Headline Yogyakarta

Obar-Abir Audiensi ke DPRD DIY, Bahas Isu Keamanan di Yogyakarta

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Laskar Obar-Abir melakukan audiensi dengan DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) guna membahas situasi keamanan yang belakangan menjadi sorotan publik.

Pertemuan tersebut diterima langsung oleh Ketua DPRD DIY periode 2024–2029 dari Fraksi PDI Perjuangan, Nuryadi, bersama Ketua Komisi D DPRD DIY, dari fraksi PDIP, RB Dwi Wahyu dan jajaran Staff Dewan.

Audiensi ini dipimpin oleh Abdi Dalem Keluarga Kraton Yogyakarta sekaligus Pimpinan Obar-Abir, KRT Purbokusumo, yang akrab disapa Romo Acun Hadiwidjojo. Dalam pertemuan tersebut, Obar-Abir menyampaikan aspirasi dan kegelisahan masyarakat terkait sejumlah peristiwa yang dinilai mengganggu ketertiban dan kenyamanan di Yogyakarta.

Romo Acun menyampaikan bahwa pihaknya menerima berbagai informasi dari masyarakat terkait kerusuhan dan gesekan sosial yang terjadi di sejumlah titik. Ia menekankan bahwa Obar-Abir tidak ingin bertindak gegabah tanpa kejelasan hukum dan koordinasi dengan pemerintah maupun aparat keamanan.

“Kami tidak ingin salah langkah. Kami ingin tahu apakah ada kerja sama antar daerah terkait masyarakat pendatang di Yogyakarta, serta bagaimana mekanisme penanganannya,” ujarnya. Rabu (26/2/2026).

Menurutnya, di media sosial beredar narasi bahwa sejumlah laporan masyarakat ke Polsek, Polres, hingga Polda tidak mendapatkan tindak lanjut. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu ketidakpercayaan publik terhadap aparat.

Obar-Abir sendiri selama ini aktif melakukan ronda malam dan pengawasan lingkungan secara swadaya. Romo Acun menegaskan bahwa kegiatan tersebut murni inisiatif masyarakat tanpa dukungan dana dari pihak mana pun.

“Kami tidak mencari popularitas, tidak ada bayaran. Semua patungan. Kami hanya ingin Jogja aman dan nyaman,” tegasnya.

Selain isu keamanan di lapangan, Obar-Abir juga menyoroti derasnya arus informasi di media sosial yang dinilai kerap memperkeruh situasi. Banyak akun anonim atau abal-abal yang menyebarkan narasi provokatif dan sulit dilacak.

Romo Acun menyebut, kondisi ini menimbulkan kesan seolah-olah Yogyakarta sedang menjadi target untuk diadu domba atau “diobok-obok” melalui isu-isu tertentu.

Ia pun meminta DPRD DIY dapat menjembatani komunikasi antara masyarakat dan aparat keamanan agar tidak terjadi kesalahpahaman maupun benturan di lapangan.

Menanggapi aspirasi tersebut, Nuryadi menyampaikan apresiasi atas inisiatif Obar-Abir dalam membantu menjaga kondusivitas wilayah.

“Jogjakarta memang tidak dalam kondisi nol gangguan. Masih ada gejolak kriminal atau kenakalan remaja. Tapi semua harus disikapi dengan komunikasi dan sinergi,” ujarnya.

Nuryadi menegaskan bahwa Yogyakarta terbuka bagi siapa pun yang datang untuk belajar dan berkarya. Namun, setiap orang tetap wajib menghormati aturan dan nilai-nilai lokal yang berlaku.

“Silakan datang sebagai keluarga kami. Tapi bumi dipijak, langit dijunjung. Ada aturan yang tidak boleh dilanggar,” tegasnya.

Terkait keluhan tentang laporan masyarakat yang tidak ditindaklanjuti, Nuryadi menyatakan hal tersebut akan menjadi perhatian DPRD DIY.

“Kalau aparat tidak menjalankan tugas dengan baik, bisa terjadi benturan di masyarakat. Ini akan kami sampaikan kepada pihak terkait,” katanya.

Ia juga menilai komunitas seperti Obar-Abir seharusnya mendapatkan pembinaan dari aparat keamanan agar langkah-langkah pengamanan yang dilakukan tidak dianggap melampaui kewenangan.

“Teman-teman ini ingin membantu. Mestinya dibina, diberi pemahaman cara yang benar supaya tidak salah paham,” ujarnya.

Menurutnya, pembinaan dan komunikasi yang baik akan memperkuat stabilitas keamanan di Yogyakarta, sekaligus mencegah potensi gesekan sosial.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak sepakat bahwa menjaga keamanan dan ketertiban bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.

Nuryadi menegaskan, karakter masyarakat Yogyakarta yang dikenal santun dan mengedepankan dialog harus tetap dijaga. Ia berharap siapa pun yang tinggal atau belajar di DIY dapat menyesuaikan diri dengan budaya lokal.

“Kalau benar, tidak ada yang perlu ditakuti. Kami tidak mungkin merusak Jogja sendiri,” tandasnya.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *