INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, menyatakan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat mencapai 5,4 persen, didorong oleh kuatnya konsumsi domestik, belanja pemerintah yang ekspansif, serta berbagai program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Hal tersebut disampaikan pada rapat kerja nasional majelis ekonomi dan bisnis Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, pada gelaran Indonesia Economic Outlook 2026 dengan tema “Strategi penguatan ekonomi Nasional dan ekonomi umat yang berkelanjutan”, di Hyatt Regency Yogyakarta.
Airlangga menilai, kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan fundamental yang solid di tengah tekanan global. Secara year on year (yoy), ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen, melampaui proyeksi sejumlah lembaga internasional seperti IMF, World Bank, OECD, dan ADB yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan hanya di kisaran 4,8–4,9 persen.
“Dengan capaian 5,11 persen, Indonesia berhasil melampaui ekspektasi pasar. Ini menunjukkan bahwa daya tahan ekonomi nasional masih cukup kuat,” kata Airlangga. Jumat (6/2/2026).
Airlangga menambahkan, dibandingkan berbagai negara lain, potensi resesi Indonesia termasuk yang paling kecil, yakni sekitar 3 persen, jauh lebih rendah dibandingkan Jepang maupun Amerika Serikat.
Pada kuartal IV 2025, ekonomi Indonesia bahkan tumbuh 5,39 persen. Jika dibandingkan dengan negara G20, Indonesia berada di bawah India yang mencatat pertumbuhan 7,4 persen, sementara Singapura yang tumbuh lebih tinggi bukan merupakan anggota G20.
Dari sisi permintaan, konsumsi domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,11 persen dengan kontribusi sebesar 53,88 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Sementara itu, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,12 persen dan menyumbang 28,77 persen terhadap PDB. Belanja pemerintah juga terus berekspansi, terutama pada kuartal IV 2025 yang mencatatkan pertumbuhan hingga 42 persen.
“Belanja bantuan sosial pada kuartal keempat bahkan melonjak hingga 70 persen, sehingga memberikan stimulus signifikan bagi perekonomian,” ujar Airlangga.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi dengan kontribusi sebesar 19,2 persen terhadap PDB. Untuk pertama kalinya, pertumbuhan sektor industri tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, sektor perdagangan tumbuh 6 persen, pertanian 5,14 persen, serta sektor pariwisata menjadi penggerak utama di Bali dan Nusa Tenggara. Pertumbuhan wilayah juga tercatat merata, dengan Sumatera dan Jawa tumbuh di atas rata-rata nasional, Sulawesi terdorong oleh hilirisasi, serta Kalimantan ditopang sektor kebun dan tambang.
Airlangga juga menyoroti perbaikan indikator sosial. Tingkat kemiskinan nasional turun menjadi 8,25 persen, dengan penurunan jumlah penduduk miskin sekitar 700 ribu orang. Rasio gini membaik di angka 0,363, sementara tingkat pengangguran menurun menjadi 4,7 persen.
“Pasar tenaga kerja meningkat dengan tambahan sekitar 1,4 juta orang bekerja,” katanya.
Salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi ke depan adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Saat ini, program tersebut telah melayani sekitar 60 juta penerima dan ditargetkan meningkat menjadi 83 juta anak sekolah pada akhir tahun.
Anggaran MBG mencapai sekitar Rp80 triliun per kuartal, jauh lebih besar dibandingkan anggaran bantuan sosial sebelumnya yang berkisar Rp30–37 triliun per tahun.
“Secara sederhana, MBG berpotensi menciptakan sekitar 3 juta lapangan kerja dalam setahun. Secara realistis, kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 1–2 persen,” jelas Airlangga.
Presiden Prabowo Subianto, lanjutnya, optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi 8 persen dapat dicapai pada 2028, apabila seluruh program strategis berjalan optimal.
Selain MBG, pemerintah juga mendorong pembentukan Koperasi Desa Merah Putih di sekitar 80 ribu desa dengan alokasi anggaran sekitar Rp5 miliar per desa. Program ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi daerah melalui sektor pertanian, perikanan, logistik, hingga ritel.
Pemerintah juga memperkenalkan Danantara sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia. Untuk pertama kalinya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dikonversi menjadi SWF dengan aset kelolaan diperkirakan mencapai USD 1 triliun.
“Danantara akan berdiri terpisah dari APBN dan diharapkan tidak hanya meningkatkan return aset, tetapi juga mengungkit pertumbuhan ekonomi nasional,” tegas Airlangga.
Dalam jangka pendek, pemerintah menyiapkan berbagai stimulus menjelang Lebaran, antara lain bantuan pangan berupa 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng bagi 35 juta keluarga penerima manfaat, diskon transportasi darat, laut, dan udara, serta diskon tarif tol hingga 20 persen.
Untuk mendukung UMKM, pemerintah menyiapkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp300 triliun, termasuk KUR Syariah yang pada 2025 telah tersalurkan Rp91,8 triliun kepada lebih dari 100 juta debitur.
Dengan kombinasi stimulus jangka pendek dan reformasi struktural jangka panjang, Airlangga optimistis perekonomian Indonesia mampu tumbuh lebih tinggi dan berkelanjutan.
“Kami optimistis, dengan menjaga stabilitas dan mempercepat program strategis, target pertumbuhan 5,4 persen pada 2026 dapat tercapai,” pungkasnya.(*)
Penulis : Elis
