INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Program Jogja Educulture Journey Laras Triloka resmi diluncurkan untuk menghubungkan tiga destinasi wisata edukasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yakni Taman Bhineka GIK UGM, Taman Pintar Yogyakarta, dan Taman Budaya Embung Giwangan. Program ini menawarkan pengalaman wisata yang mengintegrasikan sains, pendidikan, kebudayaan, dan inovasi dengan dukungan layanan shuttle wisata bertenaga listrik.
Peluncuran Laras Triloka ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara manajemen Taman Bhineka GIK UGM, Taman Pintar, Taman Budaya Embung Giwangan, dan PT Anindya Mitra International pada Senin (12/10) di GIK UGM, Yogyakarta.
Kolaborasi tersebut diharapkan memudahkan wisatawan menjangkau sejumlah destinasi edukasi dalam satu rangkaian perjalanan. Penggunaan shuttle listrik juga menjadi bagian dari upaya mendorong transportasi wisata yang lebih ramah lingkungan.
Ketua Yayasan Adji Dharma Nusantara (YADN), Aulia Reza Bastian, menjelaskan bahwa Laras Triloka dibangun berdasarkan filosofi pendidikan yang menghubungkan tiga aspek utama, yaitu ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan inovasi.
“Jadi kalau sains kita bicara ilmu pengetahuan itu adalah kognisi, itu ada di Taman Pintar. Kemudian kalau kita bicara afeksi itu ada di Taman Budaya. Kemudian kalau kita bicara inovasi itu ada di sini, di GIK,” kata Reza pada keterangan, Rabu (14/10/2026).
Reza menjelaskan, ketiga aspek tersebut diwujudkan melalui karakter masing-masing destinasi. Taman Pintar menjadi representasi aspek kognisi atau ilmu pengetahuan, Taman Budaya Embung Giwangan mewakili aspek afeksi, sedangkan Taman Bhineka GIK UGM menjadi ruang pengembangan inovasi dan kreativitas.
Menurut Reza, konsep segitiga Laras Triloka merepresentasikan ketajaman nalar, kepekaan nurani, dan kemandirian sikap juang. Selain itu, ketiga unsur tersebut juga sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara.
Melalui konsep ini, diharapkan wisata edukasi di Yogyakarta tidak hanya menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga memberikan pengalaman mengenal kebudayaan sekaligus mendorong lahirnya kreativitas dan inovasi.

Salah satu elemen pendukung Jogja Educulture Journey Laras Triloka adalah layanan shuttle wisata yang menghubungkan Taman tersebut, yaitu Taman Bhineka GIK UGM, Taman Pintar, dan Taman Budaya Embung Giwangan.
Layanan ini dirancang untuk memberikan kemudahan mobilitas wisatawan yang ingin mengunjungi ketiga destinasi tersebut agar mempermudah akses perjalanan wisata, sehingga juga dapat menikmati beragam pengalaman edukasi dan budaya dalam satu perjalanan.
Penggunaan shuttle bertenaga listrik menjadi nilai tambah bagi program ini, selain mendukung aksesibilitas antar destinasi, transportasi tersebut sejalan dengan upaya mengembangkan pariwisata yang memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.
Reza berharap kerja sama tersebut dapat menjadi pemicu bagi pelaku pariwisata lain untuk mengembangkan konsep wisata terpadu yang menggabungkan berbagai potensi daerah.
“Harapan kami mungkin ini nanti akan memicu atau akan menggugah hati para pelaku wisata untuk juga memiliki konsep yang sama,” tandasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengatakan bahwa Jogja Educulture Journey Laras Triloka berangkat dari keyakinan bahwa potensi wisata edukasi, sains, inovasi, dan kebudayaan dapat berkembang lebih optimal melalui kolaborasi.
“Melalui inisiatif kita bersama, tentu saja kita berupaya menghubungkan Taman Bhineka GIK UGM, Taman Pintar Yogyakarta, Taman Budaya Embung Giwangan dalam satu pengalaman wisata yang tentu saja saling melengkapi,” tuturnya.
Ia menambahkan, keterhubungan antar destinasi menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih terpadu bagi masyarakat maupun wisatawan dari luar daerah.
Sementara itu, Direktur Utama GIK UGM, Alfatika Aunuriella Dini, menilai kerja sama tersebut menjadi langkah awal untuk mempertemukan berbagai pihak dalam menciptakan pengalaman wisata yang lebih bermakna.
Ia menyebut konsep Laras Triloka sejalan dengan visi GIK UGM untuk mempertemukan pendidikan, kebudayaan, dan kreativitas sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami percaya bahwa kreativitas ini tumbuh melalui interaksi dan juga perjumpaan. Harapannya dengan adanya konsep Laras Triloka dan juga Taman Bhineka ini, akan terjadi banyak perjumpaan yang melahirkan inovasi dan kreativitas,” tuturnya.(*)
Penulis : Elis
