INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Pemerintah Kota Yogyakarta menjadikan Program Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting (Genting) sebagai andalan utama dalam upaya menekan kasus stunting, khususnya melalui intervensi faktor lingkungan dan sanitasi.
Langkah ini diambil karena sebagian besar penyebab stunting dipengaruhi faktor sensitif yang berada di luar aspek medis.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menjelaskan bahwa stunting dipengaruhi dua faktor utama, yakni faktor sensitif dan faktor spesifik. Faktor sensitif berkontribusi sekitar 70 persen, sementara faktor spesifik hanya 30 persen.
“Faktor sensitif itu adalah ekosistem di luar diri anak, seperti kemiskinan, pendidikan, air bersih, dan sanitasi. Sedangkan faktor spesifik terkait langsung dengan kesehatan, misalnya kesehatan reproduksi, anemia, gizi, dan pemberian makanan tambahan,” kata Hasto saat menjadi narasumber best practice Program Genting dalam rangkaian evaluasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) DIY di Loman Park Hotel, Selasa (16/12/2025).
Hasto menegaskan, pencegahan stunting tidak bisa hanya berfokus pada pemenuhan gizi. Lingkungan yang tidak layak huni, termasuk sanitasi buruk dan air tercemar bakteri E-coli, turut memengaruhi kesehatan anak dan berpotensi menyebabkan stunting.
“Kalau kita bicara Genting, jangan hanya memikirkan makanan. Lingkungan itu sangat penting. Air bersih dan sanitasi yang baik adalah kunci untuk mencegah stunting,” ujarnya.
Menurut Hasto, tantangan pencegahan stunting di wilayah perkotaan masih cukup besar. Karena itu, Pemkot Yogyakarta menargetkan zero new stunting dengan fokus pada pencegahan kasus baru.
“Kalau anak sudah stunting lalu kita kejar dengan intervensi, tingkat keberhasilannya hanya sekitar 20 persen. Bisa, tetapi tidak tinggi. Maka mencegah jauh lebih penting dibandingkan mengobati,” terangnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap Program Genting dari BKKBN, Pemkot Yogyakarta telah menyalurkan 2.065 paket bantuan kepada 613 sasaran dengan total nilai mencapai Rp736,5 juta. Bantuan tersebut mencakup intervensi sensitif, seperti penyediaan rumah layak huni, serta intervensi spesifik berupa bantuan gizi dan pemberian makanan tambahan (PMT).
“Kami rutin melakukan gotong royong bedah rumah setiap hari Minggu dengan melibatkan berbagai CSR. Selain itu, kami juga memberikan makanan tambahan dari APBD dan Dana Keistimewaan sekitar Rp100 juta per kelurahan per tahun untuk penanganan stunting,” jelas Hasto.
Ia menambahkan, Pemkot Yogyakarta juga mengembangkan model Genting yang melibatkan Foodbank sebagai orangtua asuh bagi keluarga sasaran, sehingga bantuan dapat terus berlanjut apabila dukungan dari Genting belum mencukupi.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN DIY, Mohamad Iqbal Apriansyah, menyampaikan bahwa Program Genting merupakan salah satu dari lima program prioritas (Quick Win) Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.
Selain Genting, program Quick Win lainnya meliputi Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (Gati), Aplikasi Konsultasi Keluarga Berbasis AI (Akal Imitasi), dan Lansia Berdaya (Sidaya).
Iqbal mengungkapkan bahwa hingga pertengahan Desember 2025, pelaksanaan Program Genting di DIY telah melibatkan 812 mitra dengan jumlah sasaran mencapai 24.806 keluarga, serta total bantuan secara nominal sekitar Rp2,4 miliar.
“Khusus Kota Yogyakarta, capaian Program Genting per 12 Desember 2025 mencapai 2.023 sasaran atau 330,02 persen, tertinggi dibandingkan kabupaten dan kota lain di DIY,” ungkapnya.
Ia mengapresiasi komitmen Pemkot Yogyakarta dan seluruh mitra yang telah bergotong royong mendukung pencegahan stunting.
“Capaian ini menunjukkan semangat kebersamaan yang luar biasa. Namun upaya ini harus terus dilanjutkan, karena masih banyak keluarga yang membutuhkan dukungan agar anak-anak kita tumbuh sehat dan bebas stunting,” pungkas Iqbal.(*)
Penulis : Elis
