Edukasi Yogyakarta

Strategi Pengelolaan Sampah Mandiri di Gedongkiwo Dinilai Sukses Tekan Timbunan Harian

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Strategi pengelolaan sampah mandiri yang dijalankan warga Kelurahan Gedongkiwo, Kemantren Mantrijeron, Yogyakarta. Dinilai berhasil menekan timbunan sampah harian. 

Hal ini disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Yogyakarta, Aman Yuriadijaya, saat meninjau langsung proses pengolahan sampah di kawasan tersebut.

Kunjungan itu menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kota Yogyakarta untuk memastikan gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (MAS JOS) berjalan efektif hingga tingkat kelurahan. 

Aman menilai praktik pengolahan sampah mandiri yang diterapkan warga Gedongkiwo telah menunjukkan hasil nyata.

Dalam peninjauannya, Aman menyaksikan berbagai metode pengolahan sampah, mulai dari pemilahan sampah rumah tangga hingga pemanfaatan 23 biopori jumbo yang dibangun melalui swadaya masyarakat. Menurutnya, kedisiplinan warga menjadi faktor utama keberhasilan pengurangan volume sampah.

“Saya sangat mengapresiasi masyarakat Gedongkiwo. Ini bukti nyata bahwa gerakan MAS JOS bukan hanya slogan, tetapi benar-benar dipraktikkan dengan disiplin oleh warga,” ujar Aman. Rabu (26/11/2025).

Ia menambahkan, kesadaran kolektif warga dalam mengolah sampah sudah terbentuk kuat. Jika diterapkan secara menyeluruh, langkah itu diyakini mampu mengurangi beban sampah yang masuk ke depo maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Mantri Pamong Praja Mantrijeron, Narotama, mengatakan warga Gedongkiwo telah menjalankan pemilahan sampah ke dalam tiga kategori utama yaitu organik, anorganik, dan residu. 

“Untuk kategori organik, pemilahan dilakukan lebih detail lagi menjadi dua jenis, yakni organik basah mentah (seperti sisa sayuran) dan organik basah matang (seperti sisa makanan siap santap),” bebernya.

Langkah tersebut, menurutnya, membuat pengolahan lebih efektif karena setiap jenis sampah dapat diproses sesuai karakteristiknya.

Selain pemilahan, keberadaan 23 biopori jumbo menjadi salah satu kunci keberhasilan. Biopori ini tidak hanya berguna dalam penguraian sampah organik, tetapi juga meningkatkan daya serap tanah terhadap air. 

“Fasilitas sudah terpasang di permukiman warga hingga area kantor kelurahan. Tahun depan, rencananya akan kami lakukan panen serentak biopori jumbo. Ini menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa pengolahan sampah berbasis lingkungan benar-benar memberikan hasil,” ujar Narotama.

Untuk memperkuat sistem yang sudah berjalan, Kelurahan Gedongkiwo tengah mempersiapkan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) berbasis kelurahan pada 2026. 

Menurutnya, TPST ini dirancang agar warga dapat mengolah sampah organik dan anorganik lebih dekat tanpa harus ke depo.

“Jika TPST beroperasi, hanya sampah residu yang akan dikirim ke depo sehingga volume sampah yang masuk dapat ditekan secara signifikan,” ucapnya.

“Kalau TPST sudah beroperasi, warga tidak perlu ke depo. Jadi pengolahan lebih dekat, efisien, dan bisa meminimalkan volume sampah,” imbuhnya.(*)

Penulis : Elis

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *