Jabodetabek Seni Budaya

Cegah Kerusakan Struktur, Kementerian Kebudayaan Tangani Pemugaran Mahastupa Candi Borobudur

INTENS PLUS – JAKARTA. Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB) melakukan pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa Candi Borobudur untuk menjaga kestabilan struktur serta mencegah kerusakan material batu. Pekerjaan ini ditargetkan selesai pada 24 Oktober 2026.

Pemugaran dilakukan setelah monitoring dan kajian teknis pada Agustus 2026, untuk mengidentifikasi adanya pergeseran susunan batu, rongga, dan rekahan pada bagian yasti dan harmika, serta kerusakan material pada stupa induk.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon mengatakan, pemugaran yasti difokuskan pada pemulihan kestabilan struktur dengan tetap mengutamakan keaslian material. Yasti yang berada di bagian paling atas stupa induk menjadi bagian penting yang perlu dijaga untuk mendukung keutuhan bangunan Candi Borobudur.

“Pemugaran ini dilakukan berdasarkan temuan dan kajian teknis di lapangan, dengan mengutamakan penggunaan material asli. Setiap batu didokumentasikan, diberi nomor, dan dipasang kembali pada posisi semula. Hingga saat ini, belum ada batu yang diganti karena setiap tindakan harus didasarkan pada pemeriksaan yang cermat dan sesuai dengan prinsip pelestarian cagar budaya,” ujar Fadli dalam taklimat media bertajuk Pemugaran Yasti Mahastupa Candi Borobudur di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, pada keterangan, Kamis (15/10/2026).

Selain pemugaran yasti, Fadli menerangkan juga melakukan konservasi Mahastupa untuk menangani pelapukan batu, rongga, rekahan, dan penggaraman yang dapat memengaruhi ketahanan material.

Fadli menambahkan, perubahan kondisi lingkungan, termasuk dampak perubahan iklim dan paparan cuaca dalam jangka panjang, menjadi tantangan dalam menjaga kelestarian Candi Borobudur. Karena itu, pemantauan dan penanganan perlu dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan kajian ilmiah.

Menurutnya, pemeriksaan kondisi material dan riwayat penanganan sebelumnya menjadi bagian penting dalam menentukan langkah konservasi agar keutuhan struktur dan nilai penting Borobudur sebagai Warisan Dunia tetap terjaga.

Pakar sekaligus Ketua Tim Penyusun Heritage Impact Assessment (HIA), Ali Akbar, menjelaskan bahwa kebutuhan pemugaran diketahui melalui serangkaian pemeriksaan teknis terhadap kondisi yasti.

Tim menggunakan sejumlah metode, antara lain Ground Penetrating Radar (GPR), pemindaian ultrasonik, dan hammer test untuk mengidentifikasi kondisi struktur serta material batu.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa bagian yasti masih utuh, tetapi kondisinya rapuh dan memiliki sejumlah rongga serta rekahan yang memerlukan penanganan.

“Karena posisinya berada di puncak Mahastupa, temuan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemugaran yang terukur dan berdasarkan hasil pemeriksaan teknis. Penanganan ini juga menjadi kesempatan untuk mendalami lebih jauh kondisi bagian atas Borobudur yang sudah lama tidak mendapatkan pemugaran secara menyeluruh,” kata Ali.

Pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa dilaksanakan oleh tim gabungan Kementerian Kebudayaan melalui MCB dengan melibatkan tenaga ahli di bidang arkeologi, konservasi, teknik sipil dan struktur, serta metalurgi.

Pekerjaan dilakukan secara bertahap melalui pemeriksaan, dokumentasi, dan analisis material sebelum tindakan lanjutan ditentukan. Pendekatan tersebut bertujuan memastikan setiap tindakan sesuai dengan kondisi aktual bangunan sekaligus mempertahankan keaslian material cagar budaya.

Rencana Pemasangan Chattra Borobudur Masih Dikaji

Selain pemugaran dan konservasi, Kementerian Kebudayaan juga menerima aspirasi umat Buddha terkait rencana pemasangan chattra di puncak Mahastupa Candi Borobudur.

Fadli Zon menyampaikan, bahwa rencana tersebut masih dalam tahap kajian, termasuk melalui Heritage Impact Assessment (HIA) yang telah disampaikan kepada UNESCO. Menurutnya pembahasan lebih lanjut diperlukan, memastikan terlebih dahulu rencana tersebut sesuai dengan ketentuan pelestarian Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia.

“Kami menghargai aspirasi umat Buddha dan memandang pentingnya dialog dalam membahas rencana tersebut, setiap langkah perlu melalui kajian yang cermat dan memperhatikan ketentuan pelestarian Candi Borobudur sebagai Warisan Dunia,” ungkap Fadli.

Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menegaskan, bahwa pelestarian Candi Borobudur perlu memperhatikan nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan spiritualitas yang terkandung di dalamnya.

“Pentingnya kesiapan untuk menghadapi risiko perubahan iklim dan bencana yang dapat memengaruhi kelestarian cagar budaya. Upaya pelestarian ini perlu didukung kajian ilmiah dan perencanaan matang, agar jua memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar melalui pengembangan ekonomi budaya yang berkelanjutan,” ucapnya.

Candi Borobudur Tetap Dibuka untuk Pengunjung

Candi Borobudur telah melalui sejumlah pekerjaan pemugaran dan konservasi sejak dibangun sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, Pemugaran besar pertama berlangsung pada 1907-1911 di bawah pimpinan arkeolog Theodoor van Erp. Pemugaran besar berikutnya dilaksanakan pada 1973-1983 melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dan UNESCO.

Pada 2010, penanganan intensif juga dilakukan setelah erupsi Gunung Merapi menyebabkan abu vulkanik menyelimuti kawasan candi dan mengganggu sistem drainase.

Pemugaran yasti kali ini, menjadi bagian dari upaya menjaga kestabilan struktur Mahastupa sekaligus mengevaluasi material dan metode penanganan terdahulu berdasarkan perkembangan ilmu konservasi.

Selama pekerjaan berlangsung, Candi Borobudur tetap dibuka untuk pengunjung dengan penyesuaian jalur demi menjaga keselamatan wisatawan dan pekerja.

Pengunjung reguler dan pilgrim dapat mengakses candi hingga lantai 8 atau teras 1. Sementara itu, kunjungan sunrise dan sunset tetap dapat berlangsung hingga lantai 9 atau teras 2. Adapun pelataran utara ditutup sementara dan digunakan sebagai zona kerja.

Pekerjaan pemugaran ditargetkan selesai pada 24 Oktober 2026, dengan kemungkinan penyesuaian berdasarkan kondisi teknis di lapangan. Pembukaan kembali area yang ditutup akan dilakukan secara bertahap setelah pemeriksaan akhir, serta memastikan area aman untuk dikunjungi.(*)

Penulis : FDA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *