Edukasi Yogyakarta

DTI Dorong Gerakan Massal Seperti Kopi untuk Angkat Daya Saing Teh Nasional

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Dewan Teh Indonesia (DTI) mendorong lahirnya gerakan massal seperti yang terjadi pada komoditas kopi guna mengangkat daya saing teh nasional. Upaya ini dinilai penting untuk memperkuat posisi teh Indonesia di pasar domestik maupun global yang saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari dominasi produk impor hingga lemahnya branding.

Ketua Umum DTI, Iriana Ekasari, mengatakan bahwa industri teh Indonesia membutuhkan kolaborasi luas dari berbagai pihak, termasuk pelaku usaha, komunitas, hingga generasi muda untuk menggerakkan ekosistem teh dari hulu ke hilir.

“Kopi bisa booming karena banyak pihak terlibat dalam pemberdayaan petani dan pengembangan produknya. Teh juga perlu gerakan massal seperti itu,” ujarnya usai menghadiri jumpa pers “Jogja Food & Beverage Expo 2026, Jogja Printing Expo 2026, dan Jogja Pack & Process Expo 2026” di Yogyakarta, Jumat (27/3/2026).

Iriana mengungkapkan bahwa nilai, ekspor teh Indonesia saat ini berada di kisaran 54-57 juta dolar AS, namun di sisi lain impor teh masih cukup besar, mencapai sekitar 30 juta dolar AS. Kondisi ini membuat nilai ekonomi bersih yang dinikmati Indonesia relatif terbatas.

“Kalau kita ekspor sekitar 54 juta dolar dan impor 30 juta dolar, sisanya tinggal sekitar 20 jutaan dolar yang benar-benar kita rasakan,” jelasnya.

Dari sisi volume, impor teh Indonesia mencapai sekitar 13.000 hingga 14.000 ton, yang berasal dari berbagai negara seperti Thailand, Kenya, Malaysia, dan Vietnam.

DTI juga menyoroti kondisi pasar dalam negeri, khususnya sektor ritel dan horeka (hotel, restoran, dan kafe), yang banyak dikuasai oleh merek-merek luar negeri. Hal ini tidak lepas dari perjanjian global yang dimiliki oleh jaringan hotel dan kafe internasional.

“Hotel Chains dan kafe global biasanya sudah punya kesepakatan internasional, jadi mereka menggunakan produk dari brand luar. Ini yang ingin kita dorong agar teh lokal bisa menjadi alternatif,” katanya.

DTI mendorong agar pelaku industri tetap membuka ruang bagi penggunaan teh lokal, meskipun menggunakan merek global.

“Silakan pakai merek mereka, tapi kalau bisa bahan bakunya teh Indonesia. Ini penting untuk kesejahteraan ekonomi bersama,” tambahnya.

Lebih lanjut, Iriana menekankan pentingnya hilirisasi industri teh, yakni mendorong ekspor dalam bentuk produk jadi bermerek, bukan sekadar bahan baku.

Saat ini, ekspor teh Indonesia masih didominasi oleh teh hitam curah (bulk) yang dikelola oleh BUMN perkebunan seperti PTPN. Sementara itu, ekspor teh hijau masih terbatas dan salah satu pasarnya adalah Thailand.

Namun, sejumlah pelaku usaha mulai menembus pasar global dengan produk teh kemasan bermerek, bahkan telah dipasarkan hingga ke Amerika Serikat dan Wina, Austria.

“Produk yang sudah jadi, dikemas dengan branding dan storytelling, justru lebih diapresiasi pasar luar negeri,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan storytelling seperti kisah petani, pemberdayaan perempuan (women empowerment), serta aspek keberlanjutan (sustainability) menjadi nilai tambah yang diminati konsumen global.

Untuk memperkuat daya saing, DTI tengah mengembangkan Standar Teh Indonesia (STI) yang mencakup seluruh proses produksi, mulai dari budidaya hingga pengolahan.

“Mutu teh itu dimulai dari kebun. Jadi praktik agronomi, pengelolaan lingkungan, hingga proses produksi harus distandarisasi,” tegasnya.

Selain itu, DTI juga tengah menyiapkan branding khusus untuk menandai produk teh asli Indonesia 100 persen. Branding ini akan dilengkapi dengan logo Jatayu sebagai identitas nasional.

“Kalau negara lain punya identitas seperti logo singa di Sri Lanka, kita juga harus punya. Ini untuk membangun kebanggaan terhadap teh Indonesia,” ujarnya.

Indonesia sejatinya memiliki potensi besar sebagai produsen teh dunia. Kondisi alam yang mendukung membuat tanaman teh tumbuh optimal sejak era kolonial.

Namun, Iriana mengungkapkan bahwa luas perkebunan teh terus mengalami penurunan. Dari sekitar 300 ribu hektare pada masa kolonial Belanda, kini hanya tersisa sekitar 97 ribu hektare akibat alih fungsi lahan.

“Padahal alam kita sangat cocok untuk teh. Ini tantangan yang harus kita hadapi bersama,” katanya.

DTI optimistis bahwa kualitas teh Indonesia mampu bersaing dengan produk global. Bahkan, beberapa jenis teh lokal disebut memiliki karakter rasa yang tidak kalah dengan teh premium dunia seperti Darjeeling dari India maupun Purple Tea dari Kenya.

Contohnya adalah teh dari kawasan Tambi, Wonosobo, yang memiliki sejarah panjang sejak abad ke-19 dan masih menyimpan tanaman teh tua hingga kini.

“Teh kita punya karakter kuat dan unik. Tinggal bagaimana kita mengemas dan memperkenalkannya ke pasar,” ujarnya.

Selain penguatan di sisi produksi, edukasi konsumen juga menjadi perhatian DTI. Masyarakat didorong untuk lebih mengenal dan mencintai teh lokal, termasuk memahami cara penyeduhan yang benar.

Iriana menyarankan penggunaan air dengan kandungan mineral rendah, seperti air pegunungan, agar manfaat antioksidan dalam teh tidak berkurang.

“Kalau airnya terlalu banyak mineral, antioksidan dalam teh justru digunakan untuk menetralisir mineral tersebut, bukan untuk tubuh kita,” jelasnya.

Dengan berbagai upaya yang tengah dilakukan, mulai dari gerakan massal, standarisasi, hingga branding nasional, DTI optimistis teh Indonesia dapat kembali berjaya.

“Yang penting kita punya identitas, kualitas terjaga, dan gerakan bersama. Kalau itu dilakukan, teh Indonesia bisa bangkit seperti kopi,” pungkas Iriana.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *