INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Festival Prawirotaman 2026 kembali menghadirkan Fashion on the Street sebagai salah satu agenda utama untuk memperkuat identitas Prawirotaman sebagai kawasan wisata sekaligus kampung batik di Kota Yogyakarta.
Digelar pada 22–23 Agustus 2026 di kawasan Jalan Prawirotaman, Festival Prawirotaman tahun ini mengusung tema “Contemporary Art Batik Evolution – Milenial Batik Revolution”. Tema tersebut menjadi upaya untuk memperkenalkan batik dalam kemasan yang lebih segar dan dekat dengan generasi muda.
Selain Fashion on the Street, Festival Prawirotaman 2026 juga menghadirkan bazar pernak-pernik, pakaian, kuliner, serta pameran batik kontemporer. Pameran bertajuk Contemporary Art Batik Evolution berlangsung pada 21–23 Agustus di Java Villa Hotel dan Resto.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Yogyakarta, Kadri Renggana, mengatakan Festival Prawirotaman tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkarya sekaligus memperkenalkan batik kepada masyarakat dan wisatawan.
Menurut Kadri, keterlibatan anak muda, pelaku usaha, dan UMKM menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya.
“Batik hadir dengan cara yang lebih segar. Anak-anak muda mendapatkan ruang untuk berkarya. Pelaku usaha dan UMKM ikut bergerak. Demikian pula wisatawan mendapatkan pengalaman yang khas ketika berada di Kota Yogyakarta,” ujarnya, dikutip Senin (25/8/2026).
Ia menambahkan, warisan budaya harus terus dikembangkan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Budaya, menurutnya, dapat menjadi sumber kreativitas, membuka kesempatan kerja, menggerakkan UMKM, sekaligus menghidupkan sektor pariwisata.
Kawasan Prawirotaman dinilai menjadi lokasi yang tepat untuk memperlihatkan perpaduan budaya dan kreativitas Yogyakarta, yang selama ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisatawan dari berbagai daerah, termasuk wisatawan mancanegara.
“Ketika batik dan karya anak muda tampil di jalan-jalan Prawirotaman, sesungguhnya kita sedang memperkenalkan wajah Kota Yogyakarta langsung pada dunia,” kata Kadri.
Founder sekaligus Inisiator Fashion on the Street Prawirotaman, Lia Mustofa, mengatakan Fashion on the Street tahun ini telah memasuki penyelenggaraan ke-11.
“Kegiatan ini pada awalnya merupakan tugas akhir anak didiknya. Namun, konsepnya kemudian berkembang karena Prawirotaman memiliki karakter sebagai kampung wisatawan sekaligus kampung batik. Karena mungkin vibe-nya kampung wisatawan, kemudian punya cerita di balik itu tentang kampung batik. Itu yang membuat akhirnya ter-branding lebih baik,” jelasnya.

Pada Festival Prawirotaman 2026, sekitar 40 desainer terlibat dengan 12 brand yang ditampilkan. Sejumlah desainer dari luar Yogyakarta juga diundang, antara lain Tirsa dari Denpasar, Sanet dari Malang, dan Mega dari Surabaya.
Sementara itu, sejumlah desainer muda Yogyakarta yang turut berkontribusi antara lain Rony Bilardo, Prita, Laili, Didi Warsito, dan Putri Ramadhani.
Fashion on the Street tahun ini juga diperluas. Jika sebelumnya hanya digelar di Prawirotaman 1, kini kegiatan tersebut turut menjangkau Prawirotaman 2. Selain itu, pameran batik kontemporer juga digelar di Java Villa Hotel.
Lia mengatakan generasi muda menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Fashion on the Street. Para desainer dan model yang terlibat mayoritas berasal dari kalangan muda.
Bahkan, sejumlah wisatawan dan mahasiswa dari luar negeri ikut ambil bagian, di antaranya berasal dari Belanda, Jepang, dan Korea.
“Kami memang mengkhususkan para desainer dan modelnya adalah generasi muda. Ingin ada keberlanjutan,” ujarnya.
