INTENS PLUS – JAKARTA. Iran resmi memiliki pemimpin tertinggi baru setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Putra keduanya, Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran pada Senin (9/3/2026) waktu Teheran.
Menggantikan ayahnya yang tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026.
Penunjukan Mojtaba dilakukan oleh Majelis Ahli Iran, lembaga yang beranggotakan 88 ulama senior dan memiliki kewenangan konstitusional untuk memilih pemimpin tertinggi negara tersebut.
Pengumuman resmi tersebut disampaikan, hanya beberapa hari setelah kematian Ali Khamenei yang memicu ketegangan besar di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataan resmi yang disiarkan media pemerintah Iran, Majelis Ahli menyatakan bahwa Mojtaba dipilih melalui suara kuat dalam sidang lembaga tersebut.
Mojtaba Khamenei kini menjadi pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak Revolusi Islam 1979, setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini dan Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai pemimpin tertinggi, ia memegang otoritas tertinggi dalam sistem politik Iran, termasuk dalam pengambilan keputusan strategis terkait kebijakan luar negeri, militer, serta program nuklir negara tersebut.
Penunjukan ini juga terjadi di tengah situasi keamanan yang sangat tegang setelah konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
IRGC Nyatakan Kesetiaan kepada Pemimpin Baru
Setelah pengumuman resmi tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) segera menyatakan kesetiaan kepada Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi.
Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan siap mematuhi dan melaksanakan setiap arahan pemimpin baru tersebut demi menjaga nilai-nilai Revolusi Islam serta melindungi warisan para pemimpin sebelumnya.
Dukungan dari IRGC menjadi faktor penting karena organisasi militer elite tersebut memiliki pengaruh besar dalam politik, keamanan, dan ekonomi Iran.
Dunia Soroti Pergantian Kepemimpinan Iran
Pergantian kepemimpinan di Iran langsung mendapat perhatian luas dari komunitas internasional.
Sejumlah negara dan pengamat menilai penunjukan Mojtaba menandai kelanjutan dominasi kelompok garis keras dalam pemerintahan Iran, sekaligus memperkecil peluang negosiasi dengan Barat dalam waktu dekat.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tidak senang dengan penunjukan tersebut dan menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang tidak dapat diterima.
Di sisi lain, beberapa negara mitra Iran seperti Rusia menyampaikan ucapan selamat kepada pemimpin baru tersebut dan menegaskan komitmen untuk tetap menjalin kerja sama dengan Teheran.
Sosok Mojtaba Khamenei yang Misterius
Mojtaba Khamenei selama ini dikenal sebagai figur yang sangat tertutup dalam lingkar kekuasaan Iran.
Ulama berusia 56 tahun itu hampir tidak pernah tampil di depan publik dan tidak pernah mencalonkan diri dalam jabatan politik melalui pemilihan umum. Meski demikian, ia telah lama dianggap sebagai tokoh berpengaruh di balik pemerintahan ayahnya.
Ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan elit ulama konservatif serta Garda Revolusi Iran, yang membuat pengaruhnya kuat di dalam struktur politik dan keamanan negara tersebut.
Naiknya Mojtaba Khamenei ke puncak kekuasaan juga memunculkan kontroversi, terutama karena ia adalah putra dari pemimpin tertinggi sebelumnya.
Sejumlah pengamat menilai suksesi ini memunculkan kesan politik dinasti, sesuatu yang bertentangan dengan semangat Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan sistem monarki di Iran.
Namun pemerintah Iran menegaskan bahwa pemilihan Mojtaba tetap mengikuti prosedur konstitusional melalui keputusan Majelis Ahli, bukan melalui pewarisan kekuasaan secara langsung.
Iran Memasuki Babak Baru Politik
Dengan pelantikan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi, Iran kini memasuki babak baru dalam dinamika politiknya.
Di tengah konflik regional yang meningkat dan tekanan internasional yang kuat, kepemimpinan Mojtaba diperkirakan akan sangat menentukan arah kebijakan Iran ke depan, terutama terkait hubungan dengan Barat, keamanan kawasan, dan program nuklir negara tersebut.
Pergantian kepemimpinan ini juga menandai fase penting bagi Republik Islam Iran setelah lebih dari tiga dekade berada di bawah kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei.(*)
Penulis : Elis
