INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sleman menggelar kegiatan sambang Industri Kecil Menengah (IKM) di wilayah Balecatur dan Mlangi, Kecamatan Gamping.
Kegiatan ini dilakukan untuk menyerap aspirasi sekaligus mengidentifikasi kendala dan tantangan yang dihadapi para pelaku usaha.
Ketua Dekranasda Sleman, Hj. Parmilah, S.E., mengatakan sambang IKM menjadi sarana pemerintah daerah untuk hadir langsung memberikan dukungan kepada pelaku usaha.
“Saya mengapresiasi IKM di wilayah Gamping. Beberapa produknya bahkan sudah menembus pasar nasional hingga internasional, seperti kerajinan limbah kayu untuk dekorasi rumah produksi DariKayu,” ujar Parmilah.
Parmilah melanjutkan, melalui kolaborasi dengan Disperindag Sleman, pihaknya berupaya mencari solusi dan langkah strategis guna meningkatkan daya saing produk IKM.
Selain itu, Parmilah juga menyoroti potensi besar produk konveksi dari Mlangi, Nogotirto, Gamping. Produk pakaian jadi hasil konveksi rumahan tersebut telah banyak dipasarkan di pasar tradisional, seperti Pasar Beringharjo, serta pusat oleh-oleh di kawasan Teras Malioboro.
Namun demikian, Parmilah mengungkapkan masih terdapat kendala yang hampir sama dihadapi para pelaku IKM, yakni keterbatasan modal usaha dan pemasaran. Kondisi ini dinilai berpengaruh terhadap kapasitas produksi dan perluasan pasar, terutama di era digital.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disperindag Sleman bersama Dekranasda akan melakukan pendampingan terpadu. Salah satunya melalui penguatan pemasaran digital bagi pelaku usaha, khususnya sentra konveksi di tiga wilayah tersebut.
“Di Pemkab Sleman tersedia dana penguatan modal bergulir hingga Rp100 juta. Dana ini diberikan berdasarkan rekomendasi, sebagai upaya meningkatkan dan memperkuat perekonomian IKM agar memiliki daya saing,” jelasnya.
Diketahui, sentra konveksi Mlangi saat ini memiliki sekitar 100 unit usaha rumahan yang mampu menyerap kurang lebih 500 tenaga kerja. Sebagian besar tenaga kerja berasal dari kalangan perempuan, sehingga berkontribusi langsung terhadap peningkatan pendapatan keluarga.
Sementara itu, Catur, pemilik usaha kerajinan limbah kayu DariKayu, membagikan pengalamannya saat menghadapi masa sulit pasca pandemi Covid-19.
Ia mengaku sempat tidak menerima pesanan selama 14 bulan, namun tetap mempertahankan produksi agar karyawan tetap bekerja.
Catur kemudian mulai menyasar pasar lokal melalui media sosial dengan jumlah pengikut lebih dari 80 ribu.
Meski membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun hingga pemasaran digital menghasilkan pendapatan stabil, langkah tersebut akhirnya mampu menutup biaya operasional usaha.
“Intinya kami konsisten mengunggah foto dan video proses produksi ke media sosial. Kekuatan kami adalah keyakinan untuk terus menjaga kualitas produk,” ungkap Catur.(*)
Penulis : Elis
