INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, melakukan rangkaian kunjungan kerjanya di Yogyakarta dengan menggelar aksi lingkungan bertajuk “Merawat Pertiwi” di kawasan Embung Giwangan, Senin (16/2).
Dalam aksi tersebut, Hasto bersama jajaran DPD dan DPC PDIP Yogyakarta menanam berbagai bibit pohon, mulai dari Kepel yang merupakan identitas flora DIY, hingga Tabebuya dan aneka pohon buah-buahan.
Kegiatan ini menjadi simbol politik hijau PDIP yang memadukan kepedulian lingkungan, nilai kebudayaan, dan sikap tegas terhadap isu-isu kemanusiaan global. Hal itu disambut antusias oleh pimpinan daerah, di antaranya Ketua DPD PDIP DIY, Nuryadi, Ketua DPC PDIP Kota Yogyakarta, Eko Suwanto, serta Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo yang didampingi Wakil Wali Kota, Wawan Harmawan.
“Aji Pancasona itu kekuatannya berasal dari bumi. Pesan moralnya jelas: jika kita merawat bumi, maka bumi akan menghidupi kita. Namun jika kita mengkhianatinya, bumi bisa membelah dan menciptakan kesengsaraan,” ujar Hasto pada keterangan, dikutip Senin (18/2/2025).
Menurutnya, langkah tersebut merupakan strategi kebudayaan partai untuk melawan ego kapitalisme yang kerap mengeksploitasi alam demi kepentingan elektoral jangka pendek.
Dalam arahannya di Grha Budaya, Hasto mengaitkan praktik politik dengan falsafah Jawa. Ia mengutip kisah Subali yang memperoleh Aji Pancasona, kekuatan yang berasal dari bumi karena cinta dan pengabdiannya terhadap alam.
“Aji Pancasona mengajarkan bahwa jika kita merawat bumi, maka bumi akan menghidupi kita. Tetapi jika kita mengkhianatinya, bumi bisa membelah dan menciptakan kesengsaraan,” ujar Hasto.
Pesan tersebut, kata Hasto, relevan dengan tantangan lingkungan, mulai dari krisis iklim, kerusakan ekosistem, hingga persoalan sampah perkotaan yang masih menjadi pekerjaan rumah di Kota Pelajar.
Hasto juga membagikan kisah keseharian Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri dalam menjaga kelestarian lingkungan. Ia menyebut Megawati selalu mengumpulkan biji buah-buahan dari setiap rapat untuk disemai kembali, memanfaatkan sisa air kopi tamu sebagai pupuk organik, hingga menggunakan botol plastik bekas sebagai wadah pembenihan.
“Hal-hal kecil tapi fundamental inilah yang harus dicontoh kader PDIP, terutama di Yogyakarta yang masih bergulat dengan persoalan sampah,” katanya.
Menanggapi isu soal sampah, Hasto memberi instruksi khusus kepada Wali Kota Yogyakarta untuk memperkuat tata kelola sampah berbasis teknologi bakteri pengurai, agar sungai-sungai di kota ini terbebas dari limbah plastik. Ia menegaskan, ciri kader PDIP sejati adalah kesediaan berhenti sejenak memungut sampah plastik yang ditemui di jalan.
Usai aksi tanam pohon, Hasto menyampaikan sikap politik luar negeri PDIP terkait konflik Palestina.
Ia mendorong pemerintah Indonesia mengedepankan penyelesaian konflik melalui forum resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sekaligus mengkritisi wacana keterlibatan Presiden Prabowo Subianto dalam Board of Peace yang diprakarsai Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump.
Menurut Hasto, diplomasi Indonesia harus berpijak pada Pancasila, khususnya sila kemanusiaan yang mengandung semangat internasionalisme dan persaudaraan dunia.
“Cita-cita Bung Karno adalah Piagam PBB yang dirombak, to build the world anew. Pancasila tidak mengenal penjajahan dan pengisapan,” tegasnya.
Ia menilai mekanisme hak veto di PBB merupakan warisan Perang Dunia Kedua yang kerap menciptakan ketidakadilan global, termasuk dalam penyelesaian konflik Timur Tengah.
Karena itu, Indonesia didorong mengambil peran kepemimpinan global untuk mereformasi sistem tersebut bersama negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
Hasto menegaskan bahwa penyelesaian konflik Timur Tengah tanpa melibatkan Palestina tidak akan berjalan efektif. PDIP, kata dia, konsisten mendorong solusi damai melalui forum multilateral yang inklusif dan adil.
“Tugas Indonesia adalah menggalang solidaritas bangsa-bangsa melalui PBB, bukan menjadi subordinat kepentingan geopolitik negara besar,” tandasnya.(*)
Penulis : Elis
