Headline Yogyakarta

Selama Ramadan, KRT Purbokusumo Soroti Isu Keamanan dan Provokasi di Medsos

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Suasana Kota Yogyakarta selama Ramadan tahun ini terlihat relatif kondusif. Aktivitas masyarakat berjalan normal, ibadah berlangsung khusyuk, dan kehidupan sosial tampak tertib. Namun di balik ketenangan tersebut, isu keamanan justru ramai berseliweran di media sosial.

Hal itu menjadi perhatian sosok Abdi Dalem Kraton Yogyakarta dan juga Pimpinan Laskar Obar Abir, KRT Purbokusumo, atau yang dikenal sebagai Romo Acun Hadiwidjojo. Ia menilai dinamika di dunia maya sering kali berbeda dengan situasi nyata di lapangan.

“Jogja kelihatannya adem ayem. Tapi di media sosial, isu soal pendatang dan keamanan ini ramai sekali. Ini yang perlu kita sikapi dengan bijak,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di Ndalem Notoprajan, kawasan Kraton Yogyakarta. Dikutip, Sabtu (21/2/2026).

Romo Acun menegaskan bahwa Yogyakarta adalah kota pendidikan yang menerima ribuan mahasiswa dari berbagai daerah setiap tahunnya. Keberadaan pendatang, menurutnya, merupakan bagian dari hubungan dan kerja sama antar pemerintah daerah.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang menyudutkan kelompok tertentu.

“Pendatang datang ke Jogja untuk belajar dan kuliah. Kalau ada persoalan hukum atau ketertiban, itu ranah aparat berwenang. Jangan sampai masyarakat bertindak sendiri,” tegasnya.

Menurutnya, apabila terjadi tindakan yang meresahkan dan mengganggu ketenteraman warga, langkah pertama yang harus ditempuh adalah melapor ke kepolisian, mulai dari polsek, polres hingga polda.

Jika memang tidak ada tindak lanjut, barulah masyarakat dapat menyampaikan aspirasi atau pengaduan ke pemerintah daerah.

“Kalau memang terbukti membuat kerusuhan dan meresahkan, ya solusinya bisa diproses hukum dan dipulangkan ke daerah asalnya. Tapi semuanya harus lewat prosedur resmi,” tambahnya.

Waspadai Provokasi dan Akun Palsu

Romo Acun yang aktif memantau situasi melalui jaringan radio amatir ORARI dan media sosial mengaku kerap menemukan akun-akun anonim yang memicu perdebatan dan provokasi.

Ia menyebut, sebagian unggahan di media sosial kerap memunculkan isu bernuansa SARA yang berpotensi memperkeruh suasana.

“Kita jangan sampai terjebak provokasi. Kalau ada gesekan atau perkelahian, laporkan ke polisi. Jangan sampai karena emosi, masalahnya justru melebar antar daerah,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa tindakan anarkis atau perlawanan langsung terhadap kelompok tertentu hanya akan memperpanjang konflik dan merusak citra Yogyakarta sebagai kota yang ramah dan toleran.

Dalam keterangannya, Romo Acun juga membedakan antara gesekan sosial dengan fenomena klitih yang selama ini menjadi perhatian publik.

Untuk merespons maraknya kekerasan jalanan, ia mendirikan laskar mandiri bernama Obar Abir sejak 2021. Komunitas ini beranggotakan sekitar 30 orang yang secara swadaya melakukan ronda malam di wilayah-wilayah rawan.

“Obar Abir ini gerakan mandiri, tidak ada hubungan dengan Kraton dalam bentuk apa pun. Fokus kami membantu aparat berwenang menjaga keamanan dan menangkap pelaku klitih,” jelasnya.

Menurutnya, klitih merupakan bentuk kenakalan remaja yang sudah meluas dan menjadi tanggung jawab bersama untuk ditangani secara serius bersama aparat keamanan.

“Ini berbeda dengan isu pendatang. Jangan dicampuradukkan,” katanya.

Imbau Pengusaha Hiburan Malam Hormati Ramadan

Selain menyoroti isu keamanan, Romo Acun juga menyampaikan imbauan kepada para pengusaha hiburan malam di Yogyakarta agar menghormati bulan Ramadan.

Ia mengaku memiliki usaha kafe dan panggung hiburan, namun memilih menutup operasionalnya satu minggu sebelum Ramadan hingga satu minggu setelah Lebaran.

“Saya berharap teman-teman pengusaha hiburan malam bisa bertoleransi. Minimal ada penyesuaian. Jangan sampai ada musik keras keluar dan dianggap tidak menghormati bulan puasa,” ujarnya.

Ia juga meminta aparat memastikan tidak ada praktik perjudian dalam bentuk apa pun selama Ramadan, serta mengimbau masyarakat yang memiliki hobi tertentu seperti sabung ayam atau perjudian lainnya untuk menahan diri selama bulan suci.

Sebagai abdi dalem yang mengaku bertugas menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan, Romo Acun berharap seluruh elemen masyarakat memahami prosedur penyelesaian masalah.

“Saya hanya abdi dalem. Tugas saya melindungi kraton dan membantu menjaga keamanan Yogyakarta. Kalau ada masalah, tempuh jalur resmi,” katanya.

Ia menutup pernyataannya dengan mengajak warga untuk menjaga suasana Ramadan tetap damai dan kondusif.

“Jogja ini rumah bersama. Mari kita jaga supaya tetap adem ayem, nyaman untuk warga dan pendatang,” pungkasnya.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *