Edukasi Yogyakarta

Dari Dapur ke Biopori, Warga Mangkuyudan Ubah Perilaku Buang Sampah Organik

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Pengelolaan sampah tidak selalu harus dimulai dari teknologi canggih atau fasilitas berskala besar. Di RW 05 Kampung Mangkuyudan, Kota Yogyakarta, perubahan besar justru lahir dari kebiasaan sederhana, memilah sampah organik sejak dari dapur rumah tangga. 

Melalui pemanfaatan Biopori Jumbo (BIMBO), warga berhasil mengubah perilaku membuang sampah menjadi sistem pengelolaan yang berkelanjutan dan bermanfaat.

Komitmen warga tersebut terlihat dalam kegiatan Panen ke-3 Biopori Jumbo yang dilaksanakan bersama Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo. Program ini menjadi bagian dari implementasi MAS JOS (Masyarakat Jogja Olah Sampah – Olah Sampah Seko Omah) serta Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat (PSBM) yang terus didorong Pemerintah Kota Yogyakarta.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengapresiasi konsistensi warga Kampung Mangkuyudan dalam mengelola sampah organik melalui Biopori Jumbo. Menurutnya, BIMBO tidak hanya berfungsi sebagai teknologi lingkungan, tetapi juga efektif membentuk kesadaran kolektif masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan setiap hari.

“Tahun kemarin waktu awal saya menjabat dan datang ke sini, bioporinya masih dua, tapi pengelolaannya sudah bagus. Sekarang karena ruangnya terbatas, bioporinya diperbanyak. Di sini sudah ada lima sampai enam biopori dan itu cukup untuk satu RW. Masyarakat sudah otomatis tahu diri, sisa-sisa organiknya dimasukkan ke situ,” ujar Hasto. Jumat (23/1/2026).

Ia menilai, kebiasaan memilah dan membuang sampah organik ke biopori telah menjadi rutinitas warga. Sampah dapur yang sebelumnya dibuang ke tempat pembuangan kini diolah menjadi kompos yang bernilai guna.

Hasto menegaskan, dalam program Biopori Jumbo, peran pemerintah adalah mendukung inisiatif warga, bukan mengambil alih pengelolaan. Dukungan tersebut diwujudkan melalui penyediaan aktivator untuk mempercepat proses komposting, bantuan tenaga saat panen kompos, serta pembangunan biopori jumbo di lingkungan permukiman.

“Hasil panennya bisa dipakai atau dijual. Satu kilo seribu rupiah dari sampah. Pemerintah tidak mengambil uangnya. Uangnya untuk masyarakat. Kami hanya membantu memanen, mengomposkan, dan membangun bioporinya. Kalau masih kurang, akan kita bantu lagi,” tegasnya.

Saat ini, jumlah Biopori Jumbo di Kota Yogyakarta telah mencapai lebih dari 600 unit. Pada tahun 2026, Pemerintah Kota Yogyakarta menargetkan penambahan 400 unit, sehingga totalnya menjadi sekitar 1.000 Biopori Jumbo yang tersebar di seluruh wilayah kota.

“Kalau satu biopori jumbo bisa menahan sekitar dua ton sampah, maka 1.000 biopori jumbo bisa menahan sekitar 2.000 ton sampah. Ini jumlah yang sangat besar,” ungkap Hasto.

Program Biopori Jumbo di Kota Yogyakarta juga terintegrasi dengan konsep urban farming dan integrated farming. 

Hal ini diperkuat melalui pembangunan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPO) di sejumlah lokasi, seperti kawasan Pasar Burung PASTY, Tegalgendu, dan Tegalrejo.

Kompos hasil biopori dimanfaatkan untuk mendukung lorong sayur dan pertanian perkotaan warga. 

Hasto pun mendorong agar lorong sayur di Kampung Mangkuyudan terus diperbanyak dengan melibatkan lebih banyak warga, khususnya ibu-ibu.

“Harapan saya, ini bisa mengurangi belanja cabai. Cabai ini sering mempengaruhi inflasi. Tadi saya lihat cabainya bagus-bagus, bahkan ada cabai Papua yang besar-besar. Mudah-mudahan bisa membantu mencegah inflasi,” ujarnya.

Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur Lestari RW 05 Kampung Mangkuyudan, Sumarsini, mengungkapkan bahwa pengelolaan sampah berbasis Biopori Jumbo di wilayahnya telah berjalan sejak 2021 dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan serta kesejahteraan warga.

“Awalnya kami hanya punya dua bangunan biopori jumbo. Setelah disosialisasikan ke warga, masyarakat mulai memilah sampah dari rumah. Sampah anorganik dikelola melalui bank sampah yang buka sebulan sekali setiap Minggu terakhir, sedangkan sampah organik setiap hari langsung dibuang ke biopori,” jelasnya.

Untuk mempercepat proses pembusukan, sampah organik yang masuk ke biopori secara rutin, minimal seminggu sekali diberi tetes tebu dan EM4. Setelah melalui proses pengomposan sekitar enam bulan, sampah tersebut dipanen menjadi kompos.

“Kompos yang dihasilkan kami gunakan sebagai media tanam. Jadi sampah tidak berhenti diolah, tapi dimanfaatkan kembali untuk budidaya tanaman,” ujarnya.

Kampung Mangkuyudan juga memiliki kebijakan internal berupa kewajiban setiap rumah tangga menanam minimal lima jenis tanaman sayuran, seperti cabai, terong, tomat, seledri, dan daun bawang. Kompos hasil biopori menjadi media tanam utama.

“Kalau butuh, tinggal metik. Menanamnya mudah, hasilnya bisa dimanfaatkan setiap hari, dan ini jelas mengurangi pengeluaran rumah tangga,” tambah Sumarsini.

Saat ini, lebih dari 100 kepala keluarga di RW 05 telah aktif membuang sampah organik ke biopori. Pada masa uji coba awal, satu unit biopori digunakan oleh delapan rumah tangga dan mampu menampung sekitar 1.125 kilogram sampah basah selama 10 bulan, yang kemudian menghasilkan sekitar 350 kilogram kompos.

“Kompos ini akan kami manfaatkan lagi sebagai media tanam. Sistemnya berputar terus. PR kami sekarang tinggal sampah plastik, karena memang tidak bisa kita olah. Tapi untuk sampah organik, masyarakat sudah paham dan rutin memasukkannya ke biopori,” pungkasnya.(*)

Penulis : FDA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *