Pendidikan Yogyakarta

Prof Eko Agus Suyono Dikukuhkan, Ungkap Mikroalga Jadi Senjata Baru Tekan Pemanasan Global

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menambah jajaran Guru Besar melalui pengukuhan Prof. Dr. Eko Agus Suyono, S.Si., M.App.Sc., sebagai Guru Besar dalam Bidang Bioteknologi Industri dan Lingkungan di Fakultas Biologi. Pengukuhan tersebut digelar di Gedung Balai Senat UGM, Kamis (2/4/2026).

Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Mikroalga sebagai Mesin Biologis Masa Depan: Integrasi Teknologi CO₂ Capture dan Konsep Biorefinery untuk Kemandirian Bangsa”, Prof Eko menegaskan bahwa mikroalga memiliki potensi besar sebagai solusi strategis dalam menghadapi krisis lingkungan global, khususnya pemanasan global.

Prof. Eko menjelaskan bahwa mikroalga merupakan organisme mikroskopis yang memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap karbon dioksida (CO₂) melalui proses fotosintesis. Dalam proses tersebut, CO₂ diubah menjadi senyawa organik yang bermanfaat.

“Proses ini sangat penting dalam mitigasi perubahan iklim karena mampu menurunkan kadar karbon dioksida di atmosfer, yang menjadi penyebab utama pemanasan global,” ujarnya.

Tak hanya sebagai penyerap karbon, mikroalga juga berkontribusi besar terhadap produksi oksigen di bumi.

“Mikroalga menyumbang sekitar 40–50 persen oksigen di atmosfer, sehingga sebagian oksigen yang kita hirup berasal dari organisme ini,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Eko menuturkan bahwa mikroalga merupakan produsen primer utama dalam rantai makanan global, khususnya di ekosistem perairan. Keberadaannya menjadi fondasi bagi kehidupan berbagai organisme lain.

Selain itu, mikroalga juga berperan penting dalam siklus karbon dan nutrien, karena mampu berfungsi sebagai penyerap sekaligus sumber karbon yang mendukung keseimbangan ekosistem.

Dalam pidatonya, Prof. Eko mengungkapkan bahwa mikroalga memiliki kandungan biomassa bernilai tinggi yang dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk, terutama di sektor energi.

Beberapa produk yang dapat dihasilkan antara lain, biodiesel, bioetanol dan biohidrogen.

Menurutnya, potensi mikroalga sebagai bahan baku biofuel bahkan lebih tinggi dibandingkan sumber konvensional seperti kelapa sawit, jagung, bunga matahari, maupun kacang-kacangan.

“Mikroalga memiliki produktivitas yang lebih tinggi dan tidak bersaing dengan kebutuhan lahan pangan,” tegasnya.

Selain energi, mikroalga juga menyimpan potensi besar di sektor pangan, pakan, hingga industri farmasi. Kandungan nutrisinya meliputi polisakarida, lipid, protein, vitamin, mineral, serta senyawa antioksidan.

Dengan kandungan tersebut, mikroalga berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan dan pakan fungsional, juga bisa produk kosmetik, atau bahan baku obat dan suplemen.

“Antioksidan dalam mikroalga bahkan lebih tinggi dibandingkan vitamin C, serta memiliki sifat antiinflamasi dan antikanker,” ungkap Prof. Eko.

Mikroalga juga memiliki kemampuan sebagai agen bioremediasi, yakni menyerap limbah dan polutan dari lingkungan. Hal ini dimungkinkan karena daya adaptasi tinggi serta kandungan enzim dan senyawa kimia dalam selnya.

Tak hanya itu, pengembangan mikroalga kini juga dapat diintegrasikan dengan teknologi modern seperti Internet of Things (IoT) dan machine learning.

“Melalui IoT, pemantauan biomassa dan kondisi budidaya dapat dilakukan secara real-time, sehingga meningkatkan efisiensi dan produktivitas,” jelasnya.

Di akhir pidatonya, Prof. Eko menekankan pentingnya penguatan riset mikroalga secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.

Mulai dari eksplorasi strain unggul, optimasi kultivasi, hingga pengembangan teknologi pengolahan dan hilirisasi produk.

Ia menilai, pendekatan terintegrasi sangat diperlukan agar mikroalga dapat menjadi jembatan antara kebutuhan industri, kepentingan lingkungan, serta agenda pembangunan berkelanjutan.

“Mikroalga berpotensi sebagai solusi masa depan demi ketahanan lingkungan, kemandirian teknologi, dan kemajuan bangsa,” pungkasnya.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *