INTENS PLUS – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa (7/4/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat menyentuh level Rp17.100 per dolar AS pada perdagangan intraday, sekaligus menjadi salah satu titik terlemah sepanjang tahun ini.
Pada pukul 15.30 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp17.100 per dolar AS atau menguat tipis 65 poin (0,38 persen) dibandingkan posisi sebelumnya. Namun, pergerakan tersebut terjadi setelah rupiah sempat melemah pada sesi pagi ke level Rp17.035 per dolar AS.
Fluktuasi ini mencerminkan tingginya tekanan eksternal maupun domestik yang memengaruhi pasar keuangan Indonesia.
Tekanan terhadap rupiah saat ini tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian global, khususnya akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa sentimen risk off masih mendominasi pasar karena kekhawatiran eskalasi konflik.
“Investor global saat ini berada dalam posisi terpecah antara harapan perdamaian dan kekhawatiran konflik yang semakin meluas, kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk mengalihkan dana ke aset safe haven seperti dolar AS, sehingga memperkuat mata uang tersebut dan menekan rupiah,” ungkapnya, Selasa (7/4/2026).
Selain faktor geopolitik, lonjakan harga minyak mentah dunia turut menjadi penyebab utama pelemahan rupiah. Harga minyak Brent bahkan sempat menembus kisaran US$110-115 per barel.
Kenaikan harga energi ini berdampak langsung bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak.
Pengamat pasar modal Desmond Wira menilai, lonjakan harga minyak membuat permintaan dolar AS meningkat tajam untuk kebutuhan impor energi.
Tidak hanya itu, kenaikan harga minyak juga berpotensi membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama karena pemerintah masih menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Jika kondisi ini berlanjut, beban subsidi energi berisiko meningkat dan memperlebar defisit fiskal.
Faktor global lainnya yang turut menekan rupiah adalah kebijakan moneter Amerika Serikat, pasar memperkirakan bank sentral AS. The Fed, belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Data ekonomi AS yang masih solid membuat dolar tetap kuat di pasar global. Hal ini mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju instrumen investasi yang dianggap lebih aman di negara maju.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh tingginya kebutuhan valuta asing (valas).
Permintaan dolar meningkat untuk berbagai keperluan, antara lain, impor minyak dan barang konsumsi, pembayaran dividen perusahaan asing, dan belanja rutin pemerintah dan swasta.
Selain itu, periode repatriasi dividen pada April-Mei turut memperbesar permintaan dolar AS di pasar domestik.
Arus modal keluar (capital outflow) juga menjadi faktor tambahan yang memperlemah rupiah, seiring investor asing menarik dana dari pasar obligasi dan saham Indonesia.
Merespons tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyatakan bahwa stabilitas menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian global.
BI akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter, termasuk intervensi di, pasar spot, domestic Non Deliverable Forward (DNDF) dan non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore,” bebernya.
Langkah ini dilakukan secara konsisten dan terukur untuk meredam volatilitas nilai tukar.
Di sisi fiskal, pemerintah mencatat defisit APBN selama triwulan I 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit di bawah batas 3 persen.
“Sejumlah langkah strategis disiapkan,berupa penghematan anggaran hingga Rp190 triliun, juga pemangkasan belanja kementerian sebesar 10 persen. Serta optimalisasi penerimaan negara dari sektor komoditas,” ucapnya.
“Tidak ada menaikkan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun, ini demi menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas sosial,” imbuhnya.
Pelemahan rupiah turut berdampak pada pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah sekitar 0,26 persen pada perdagangan hari yang sama.
Selain itu, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net foreign outflow) sekitar Rp1,8 triliun, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, serta arah kebijakan moneter AS.(*)
Penulis : FDA
