INTENS PLUS – JAKARTA. Kreator kuliner sekaligus chef konten ternama, Bobon Santoso, resmi mencetak sejarah dengan memecahkan Guinness World Records dalam kategori Most Servings of Lontong Cap Go Meh Served in 8 Hours.
Sebanyak 5.054 porsi Lontong Cap Go Meh berhasil disajikan dalam waktu delapan jam pada rangkaian puncak Festival Imlek Nasional 2026 yang digelar di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Sabtu (28/2/2026).
Rekor ini tak hanya menjadi pencapaian pribadi Bobon Santoso, tetapi juga momentum penting bagi kuliner tradisional Indonesia di panggung dunia.
Sejak pagi hari, ribuan masyarakat dari berbagai latar belakang sudah memadati Lapangan Banteng untuk menyaksikan langsung proses memasak raksasa yang dipimpin Bobon. Aroma opor ayam, kuah gurih santan, dan bumbu khas Nusantara memenuhi area acara.
Proses memasak dilakukan secara terbuka, melibatkan tim besar yang terdiri dari pelaku UMKM, komunitas kuliner, serta relawan. Setiap porsi Lontong Cap Go Meh disiapkan dengan standar kualitas dan kebersihan yang ketat demi memenuhi verifikasi rekor dunia.
Sorak sorai pengunjung pecah saat pengumuman resmi menyatakan angka 5.054 porsi telah tercapai dan tercatat sebagai rekor dunia baru.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menegaskan bahwa kegiatan makan besar ini memiliki makna lebih dari sekadar memecahkan rekor.
“Kegiatan makan besar ini memberi kesempatan bagi pelaku UMKM, kreator konten, dan komunitas lokal untuk menampilkan inovasi sambil menjaga tradisi kuliner yang menjadi bagian dari kekayaan ekonomi kreatif Indonesia. Karena perayaan Imlek bertepatan dengan Ramadan, hidangan berupa Lontong Cap Go Meh menjadi simbol akulturasi kuliner Tionghoa dan tradisi Ramadan Indonesia,” ujarnya pada keterangan, Minggu (1/3/2026).
Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, yang menyatakan dukungannya terhadap kolaborasi lintas sektor guna memperluas dampak budaya kuliner Indonesia hingga tingkat global.
Perayaan Imlek yang tahun ini berdekatan dengan Ramadan menjadikan Lontong Cap Go Meh sebagai simbol harmoni lintas budaya. Hidangan ini merupakan bentuk adaptasi masyarakat Tionghoa di Indonesia yang memadukan tradisi Cap Go Meh dengan cita rasa khas Nusantara seperti opor ayam, sambal goreng ati, telur pindang, dan sayur labu.
Iren menegaskan, posisi kuliner sebagai salah satu the new engine of growth dalam ekosistem ekonomi kreatif nasional.
Menurut Irene, partisipasi ribuan warga menunjukkan bahwa ekonomi kreatif tidak hanya bertumpu pada industri besar, melainkan tumbuh dari budaya, kreativitas, dan keterlibatan masyarakat.
“Nilai kebersamaan, gotong‑royong, dan apresiasi terhadap budaya kuliner terlihat nyata dalam partisipasi masyarakat, hal itu menujukkan bahwa ekonomi kreatif tumbuh dari kreativitas, budaya, dan partisipasi publik, bukan hanya dari industri besar semata,” kata Iren.
Bobon Santoso: Dari Konten Kreator ke Panggung Dunia
Keberhasilan ini semakin mengukuhkan Bobon Santoso sebagai figur kreator kuliner yang mampu mengangkat masakan tradisional Indonesia ke level internasional.
Ia dikenal dengan aksi memasak dalam porsi besar dan eksplorasi kuliner ekstrem, Bobon konsisten menghadirkan konten yang menggabungkan hiburan, edukasi, dan promosi budaya.
Rekor 5.054 porsi Lontong Cap Go Meh menjadi bukti bahwa konten kreator juga memiliki peran strategis dalam diplomasi budaya dan promosi ekonomi kreatif.



(*)
Penulis : Elis
