Seni Budaya Yogyakarta

HUT Pemkot Yogyakarta ke 77: Napak Tilas sebagai Renungan Spirit Leluhur

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Kemeriahan HUT Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta ke-77 dirayakan diberbagai sudut Kota Pelajar. Salah satu semarak yang dihadirkan adalah napak tilas yang dilakukan oleh ribuan Aparatur Sipil Negeri (ASN) Pemkot Yogyakarta.

Penjabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta Sugeng Purwanto mengatakan, kegiatan napak tilas ini merupakan pengingat bahwa rangkaian gedung atau area perkantoran bukan sekadar bangunan semata. Namun juga memiliki ‘spirit’ luhur yang terkandung di dalamnya. 

Sugeng bilang, Pemkot Yogyakarta juga memiliki peran besar terhadap pembangunan. Peran ini tentunya tidak terlepas dari sejarah yang ada dalam masa pemerintahan sejak tahun 1947.

“Alur perjalanan sejarah Balai Kota ini kiranya menjadi hiasan sejarah yang tak mungkin terlupa bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Sehingga generasi sekarang akan terus bekerja dengan semangat, penuh dedikasi dan membangun Kota Yogyakarta dengan dasar budaya adiluhung,” jelas Sugeng pada wartawan, Kamis (6/6/2024).

Sugeng juga memberikan pesan terhadap seluruh ASN di Pemkot Yogyakarta untuk selalu menjaga integritas dan kolaborasi antar OPD agar dalam memberi pelayanan yang terbaik kepada masyarakat terus berjalan dengan baik.

“Semoga melalui kegiatan ini seluruh elemen baik masyarakat dan ASN di Pemkot Yogyakarta untuk selalu menjaga semangat, jiwa kebersamaan, koordinasi, sifat handarbeni, bertanggung jawab, serta bekerja dengan profesionalisme di setiap kesempatan terutama bagi generasi muda yang menjadi penerus pembangunan khususnya di Kota Yogya,”ungkapnya.

Acara napak tilas yang masuk dalam rangkai kegiatan memperingati HUT Pemkot Yogyakarta ke-77, pun di bagi dalam tiga rute. Salah satunya, napak tilas yang dimulai dari Sasono Hinggil komplek Alun-alun Selatan yang dilepas oleh Pelaksana Tugas Harian (Plh) Asisten Perekonomian Pembangunan Pemkot Yogyakarta, Hari Wahyudi. Sasono Hinggil dipilih sebagai titik awal lantaran tempat tersebut menjadi pusat pemerintahan pertama Pemkot Yogyakarta tahun 1947-1952.

Hari menyatakan jalan santai napak tilas ini mengajak para ASN Pemkot Yogyakarta untuk memasuki lorong waktu kembali ke masa lalu dengan mengunjungi tempat-tempat yang pernah menjadi Kantor Pemkot Yogyakarta.

“Kita napak tilas dari awal mula Pemkot Yogyakarta yaitu di Sasono Hinggil,” ujar Hari.

Rombongan ASN napak tilas rute pertama ini mengenakan berbagai kostum tempo dulu. Ada yang memakai busana Gagrak Ngayogyakarta, berpakaian lurik dan mengenakan pakaian pejuang kemerdekaan. Hari mengungkapkan pemilihan kostum tempoe doeloe tersebut dipilih lantaran pada waktu itu para abdi negara belum memiliki seragam khusus.

“Jadi pada saat bertempat di sini (Sasono Hinggil) para abdi negara ini belum memiliki seragam yang resmi. Pakaiannya masih bebas (dengan) pakaian Jawa. Di Ndalem Poenkawan sudah mulai periode pertengahan mulai ada seragam. Di Pakualaman (seragam ASN) sudah mulai modern sampai Balai Kota,” jelasnya.

Rombongan napak tilas rute pertama dari Sasono Hinggil berjalan kaki menuju Ndalem Poenakawan yang menjadi kantor Pemkot Yogyakarta pada tahun 1952-1956. Rombongan pertama yang tiba di Ndalem Poenakawan itu lalu menyerahkan pataka berlogo Pemkot Yogyakarta kepada rombongan napak tilas rute kedua.

Setelah itu rombongan napak tilas kedua, melanjutkan perjalanan dari Ndalem Poenakawan ke Ndalem Kepatihan Pakualaman  dengan berjalan kaki. Rombongan napak tilas rute kedua dilepas oleh Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkot Yogyakarta Wirawan Haryo Yudho.

Rombongan yang mengikuti napak tilas rute kedua dari Ndalem Poenakawan hingga Ndalem Kepatihan Pakualaman menggunakan berbagai seragam ASN dan kostum. Mulai dari seragam ASN warna keki, seragam Korpri dengan membawa map hingga pakaian dinas lapangan. Selain itu juga membawa pernak pernik HUT ke-77 Pemkot Yogyakarta diiringi  tabuhan drum band maupun alat musik tabuh, angklung dan lainnya. Antusiasme juga ditunjukan dengan  teriakan yel-yel tiap rombongan.

Salah satu peserta napak tilas adalah Ratri yang merupakan Kepala UPT Penilaian Kompetensi di BKSDM.

“Kami ambil gagrak dan kontemporer menunjukkan semangat Pemkot Yogyakarta baik dari masa awal Pemkot berdiri, pertengahan, sampai sekarang kita menikmati kemegahan Pemkot Yogyakarta yang Insyaallah akan selalu juara dan akuntabilitasnya juara,” ujarnya.

Ratri menjelaskan, pihaknya memilih memadukan pakaian dengan gagrak tapi berdandan kontemporer. Inspirasinya, adalah kesian Ketoprak Limbung.

“Dengan dandan berlebihan, poin utamanya ketika kami dandan seperti ini bukan menunjukkan keberlebihan kami, tapi semangat kami pada Pemkot Yogyakarta,” lontarnya.(*)

Penulis : Fatimah Purwoko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *