INTENS PLUS – YOGYAKARTA. ARTOTEL Yogyakarta kembali menghidupkan ruang seni dengan menghadirkan pameran bertajuk “Try Again. Fail Again. Fail Better.” yang berlangsung mulai 19 September hingga 16 November 2025 di ARTSPACE, lobby ARTOTEL Yogyakarta.
Pameran ini menghadirkan 8 karya visual lintas medium yang mengeksplorasi tema kegagalan, alienasi, sekaligus solidaritas.
“Judul pameran terinspirasi dari kutipan ikonik Samuel Beckett, “Ever tried. Ever failed. No matter. Try again. Fail again. Fail better.” Sebuah pernyataan singkat namun kuat, yang mengajak publik untuk memandang kegagalan bukan sebagai akhir, melainkan sebagai proses penting dalam membentuk identitas, kesadaran, dan perubahan sosial,” ungkap Pondra, kurator pameran. Minggu (21/9/2025).
Ia memaparkan, kedelapan karya yang dipamerkan menghadirkan tafsir berbeda-beda tentang realitas sosial yang kerap dipenuhi keterasingan, baik dari makna kerja, hubungan antarmanusia, hingga keterhubungan dengan diri sendiri.
Karyanya, menggunakan medium visual yang beragam, menghadirkan bentuk ketidaksinkronan, absurditas, hingga disorientasi yang menciptakan ruang kontemplasi.
“Pameran ini adalah ajakan untuk menatap kegagalan tanpa rasa malu, tanpa penyangkalan. Dari kegagalan justru muncul harapan dan arah baru,” jelasnya.
Menurutnya, di tengah dunia yang menekan manusia untuk selalu berhasil, seni bisa menjadi ruang alternatif untuk merayakan kegagalan sebagai bagian dari pertumbuhan kolektif.
Selain menggali makna personal, karya-karya dalam pameran ini juga berhubungan erat dengan isu-isu global seperti krisis iklim, resesi ekonomi, ketidaksetaraan struktural, hingga merosotnya demokrasi.
Di Indonesia sendiri, ia melanjutkan, kemunculan kembali wajah otoritarianisme dan eksploitasi kelas pekerja menjadi konteks penting yang mempertegas relevansi tema kegagalan dan solidaritas.
Meski sarat kritik sosial, pameran ini tetap menyimpan pesan optimistis. “Try Again. Fail Again. Fail Better.” menghadirkan gagasan bahwa dari kegagalan kolektif lahirlah kekuatan kolektif.
“Solidaritas menjadi kunci untuk membangun kembali keadilan, bukan sebagai utopia semu, tetapi sebagai gerakan nyata,” tambahnya.
General Manager ARTOTEL Yogyakarta, Andre Harso Binawan mengatakan bahwa pameran ini dirancang tidak hanya sebagai ajang seni rupa, melainkan juga ruang dialog.
“Kami percaya seni adalah cermin masyarakat. Lewat pameran ini, kami ingin menjadikan ARTSPACE bukan hanya galeri, tapi ruang kontemplasi dan percakapan tentang isu-isu relevan hari ini,” kata Andre.(*)
Penulis : Elis
