Lifestyle Yogyakarta

Film Animasi Biotik Pak Tino Sidin Diluncurkan, Kenalkan Sosok Sang Guru Gambar kepada Generasi Muda

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Film animasi Biotik Pak Tino Sidin resmi diluncurkan di Museum Taman Tino Sidin (TTS), Jalan Tino Sidin 297, Kadipiro, Bantul, Yogyakarta. Pada Rabu, (12/8/2026). Film ini mengangkat perjalanan hidup sosok Pak Tino Sidin, yang dikenal luas sebagai guru gambar anak-anak melalui layar televisi.

Peluncuran film animasi tersebut menjadi momentum untuk kembali memperkenalkan sosok dan nilai-nilai keteladanan Pak Tino Sidin kepada generasi muda. Kehadiran film di Museum TTS juga diharapkan dapat memperkuat fungsi museum sebagai ruang edukasi, interaksi, kreativitas, dan berbagi pengetahuan.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi SS MA, memberikan apresiasi atas inisiatif dan kreativitas Museum TTS dalam menghadirkan karya tersebut. ia mengatakan, film animasi Biotik Pak Tino Sidin dapat menjadi media yang menarik bagi anak-anak untuk mengenal perjalanan hidup sang guru gambar. Tidak hanya mengenal sosoknya, anak-anak juga diharapkan dapat mengambil nilai keteladanan dan semangat berkarya yang diwariskan Pak Tino Sidin.

“Semoga karya film animasi ini dapat menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenal lebih jauh perjalanan hidup Pak Tino Sidin dan menginspirasi untuk semakin mengembangkan diri dalam berkarya,” kata Dian dalam acara peluncuran dikutip, Jumat (14/8/2026).

Film Biotik Pak Tino Sidin tidak hanya menceritakan sosok Pak Tino Sidin sebagai guru menggambar anak-anak yang dikenal melalui program televisi. Film animasi tersebut mengangkat perjalanan hidupnya yang memiliki berbagai dimensi.

Pak Tino Sidin dikenal sebagai sosok yang menjalani banyak peran dalam kehidupannya. Selain menjadi guru gambar, ia juga pernah berkecimpung sebagai pejuang, pekerja sosial, pandu atau pramuka, pekerja seni, hingga pekerja film.

Kisah multidimensi tersebut menjadi bagian penting yang ingin diperkenalkan kembali melalui film animasi. Dengan medium animasi, perjalanan hidup Pak Tino Sidin diharapkan lebih mudah diterima oleh generasi anak-anak dan generasi muda saat ini.

Film tersebut juga menjadi salah satu cara untuk menjaga ingatan kolektif terhadap sosok Pak Tino Sidin sekaligus memperkenalkan nilai-nilai pendidikan, kreativitas, dan keteladanan yang dimilikinya.

Ketua Museum TTS, Ir Panca Takaryati, mengatakan peluncuran film animasi Biotik Pak Tino Sidin merupakan bagian dari rangkaian kegiatan untuk memeriahkan Hari Anak Nasional.

Selain peluncuran film, kegiatan tersebut juga diisi dengan sarasehan dan diskusi serta gelar karya kelas menggambar 2026.

Rangkaian kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa Museum Taman Tino Sidin tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan mengenalkan sejarah Pak Tino Sidin. Museum juga diarahkan menjadi ruang yang memungkinkan masyarakat, khususnya anak-anak, terlibat secara aktif.

Melalui aktivitas menggambar, diskusi, hingga pemutaran film animasi, pengunjung dapat berinteraksi, menghasilkan karya, serta saling bertukar pengetahuan.

Konsep tersebut, diharapkan membuat museum menjadi ruang pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.

Wakil Ketua Komisi D DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, turut memberikan apresiasi terhadap peluncuran film animasi Biotik Pak Tino Sidin.

“Film animasi, dapat menjadi media untuk memberikan informasi sekaligus mengenalkan kembali legenda Pak Tino Sidin sebagai guru gambar anak-anak. Kehadiran film animasi ini dapat mendorong semakin banyak anak tertarik pada dunia menggambar dan berkarya, khususnya melalui aktivitas yang diselenggarakan Museum Tino Sidin,” ungkapnya.

Anton juga berharap kegiatan menggambar di Museum TTS dapat terus berkembang. Saat ini, kelas menggambar disebut baru berlangsung pada Sabtu selama sekitar dua jam.

“Semoga film animasi ini akan berkembang dan membuat banyak anak bersemangat untuk ikut gemar melukis, khususnya di Museum Tino Sidin,” ujarnya.

Menurut Anton, keberadaan Museum Tino Sidin juga memiliki potensi, untuk melahirkan generasi penerus yang memiliki ketertarikan terhadap seni. Bahkan, keluarga Pak Tino Sidin sendiri masih memiliki generasi penerus dari kalangan cucu dan cicit.

Selain mengapresiasi film animasi Biotik Pak Tino Sidin, Anton menyampaikan pentingnya pengembangan museum di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Komisi D DPRD DIY saat ini telah membuat naskah akademik untuk Raperda “Jogja The Living Museum”, gagasan ini diharapkan dapat memperkuat keberadaan museum di DIY, baik yang berkaitan dengan peninggalan budaya berwujud atau tangible maupun warisan budaya tak berwujud atau intangible,” kata Anton.

Menurut Anton, museum tidak semestinya hanya dipandang sebagai tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Museum juga dapat menjadi sarana belajar sejarah dan budaya yang menarik bagi masyarakat serta wisatawan.

Pengembangan museum bahkan dinilai dapat menjadi bagian dari strategi memperkuat destinasi wisata budaya di Yogyakarta.

“Dengan semakin banyak museum yang dikembangkan sebagai ruang edukasi dan pengalaman budaya, wisatawan diharapkan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas selama berada di Yogyakarta. Hal itu sekaligus dapat mendukung peningkatan length of stay atau lama tinggal wisatawan serta mendorong kunjungan wisata yang lebih berkualitas,” tutup Anton.(*)

Penulis : Elis

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *