Pendidikan Yogyakarta

STIPRAM Gandeng Dinas Pariwisata dan Industri Bahas Peran Visual di Pengembangan Pariwisata

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo (STIPRAM) Yogyakarta menggandeng Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul serta pelaku industri perhotelan dalam sebuah seminar bertajuk “Tourism, Social Media and The Role of Visual Project”. 

Kegiatan ini digelar di Greenhouse Boutique Hotel Yogyakarta dan menjadi wadah diskusi strategis mengenai peran produk visual dan media sosial dalam pengembangan pariwisata di era digital.

Seminar tersebut diselenggarakan oleh mahasiswa Pascasarjana Batch 13 Program Magister Pariwisata STIPRAM sebagai bagian dari mata kuliah Event Management. Melalui kegiatan ini, STIPRAM mendorong kolaborasi nyata antara akademisi, pemerintah, dan industri pariwisata.

Dosen Program S2 Pariwisata STIPRAM, Nur Widianto, yang akrab disapa Nanung, menjelaskan bahwa seminar ini merupakan bentuk tantangan akademik bagi mahasiswa agar tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga berinteraksi langsung dengan dunia industri dan pemerintahan.

“Dalam event ini saya menjadi dosen pengampu mata kuliah event management. Saya menantang mahasiswa Batch 13 untuk tidak sekadar membuat event, tetapi juga membangun kolaborasi dengan industri dan pemerintah,” ujar Nanung. Rabu (15/1/2025).

Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci utama dalam pengembangan pariwisata, karena sektor ini tidak dapat berjalan secara parsial.

“Pariwisata di mana pun harus bekerja secara kolaboratif. Kita pastikan tidak berjalan sendiri. Walaupun ini konteksnya mata kuliah, tapi kita harus berani membawa kegiatan perkuliahan ke level yang praktis dan nyata,” jelasnya.

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kerja sama dengan Greenhouse Boutique Hotel Yogyakarta sebagai mitra industri serta Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul sebagai representasi pemerintah daerah.

Nanung menilai, penyelenggaraan seminar ini penting untuk mendorong pemahaman bahwa produk visual dan media sosial memiliki peran krusial dalam promosi dan pengembangan pariwisata modern.

“Event ini mendorong mahasiswa, pelaku usaha, dan pemerintah untuk semakin memaksimalkan peran visual product melalui media sosial. Pariwisata hari ini tidak bisa dilepaskan dari aspek digital,” katanya.

Ia menambahkan, pengembangan pariwisata ke depan tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga kualitas wisata dan pengelolaannya.

“Jumlah bukan satu-satunya indikator. Yang lebih penting adalah kualitas wisatawan yang datang, value yang dibawa, serta kualitas pengelolaan destinasi,” ungkap Nanung.

Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian dua kegiatan utama. Sebelumnya, panitia telah menggelar kompetisi video pariwisata yang diikuti sekitar 140 peserta, terdiri dari ASN, masyarakat umum, pelajar SMK, dan mayoritas mahasiswa.

Sementara itu, jumlah peserta seminar dibatasi sekitar 60 orang, menyesuaikan dengan kapasitas ruangan di Greenhouse Boutique Hotel Yogyakarta.

“Ini event pertama kami. Skalanya memang masih kecil dan tentu masih ada kekurangan. Tapi ini menjadi pembelajaran penting agar ke depan bisa lebih serius dan lebih masif,” katanya.

Ke depan, STIPRAM berencana mengambil alih penyelenggaraan kegiatan ini secara institusional agar dapat berkembang menjadi agenda yang lebih besar dan berkelanjutan.

Pengelola media sosial Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Danang Hariwibowo, menyambut baik kolaborasi yang dilakukan STIPRAM melalui kegiatan ini. Menurutnya, seminar dan lomba visual seperti ini berpotensi melahirkan kreator konten pariwisata yang mampu menggerakkan perekonomian daerah.

“Kami sangat menyambut baik kegiatan seperti ini. Banyak orang bisa ter-influence untuk mengikuti jejak teman-teman sebagai influencer pariwisata,” ujar Danang.

Ia menjelaskan, dukungan pemerintah daerah pada kegiatan perdana ini diwujudkan melalui kehadiran sebagai narasumber, khususnya terkait pengelolaan konten visual di organisasi perangkat daerah (OPD).

 Danang juga menyinggung tantangan pengelolaan konten digital di media sosial, termasuk maraknya konten negatif yang mudah viral.

“Kami harus menjadi jembatan penengah. Pengelolaan wisata di Bantul mayoritas berbasis masyarakat, sehingga kami berupaya menghadirkan informasi yang berimbang dan valid,” jelasnya.

Terkait data kunjungan wisata, Danang mengakui masih terdapat keterbatasan dalam membedakan wisatawan nusantara dan mancanegara di destinasi yang dikelola pemerintah daerah. Namun, pencatatan yang lebih detail justru banyak dilakukan di desa wisata.

General Manager Greenhouse Boutique Hotel Yogyakarta, Vivi Elizabeth, mengatakan bahwa dukungan terhadap kegiatan ini sejalan dengan komitmen hotel dalam menerapkan konsep eco-conscious dan sustainability tourism.

“Greenhouse memiliki konsep green hotel, dan salah satu prinsipnya adalah berkolaborasi dengan komunitas, akademisi, seniman, dan UMKM. Ini bukan sekadar administrasi, tapi sudah menjadi budaya kami,” ungkap Vivi.

Ia menyebutkan, tingkat okupansi Greenhouse Boutique Hotel secara year to date berada di kisaran 78 persen, meskipun sempat mengalami penurunan pada beberapa bulan tertentu di tahun sebelumnya.

Sebagai informasi, pada tahun 2025 Greenhouse Boutique Hotel masuk dalam lima besar nominasi Wonderful Indonesia Award kategori Sustainability Hotel Bintang 4 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata.

“Empat fokus utama sustainability kami adalah manajemen, dampak sosial dan ekonomi, pelestarian budaya, serta konservasi lingkungan. Semua ini sudah kami jalankan sejak beberapa tahun lalu,” jelasnya.

Vivi juga menyoroti tren global pariwisata berkelanjutan yang terus meningkat.

“Berdasarkan laporan sustainability Booking.com 2025, lebih dari 75 persen wisatawan global mulai memilih pariwisata berkelanjutan dan berdampak sosial. Ini membuktikan bahwa pasar tersebut nyata dan terus berkembang,” tutupnya.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *