INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Nuansa musik lintas budaya terasa kental dalam konser Avec le Temps yang dibawakan oleh dua musisi asal Tunisia, Dorsaf Hamdani dan Zied Zouari, di Hotel Tentrem Yogyakarta, Rabu (22/4) malam. Pertunjukan ini menjadi bagian dari rangkaian Francophonie Week 2026 yang digelar di Yogyakarta.
Konser tersebut tidak sekadar menyajikan musik, tetapi juga menghadirkan pengalaman artistik yang merangkum dialog budaya antara Prancis dan dunia Arab. Melalui interpretasi ulang lagu-lagu klasik, keduanya menghidupkan panggung dengan nuansa puitis yang mengalir dalam dua bahasa sekaligus.
Inspirasi konser ini berangkat dari karya legendaris Léo Ferré berjudul Avec le Temps. Lagu tersebut diolah menjadi sebuah perjalanan musikal tentang waktu, kenangan, dan emosi yang melampaui batas geografis dan budaya.
Komposer sekaligus violinis Zied Zouari mengungkapkan bahwa konser ini dirancang sebagai perjalanan musikal yang membawa penonton melintasi berbagai wilayah budaya.
“Kami memulai dengan nuansa Prancis, lalu perlahan mengajak penonton masuk ke ritme Mesir, Tunisia, Lebanon hingga kawasan Maghreb. Ini adalah cara kami memperkenalkan keberagaman budaya melalui musik,” ujarnya, dikutip Jumat (24/4/2026).
Menurutnya, bahasa Prancis memiliki pengaruh luas, khususnya di kawasan Afrika dan Mediterania. Hal tersebut menjadi dasar kuat dalam mengembangkan konsep Avec le Temps sebagai proyek musik yang bersifat lintas identitas.
Zied juga mengaku terkesan dengan sambutan hangat penonton di Yogyakarta. Ia menyebut setiap kota selalu memberikan energi berbeda yang memperkaya proses kreatifnya.
“Dari Indonesia kami mendapatkan energi baru yang akan kami bawa untuk menciptakan karya berikutnya,” tambahnya.
Sementara itu, Dorsaf Hamdani menekankan bahwa musik merupakan medium universal yang mampu menyatukan berbagai latar belakang budaya. Ia bahkan berupaya mendekatkan diri dengan audiens lokal dengan mempelajari bahasa Indonesia.
“Ketika saya mencoba berbicara dalam bahasa Indonesia, saya menemukan beberapa kata yang terdengar mirip dengan bahasa Arab,” ungkapnya.
Dorsaf juga mengaku terinspirasi oleh suasana Yogyakarta, termasuk arsitektur dan atmosfer Hotel Tentrem yang memberikan energi emosional saat tampil di atas panggung.
“Saya ingin menciptakan lagu dari pengalaman saya di Indonesia, karena energi di sini sangat positif dan menginspirasi,” tuturnya.
Direktur Institut Français d’Indonésie Yogyakarta, Margaux Nemmouchi, menjelaskan bahwa Francophonie merupakan perayaan global yang melibatkan ratusan juta penutur bahasa Prancis di seluruh dunia.
“Francophonie bukan hanya tentang bahasa, tetapi juga tentang keberagaman budaya yang hidup di dalamnya,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa di negara seperti Tunisia, bahasa Prancis hidup berdampingan dengan bahasa lokal, menciptakan identitas budaya yang unik dan dinamis.
General Manager Hotel Tentrem Yogyakarta, Christoporus Yulianto, menyampaikan bahwa konser ini merupakan bagian dari komitmen menghadirkan pengalaman budaya global kepada masyarakat.
Menurutnya, kerja sama dengan Institut Français d’Indonésie telah terjalin dalam berbagai bidang, termasuk gastronomi dan kini seni pertunjukan.
“Konser ini bukan hanya hiburan, tetapi juga ruang pembelajaran untuk memahami budaya dari berbagai negara,” ujarnya.(*)
Penulis : Elis