Upaya regenerasi tidak hanya dilakukan melalui Fashion on the Street. Lia bersama Dekranasda DIY dan Bank Indonesia KPw DIY juga melakukan pendampingan terhadap desainer dan pembatik muda.
Program pendampingan tersebut kini telah memasuki angkatan ketiga dengan melibatkan sekitar 25 desainer dan pembatik muda.
Menurut Lia, regenerasi menjadi hal penting untuk menjaga keberlanjutan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia. Generasi muda perlu diberikan ruang untuk tidak hanya memproduksi batik, tetapi juga berkarya dan mengembangkan kreativitas.
“Harapannya Jogja Kota Batik Dunia. Salah satu unsur yang harus dipertanggungjawabkan agar penghargaan Kota Batik ini tetap terjaga adalah mampu meregenerasi generasi muda,” ucapnya.
Dalam pameran Contemporary Art Batik Evolution, sekitar 25 pembatik muda binaan turut menampilkan karya. Pameran tersebut juga melibatkan seniman-seniman Yogyakarta yang mengirimkan berbagai karya.
Lia mengatakan pameran batik kontemporer tersebut sekaligus menjadi upaya membangkitkan kembali identitas batik di kawasan Prawirotaman. Sebab, saat ini jumlah pembatik di wilayah tersebut semakin terbatas.
“Harapannya dari tradisi menjadi modern tetap terjaga. Meskipun milenial batik revolution berjalan cepat, kita tidak bisa menghindari teknologi. Ada percepatan dalam membuat desain, tetapi batiknya tetap terjaga secara tradisi,” imbuhnya.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan mengapresiasi penyelenggaraan pameran batik kontemporer yang menjadi bagian dari Fashion on the Street Festival Prawirotaman. Menurutnya, keterlibatan anak muda dalam mengembangkan desain dan batik menjadi langkah penting untuk melahirkan kreativitas baru.
“Saya sangat mengapresiasi ini membuat anak-anak muda menjadi lebih berani untuk mengkreasikan membuat batik dan juga desain-desain yang baru,” kata Wawan.
Wawan juga berharap pengembangan Festival Prawirotaman tidak berhenti di kawasan tersebut. Menurutnya, kegiatan yang sudah dikenal hingga luar negeri itu perlu mendapat dukungan lebih luas, baik di tingkat kota maupun Daerah Istimewa Yogyakarta.
Wawan mengatakan, pengembangan Prawirotaman Festival membutuhkan ekosistem yang melibatkan seniman, industri kreatif, pelaku perhotelan, restoran, dan berbagai sektor lain di kawasan tersebut.
“Kita bicara adalah dampaknya. Pemerintah Kota Yogya sedang mengemas Yogya Kota Festival. Salah satu yang menjadi unggulan adalah Prawirotaman Festival dan juga menjadi kalender tahunannya dari Dinas Pariwisata,” paparnya.
Wawan berharap Festival Prawirotaman ke depan dapat berkembang menjadi ikon unggulan tidak hanya bagi Kota Yogyakarta, tetapi juga DIY.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati mengatakan Festival Prawirotaman juga menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara.
Berdasarkan data hingga 31 Desember 2025, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kota Yogyakarta berada di kisaran 316 ribu orang. Sementara kunjungan wisatawan nusantara mencapai sekitar 11 juta orang.
Lucia mengatakan tantangan Kota Yogyakarta saat ini adalah meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara. Festival Prawirotaman diharapkan dapat menjadi salah satu daya tarik untuk mencapai target tersebut.
“Challenge dari Pak Wali Kota adalah bagaimana caranya untuk mendongkrak wisatawan mancanegara agar bisa hadir dan menjadikan Yogyakarta sebagai tujuan wisata luar negeri, Prawirotaman memiliki modal kuat karena selama ini dikenal sebagai kawasan yang banyak dikunjungi wisatawan asing. Selain Prawirotaman, kawasan Sosromenduran dan Sosrowijayan juga dikenal sebagai kawasan internasional,” jelas Lucia.
Festival Prawirotaman telah masuk dalam kalender event Kota Yogyakarta dan menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-270 Kota Yogyakarta.(*)
Penulis : Elis
