Pendidikan Yogyakarta

Saat Kesuksesan Diuji Kehilangan, Pelajaran Hidup William Soeryadjaya Dibedah di UIN Sunan Kalijaga

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Perjalanan hidup William Soeryadjaya tidak hanya berbicara tentang kesuksesan membangun dunia usaha. Di balik pencapaiannya, terdapat kisah tentang kehilangan, kegagalan, integritas, ikhtiar, dan kepasrahan kepada Tuhan.

Nilai-nilai tersebut menjadi pembahasan dalam bedah buku Semangat Hidup dan Pasrah kepada Tuhan: Memoar William Soeryadjaya yang digelar di Aula Convention Hall lantai satu UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Selasa (8/9).

Kegiatan yang diselenggarakan UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan Mubarok Institute dan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. itu tidak hanya membedah kisah sukses William, tetapi melihat perjalanan hidupnya dari perspektif keluarga, etika bisnis, pembangunan ekonomi, spiritualitas, kesejahteraan sosial, hingga sumber daya manusia.

Komisaris Utama PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. sekaligus putra kedua William Soeryadjaya, Edwin Soeryadjaya, menyebut integritas sebagai warisan terbesar yang ditinggalkan sang ayah.

“Yang paling penting yang ayah tinggalkan adalah integritas. Salah satu masalah yang kita hadapi dalam dunia usaha adalah integritas,” ujar Edwin pada keterangan, Rabu (9/9/2026).

Menurutnya, integritas justru diuji ketika seseorang menghadapi situasi sulit. Salah satu ujian terbesar dalam perjalanan William adalah ketika harus melepaskan Astra.

Guru Besar Filsafat Hukum Islam UIN Sunan Kalijaga, Prof. Shofiyullah, menilai kebesaran William juga terlihat dari caranya memperlakukan orang lain.

“Orang besar adalah orang yang menganggap orang lain besar,” katanya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Sunan Kalijaga, Prof. Abdur Rozaki, melihat perjalanan William dalam konteks pentingnya kemandirian ekonomi bangsa. Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya mencetak lulusan untuk bekerja, tetapi juga harus membentuk generasi yang mampu menciptakan gagasan, membangun usaha, dan membuka lapangan pekerjaan.

“Pengasuh Pondok Pesantren Budaya Kaliopak, Jadul Maula, menyoroti hubungan antara ikhtiar dan kepasrahan kepada Tuhan. Pasrah bukan berarti berhenti berusaha. Manusia tetap harus bekerja, mengambil keputusan, dan menghadapi risiko, sembari menyadari bahwa hasil akhir tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya,” ungkapnya.

Perspektif sosial juga disampaikan Kepala Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Yogyakarta Kementerian Sosial RI, Haruman Hendarsa.

“Pembangunan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari seberapa luas kesempatan yang dibuka bagi masyarakat untuk memperbaiki kehidupan,” kata Haruman.

Sementara Kepala Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Surakarta, Veri Fahruddin, menegaskan bahwa manusia tetap menjadi fondasi penting dalam dunia industri.

“Produktivitas, etos kerja, integritas, dan daya tahan menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan usaha yang produktif, inovatif, dan tepercaya,” ucapnya.

Bedah memoar tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh dunia usaha, antara lain Boy Thohir, Michael William P. Soeryadjaya, Albert Saputro, perwakilan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk., serta Sekretaris Jenderal Mubarok Institute Heri Purnomo.

Pada akhirnya, kisah William Soeryadjaya dibaca bukan sekadar sebagai cerita tentang keberhasilan seorang pengusaha. Memoar tersebut menjadi ruang refleksi tentang pentingnya integritas, keberanian menghadapi kehilangan, ketekunan dalam berusaha, serta menjadikan keberhasilan sebagai sarana untuk memberikan manfaat bagi sesama.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *