang dirancang untuk menjaga kesehatan, meningkatkan kemandirian, serta mencegah penurunan fungsi kognitif pada warga usia 60 tahun ke atas. 

Program yang dikelola Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) ini akan bertambah pesat pada 2026.

Kepala DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Retnaningtyas, menyampaikan bahwa saat ini terdapat enam Sekolah Lansia yang aktif berjalan di beberapa wilayah. Pemerintah Kota menargetkan perluasan menjadi 15 titik pada 2026.

“Untuk saat ini di Kota Yogyakarta ada enam sekolah lansia. Masing-masing ada di Purbayan tiga titik, di Kemantren Mantrijeron, yaitu Suryodiningratan dan Gedongkiwo, serta satu titik di Rejowinangun,” ujarnya, Selasa (25/1/2025).

Retnaningtyas menjelaskan, pada 2026. Pihaknya akan menambah sembilan sekolah lansia baru, sebagian besar akan berstatus Standar 1, sementara dua lainnya ditingkatkan menjadi Standar 2. 

Penjenjangan ini tidak merujuk pada tingkatan akademik, melainkan standar kurikulum pembinaan lansia yang dirancang lebih sistematis.

Kurikulum sekolah lansia disusun bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta BKKBN. Terdapat tiga standar pembelajaran: S1, S2, dan S3.

“Standar 1 itu lebih dasar, sifatnya ringan dan menyenangkan. Kegiatannya banyak untuk hiburan seperti bernyanyi, tepuk tangan, dan pembekalan kesehatan. Tidak ada PR juga, nanti enggak ada yang mau masuk,” kata Retnaningtyas.

Peserta yang telah menyelesaikan jenjang S1 dapat melanjutkan pembelajaran ke S2 dan S3. Setiap jenjang berlangsung minimal 10 hingga 12 bulan.

“S1 itu penguatan untuk diri sendiri, bagaimana mandiri dan tidak bergantung. Untuk S2 meningkat bisa berperan di level keluarga dan S3 itu fokus pada kemandirian, lansia berdaya guna,” bebernya.

“Setiap Sekolah Lansia rata-rata menampung 50 peserta, dengan enam sekolah yang berjalan saat ini. Total pesertanya mencapai sekitar 300 orang. Tahun depan, seluruh sekolah lansia akan dibiayai melalui APBD Kota Yogyakarta.” imbuh Retnaningtyas.

Namun, Pemkot juga membuka ruang partisipasi bagi masyarakat, kampus, dan dunia usaha untuk mendirikan sekolah lansia secara swadaya.

“Jika ada masyarakat atau kampus yang ingin membuka dengan swadaya, itu sangat boleh. Beberapa universitas seperti UII dan UGM/UNY juga terlibat,” kata Retnaningtyas.

Retnaningtyas menegaskan, bahwa tujuan utama Sekolah Lansia bukan untuk mengejar produktivitas atau pendapatan tambahan. Melainkan menjaga kesehatan, kemandirian, kebugaran, dan kebahagiaan jangka panjang.

“Kita tidak menargetkan lansia harus produktif atau menghasilkan. Yang penting mereka tetap mandiri, bisa beraktivitas sendiri, tidak menjadi beban keluarga. Ada yang usianya 90-an tahun masih datang ke sekolah lansia, itu sudah keren,” ujarnya.

Selain kegiatan hiburan dan kesehatan, beberapa materi pembelajaran juga fokus pada pencegahan kepikunan melalui aktivitas kreatif seperti membuat kerajinan sederhana. Jika ada peserta yang mampu menjual hasil karya mereka, hal tersebut dipandang sebagai nilai tambah, bukan tujuan utama.

“Yang utama adalah mereka tetap sehat, tidak ndeprok (bed rest), dan bisa mengurus diri sendiri,” tegasnya.

Ia memaparkan, DP3AP2KB membuka kesempatan seluas-luasnya bagi komunitas, perguruan tinggi, dan dunia usaha untuk terlibat sebagai pendamping maupun penyelenggara Sekolah Lansia.

“Kami sangat terbuka kesempatan bagi masyarakat, komunitas atau pengusaha yang ingin membentuk sekolah lansia secara swadaya. Dengan pengembangan yang terus diperluas, kami berharap semakin banyak warga lansia yang mendapatkan dukungan terstruktur untuk hidup lebih sehat, mandiri, aktif, dan bahagia,” tutupnya.(*)

Penulis : Elis

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *