Bisnis Yogyakarta

Mahasvin Farm, Penangkar Satwa Eksotis dari Sleman yang Suplai Mini Zoo Se-Indonesia

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Nama Mahasvin Farm mungkin belum banyak dikenal publik luas, namun bagi pengelola mini zoo, taman edukasi satwa, hingga destinasi wisata berbasis hewan di Indonesia, penangkaran ini menjadi salah satu pemain utama. 

Penangkaran yang berlokasi di Candi Gebang, Wedomartani, Sleman, Mahasvin Farm dikenal sebagai penangkar satwa eksotis berskala nasional yang menyuplai berbagai jenis hewan ke mini zoo di hampir seluruh Indonesia. Aswin membawa koleksi Meraknya pada gelaran Jogja City Mall (JCM) Pets N’Plants Festival 2026, Jalan Magelang, Yogyakarta.

Pemilik Mahasvin Farm, Langgoso Aswin Putra, mengatakan penangkaran yang ia rintis sejak 2012 itu berfokus pada satwa-satwa eksotis impor yang legal, terdata, dan ditangkarkan secara berkelanjutan.

“Hampir seluruh wisata se-Indonesia yang berbau hewan itu kita pasok. Mini zoo, taman edukasi, sampai wisata keluarga, banyak yang ambil dari kita,” ujar Aswin. Minggu (25/1/2026).

Mahasvin Farm tidak langsung besar. Aswin mengungkapkan usaha ini berangkat dari modal yang nyaris tidak masuk akal.

“Kita mulai tahun 2012 dengan modal Rp25 ribu. Waktu itu hanya ternak ayam hias, ayam Polandia,” katanya.

Dari ternak kecil itulah Mahasvin Farm berkembang menjadi penangkar satwa eksotis dengan koleksi ratusan ekor merak, burung unta, ayam-ayam hutan dari berbagai negara, kura-kura, reptil, hingga pigmy goat atau kambing terkecil di dunia.

Saat ini, merak menjadi salah satu komoditas utama Mahasvin Farm.

“Kalau merak mungkin sudah ratusan ekor. Untuk burung unta, indukan dewasa ada sekitar tujuh sampai sepuluh ekor,” jelas Aswin.

Anakan burung unta secara rutin dijual untuk mencegah overpopulasi.

“Kalau tidak dijual, kita tidak punya tempat. Jadi anakan harus selalu keluar.” ungkapnya.

Legalitas Satwa Impor dan Kepatuhan Regulasi

Aswin menegaskan seluruh satwa yang dipelihara Mahasvin Farm merupakan satwa impor dengan asal-usul jelas, bukan hasil tangkapan alam liar maupun perdagangan gelap.

“Hewan-hewan kita hampir semuanya impor. Legalitasnya cukup dengan izin impor resmi atau beli dari importer yang sah. Yang penting ada bukti asal-usulnya, bukan dari black market.” ucap Aswin.

Ia menjelaskan perbedaan mendasar antara satwa impor dan satwa asli Indonesia yang dilindungi undang-undang.

“Kalau satwa lokal atau satwa asli Indonesia, itu dilindungi UU dan harus izin BKSDA. Tapi kalau satwa impor, aturannya berbeda. Meski begitu, kita tetap koordinasi dengan BKSDA.” lanjutnya.

Pengelolaan satwa Mahasvin Farm juga menyesuaikan dengan regulasi nasional, termasuk UU Nomor 32 Tahun 2024 sebagai perubahan atas UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta ketentuan karantina dan perdagangan internasional seperti CITES.

Merak, Satwa Favorit Mini Zoo

Di antara berbagai satwa yang ditangkarkan, merak menjadi primadona pasar mini zoo.

“Merak itu enggak ada debat. Semua orang bilang indah. Kalau ada uang, pasti beli,” kata Aswin.

Menurutnya, harga satwa hobi tidak memiliki standar baku.

“Kalau bicara hobi, tidak ada standar pasar. Orang suka, cocok, dibayar berapa pun.” katanya lagi.

Harga burung unta sepasang bisa mencapai Rp150 juta, sementara merak dengan corak istimewa, karakter jinak, atau mudah dilatih bahkan bisa bernilai lebih tinggi.

Pengalaman 15 Tahun dan Tingkat Kematian Rendah

Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di dunia peternakan satwa, Aswin mengklaim Mahasvin Farm memiliki tingkat keberhasilan penangkaran yang tinggi.

“Kalau dibilang susah, itu karena belum tahu caranya. Kalau sudah tahu, merak itu gampang,” ujarnya.

Tingkat kematian satwa di Mahasvin Farm disebut sangat rendah.

“Dalam setahun tidak sampai 10 persen, mungkin hanya 5 persen atau bahkan nol koma. Biasanya karena berkelahi memperebutkan wilayah atau betina.”

Perawatan medis sebagian besar ditangani sendiri berdasarkan pengalaman lapangan. Namun, untuk kasus tertentu yang memerlukan obat resep, Mahasvin Farm bekerja sama dengan dokter hewan.

Kolaborasi Akademik dengan UGM

Mahasvin Farm juga menjadi lokasi pembelajaran bagi mahasiswa, khususnya dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

“UGM paling sering. Mereka kirim mahasiswa magang, MBKM, sekolah terbuka, kuliah merdeka. Kita saling tukar ilmu,” ucap Aswin.

Kolaborasi ini memberi keuntungan dua arah: mahasiswa mendapatkan pengalaman lapangan, sementara Mahasvin Farm memperoleh dukungan akademis.

Selain bisnis penangkaran, Mahasvin Farm mengelola Mahasvin Institute, sekolah alam gratis untuk anak-anak.

“Kita belajar mitologi hewan, filosofi, sampai peternakan. Semuanya gratis,” ujar Aswin.

Sebagian besar satwa yang dipelihara pun dipilih karena nilai historis dan mitologinya.

“Kita peliharanya rata-rata hewan mitologi, hewan yang dipercaya dalam peradaban kuno.” ucapnya.

Edukasi Konservasi Lewat Pameran di Mal

Komitmen edukasi Mahasvin Farm juga diwujudkan lewat pameran, salah satunya Taman Merak di Jogja City Mall, yang diklaim sebagai taman merak pertama dan satu-satunya di Indonesia.

“Kita ingin orang-orang di mal juga sadar konservasi. Mereka jarang interaksi dengan hewan,” jelas Aswin.

Menurutnya, masyarakat perkotaan justru memiliki potensi besar untuk terlibat dalam konservasi.

“Saya yakin di antara mereka ada yang punya lahan luas, villa, atau tanah kosong. Itu bisa dipakai menangkarkan merak. Selain konservasi, ada bisnisnya.” imbuhnya.

Pihaknya juga membuka pendampingan terima beres bagi calon peternak, mulai dari perizinan, perawatan, hingga pengembangbiakan.

“Kita bantu semuanya. Dari hukum, teknis, sampai sakitnya. Tim kita turun langsung.” terang Aswin.

Bagi Aswin, konservasi bukan sekadar wacana.

“Fungsi manusia itu menjaga alam, bukan merusak. Kita diberi tanah, ekonomi, itu semua ada tanggung jawab untuk melestarikan hewan.” tutup Aswin.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *