INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Komisi D DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan Kunjungan Dalam Daerah (KDD) ke Museum Ullen Sentalu. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya monitoring pengelolaan, pelestarian, serta penguatan fungsi edukasi dan kurasi budaya museum di DIY.
Ketua Komisi D DPRD DIY, RB. Dwi Wahyu B., menjelaskan bahwa kegiatan ini sekaligus bertujuan untuk memperkaya materi dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang museum.
Menurutnya, museum memiliki peran strategis yang tidak hanya terbatas sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan advokasi kebudayaan.
“Keprihatinan kami saat ini adalah belum adanya kolaborasi yang masif antara OPD seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kebudayaan, dan Dinas Pariwisata dalam mendukung peran museum. Padahal museum bisa menjadi ruang belajar yang penting bagi generasi muda,” ujarnya pada keterangan, Senin (13/4/2026).
Ia menambahkan, pemahaman terhadap sejarah menjadi fondasi penting dalam membentuk cara pandang dan arah hidup generasi muda, sehingga peran museum harus semakin diperkuat.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Komisi D DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai. Ia menegaskan bahwa kunjungan ini juga diarahkan untuk memperkuat konsep “Jogja sebagai City of Museum”.
Menurut Anton, pengelolaan museum, khususnya museum swasta, perlu mendapatkan dukungan kebijakan yang tepat agar mampu berkembang secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi nyata terhadap sektor pariwisata.
“Ke depan, kami berharap Raperda ini dapat menjadi payung bagi seluruh museum, baik milik pemerintah maupun swasta, sehingga mampu meningkatkan daya tarik wisata di DIY, tidak hanya destinasi populer seperti Keraton Yogyakarta, Taman Sari, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan, tetapi juga museum dan potensi budaya lainnya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Museum Ullen Sentalu, KRHT Daniel Haryodiningrat, menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pengelola museum dalam mengoptimalkan potensi kebudayaan Yogyakarta.
“Kami berharap kerja sama yang terjalin dapat berjalan secara konkret dan berkelanjutan, sehingga Yogyakarta semakin kuat sebagai kota budaya sekaligus kota pariwisata,” ungkapnya.
Dalam sesi diskusi, pihak pengelola menjelaskan bahwa museum saat ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang penyimpanan koleksi, tetapi juga sebagai lembaga edukasi yang menghidupkan nilai-nilai budaya melalui berbagai program, seperti konsep living heritage.
“Museum berada pada dua ranah sekaligus, yakni sebagai institusi edukasi dan bagian dari industri pariwisata,” ucapnya.(*)
Penulis : Elis
