Entertainment Sorotan

Aurelie Moeremans Buka Luka Lama Lewat Buku Broken Strings, Ungkap Trauma Grooming Sejak Remaja

INTENS PLUS – JAKARTA. Aktris Aurelie Moeremans kembali menjadi sorotan publik setelah merilis buku memoar berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth. Buku yang dirilis secara gratis dalam versi bahasa Indonesia dan Inggris itu mengungkap kisah kelam masa remajanya yang disebut dipenuhi manipulasi, kontrol, dan kekerasan dari sosok pria dewasa yang dipanggil Bobby.

Melalui buku tersebut, Aurelie menceritakan bagaimana masa mudanya yang seharusnya penuh kebebasan justru direnggut oleh hubungan yang tidak sehat. 

Saat itu, Aurelie masih berusia 15 tahun, sementara sosok pria tersebut disebut jauh lebih dewasa dan berhasil membangun kontrol emosional serta psikologis terhadap dirinya.

Dalam Broken Strings, Aurelie membeberkan berbagai bentuk perlakuan tidak sehat yang dialaminya, mulai dari manipulasi emosional, kekerasan fisik, isolasi sosial, hingga kekerasan seksual. 

Ia juga menyoroti bagaimana proses grooming dilakukan secara bertahap hingga membuat dirinya terikat, takut, dan sulit melepaskan diri.

Memoar ini tidak hanya menggambarkan luka lama Aurelie, tetapi juga memperlihatkan proses panjangnya dalam memulihkan trauma, menemukan keberanian, dan menguatkan diri setelah bertahun-tahun memendam cerita tersebut.

Rilisnya Broken Strings sontak mendapat respons besar dari publik. Banyak pembaca menilai keberanian Aurelie sebagai langkah penting untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya hubungan manipulatif, terutama yang melibatkan anak di bawah usia dewasa.

Viralnya kisah Aurelie sekaligus kembali membuka diskusi luas tentang fenomena child grooming, yaitu upaya orang dewasa membangun kedekatan emosional dengan anak untuk tujuan manipulasi dan eksploitasi.

Pelaku grooming kerap datang dari lingkungan terdekat, bukan orang asing. Mereka biasanya menunjukkan perhatian berlebihan, memberi hadiah, melanggar batas sosial, melakukan sentuhan fisik tidak wajar, serta berusaha mendapatkan akses privat terhadap korban.

Kisah ini menjadi pengingat bagi orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di era digital ketika interaksi sosial semakin mudah dilakukan tanpa pengawasan.

Di sisi lain, dukungan publik untuk Aurelie terus berdatangan, termasuk dari kalangan artis. Presenter Hesti Purwadinata secara terbuka menyatakan empati dan dukungannya setelah membaca keseluruhan cerita dalam Broken Strings. 

Ia mengaku baru memahami betapa berat pengalaman yang harus dilalui Aurelie seorang diri di usia yang sangat muda.

Namun dukungan tersebut justru berbuntut ancaman. Aurelie mengungkapkan bahwa Hesti dan suaminya menerima pesan ancaman melalui media sosial dan WhatsApp setelah memberikan dukungan. 

Karena itu, Aurelie memutuskan untuk tidak lagi membagikan ulang unggahan dukungan untuk melindungi orang-orang yang berdiri di sisinya dari teror serupa.

Menurut Aurelie, ia tidak keberatan jika dirinya yang mendapatkan ancaman. Namun ia merasa tidak nyaman jika orang lain ikut diserang hanya karena menunjukkan solidaritas.

Di tengah ramainya diskusi publik, nama pesinetron Roby Tremonti ikut disorot setelah banyak narasi yang mengaitkan dirinya dengan kisah dalam buku tersebut. Merasa terusik, Roby akhirnya buka suara melalui siaran langsung di Instagram.

Roby mengaku telah diam selama bertahun-tahun, namun kini merasa disudutkan oleh berbagai tudingan dan isu KDRT yang disebut tidak memiliki bukti jelas. 

Ia bahkan menyebut siap menempuh jalur hukum apabila tudingan yang menyerangnya terus berlanjut. Roby juga menyinggung bahwa penulis buku tersebut tidak berada di Indonesia dan menyebut bahwa karya itu ditulis bukan secara murni.

Hingga sekarang, pihak Aurelie Moeremans belum memberikan konfirmasi mengenai identitas sosok Bobby yang disebut dalam buku Broken Strings. Kisah dalam buku tersebut disampaikan sebagai pengalaman pribadi Aurelie yang ia jalani saat masih remaja.

Kisah yang Menggugah Kesadaran Publik

Rilisnya Broken Strings tidak hanya memicu diskusi emosional, tetapi juga membuka ruang edukasi tentang kesehatan mental, hubungan yang sehat, serta perlindungan anak dari kekerasan berbasis relasi.

Banyak netizen dan publik figur menilai keberanian Aurelie sebagai langkah penting bagi para penyintas lain yang mungkin masih kesulitan bersuara. 

Memoar ini juga menjadi refleksi bahwa luka masa kecil bisa berdampak panjang dan membutuhkan proses penyembuhan yang tidak mudah.

Meski menuai pro dan kontra, Broken Strings telah menjadi salah satu karya yang menggugah kesadaran publik tentang pentingnya perlindungan anak, penghentian kekerasan dalam hubungan, serta keberanian penyintas untuk berbicara.(*)

Penulis : FDA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *