INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Yogyakarta melibatkan pemuda dan pelajar dalam Program Pemilihan Duta Demokrasi Kota Yogyakarta Tahun 2026. Program ini menjadi upaya strategis Pemerintah Kota Yogyakarta untuk meningkatkan kualitas demokrasi sekaligus mendorong partisipasi politik generasi muda.
Kepala Bidang Politik Dalam Negeri dan Organisasi Kemasyarakatan (Poldagri Ormas) Bakesbangpol Kota Yogyakarta, Polana Setiya Hati, mengatakan generasi muda memiliki peran krusial sebagai pilar demokrasi dan pembangunan. Hal itu disampaikan dalam jumpa pers Pemilihan Duta Demokrasi 2026 di Ruang Rapat Lantai 1 Diskominfosan Kota Yogyakarta.
Berdasarkan data kependudukan Kota Yogyakarta tahun 2024, sebanyak 44,5 persen penduduk berada pada rentang usia 15–40 tahun. Namun, hasil kajian Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Bakesbangpol Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa tingkat partisipasi politik generasi muda pada Pilkada 2024 masih belum optimal.
“Generasi muda ini jumlahnya besar dan sangat krusial sebagai pilar demokrasi sekaligus pilar pembangunan. Tetapi fakta di lapangan menunjukkan masih banyak yang belum menggunakan hak pilihnya. Ini menjadi tantangan sekaligus panggilan bagi kami,” ujar Polana. Rabu (28//2026).
Merespons kondisi tersebut, maka dihadirkan Duta Demokrasi 2026 dengan konsep baru melalui reformulasi yang lebih komprehensif. Tahun ini, Duta Demokrasi dibagi ke dalam dua unsur utama, yakni Unsur Wilayah (Kewilayahan) dan Unsur Sekolah.
Unsur Wilayah diisi oleh pemuda-pemudi terbaik dari 14 kemantren di Kota Yogyakarta melalui proses seleksi terbuka, dengan target 16 Duta Demokrasi. Sementara itu, Unsur Sekolah diwakili oleh pengurus Forum Komunikasi Pengurus OSIS (FKPO) dari 15 SMA/SMK sederajat di Kota Yogyakarta.
Pembagian unsur tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan edukasi demokrasi, baik di lingkungan masyarakat maupun satuan pendidikan.
“Kami ingin Duta Demokrasi tidak hanya menjadi simbol seremonial, tetapi benar-benar berperan sebagai edukator, motivator, mediator aspirasi, serta agen anti-hoaks di lingkungan masing-masing,” jelas Polana.
Dalam pelaksanaannya, program ini menggandeng berbagai pihak yang konsen terhadap isu demokrasi dan inklusi, mulai dari organisasi kepemudaan, komunitas advokasi, hingga lembaga disabilitas.

Kolaborasi lintas elemen ini bertujuan memperluas literasi demokrasi serta memastikan nilai-nilai demokrasi dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan dan marjinal.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kota Yogyakarta dalam membangun demokrasi yang inklusif, partisipatif, dan berkeadilan.
Pendaftaran Duta Demokrasi Unsur Wilayah telah dibuka sejak 19 Januari 2025 dan akan ditutup pada 3 Februari 2026. Adapun syarat utama peserta meliputi:
- Berdomisili, bersekolah, atau berkuliah di Kota Yogyakarta
- Berusia 17–40 tahun
- Memiliki rekam jejak dalam organisasi sosial kemasyarakatan
Proses seleksi dilakukan secara daring melalui pengisian formulir, unggah CV, esai, serta akun media sosial sebagai bagian dari penilaian dan verifikasi jejak digital peserta.
Salah satu komponen penilaian utama adalah esai bertema “Kontribusiku untuk Demokrasi Kota Yogyakarta”, yang menjadi tolok ukur komitmen dan gagasan peserta terhadap penguatan demokrasi lokal.
Dari seluruh pendaftar, Bakesbangpol Kota Yogyakarta akan menyeleksi maksimal 32 peserta untuk mengikuti tahap wawancara mendalam. Selanjutnya, para Duta Demokrasi terpilih dijadwalkan akan dikukuhkan pada 13 Februari 2026 di Balai Kota Yogyakarta.
Meski bersifat relawan dan tidak menerima honorarium, para Duta Demokrasi akan mendapatkan berbagai penguatan kapasitas, seperti pendidikan politik, forum diskusi, serta pelibatan aktif sebagai narasumber dalam kegiatan edukasi demokrasi di sekolah maupun masyarakat.
Menurut Polana, Program Duta Demokrasi merupakan bentuk investasi sosial jangka panjang bagi Kota Yogyakarta.
“Harapannya, nilai-nilai demokrasi seperti keadilan, kesetaraan, kejujuran, serta anti-kekerasan dapat terinternalisasi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh generasi muda,” pungkasnya.(*)
Penulis : Elis
