INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Putra ketiga Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Rizal Aldyatma (26), resmi menikah dengan Salsabila Azani Wijaya (25), gadis asal Bandung. Pernikahan keduanya berlangsung di Grha Pradipta Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, dengan konsep Natural Kejawen yang mengangkat budaya Jawa dan melibatkan pelaku UMKM lokal.
Rizal Aldyatma merupakan putra ketiga Hasto Wardoyo dengan Dwikisworo Setyowireni. Saat ini, Rizal aktif sebagai anggota DPRD Kabupaten Kulon Progo dari PDI Perjuangan. Sementara itu, Salsabila Azani Wijaya merupakan putri pasangan Dadang Godfried Wijaya Aljabri dan Min Suryani dari Bandung.
Pernikahan Rizal dan Salsabila menjadi momentum pertemuan dua keluarga besar dari Yogyakarta dan Bandung. Hajatan tersebut juga berlangsung meriah dengan kehadiran ribuan undangan dari berbagai kalangan.
Asisten Administrasi Umum Setda Kota Yogyakarta, sekaligus Ketua Panitia Pernikahan Rizal dan Salsabila, Dedi Budiono, mengatakan keluarga Hasto Wardoyo menyiapkan acara tersebut untuk memberikan kenyamanan kepada para tamu undangan.
“Ini hajatan Pak Hasto untuk menikahkan putranya yang laki-laki, Mas Rizal. Mas Rizal ini kan saat ini posisinya anggota DPRD di Kulon Progo. Dapat besan dari Bandung,” kata Dedi.
Dedi menyebut, panitia mengundang sekitar 2.700 tamu dalam acara pernikahan Rizal dan Salsabila. Jika setiap undangan datang bersama pasangan, jumlah tamu yang hadir dapat mencapai sekitar 5.000 hingga 6.000 orang.
Ia juga menyiapkan, pelayanan khusus bagi tamu VIP dan VVIP. Sebanyak 76 tamu masuk kategori VVIP, sedangkan 474 tamu lainnya masuk kategori VIP. Dengan demikian, terdapat sekitar 550 tamu VIP dan VVIP yang hadir dalam hajatan tersebut.
Para tamu berasal dari berbagai kalangan, termasuk keluarga Keraton Yogyakarta, Pakualaman, Forkopimda DIY, serta sejumlah tokoh dan pejabat dari Jakarta.
Kehadiran sejumlah tokoh politik nasional juga mewarnai pernikahan putra Hasto Wardoyo. Dari jajaran PDI Perjuangan, hadir Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, dan mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.
Dedi mengatakan, panitia berupaya memberikan pelayanan terbaik karena acara tersebut turut dihadiri tamu-tamu penting.
“Kita selaku ketua panitia ketika pelaksanaan hajatan mantu ini berusaha membantu Pak Wali agar hajatan ini nyaman bagi para tamu,” ujarnya.
Menurut Dedi, rangkaian acara berlangsung relatif lancar. Kepadatan sempat terjadi di area tamu reguler, tetapi kondisi tersebut menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat dan undangan yang hadir.
“Alhamdulillah saya lihat berjalan lancar semua, meskipun tadi yang tamu reguler tampak berdesakan. Tapi itu menunjukkan bahwa antusias para undangan untuk menghadiri prosesi ngunduh mantu ini cukup tinggi,” katanya.

Makanan Berlebih Akan Disumbangkan ke Panti Asuhan
Panitia juga menyiapkan konsumsi dalam jumlah besar, untuk mengantisipasi jumlah tamu yang hadir. Dedi memastikan, ketersediaan makanan tetap terjaga selama acara berlangsung.
Bahkan, makanan yang disiapkan masih tersisa karena panitia menyediakan makanan cadangan.
“Ketersediaan makanan saya lihat masih berlebih, karena memang kita sediakan ada cadangan. Ini nanti kelebihan makanan mau kita sumbangkan di panti asuhan,” kata Dedi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya panitia agar makanan yang tersisa tetap memberikan manfaat dan tidak terbuang sia-sia.
Angkat Konsep Natural Kejawen
Pernikahan Rizal Aldyatma dan Salsabila Azani Wijaya tidak hanya mengedepankan kemeriahan acara. Keluarga juga memilih konsep Natural Kejawen untuk memperkuat nuansa budaya Jawa.
Konsep tersebut terlihat dari hiburan yang disiapkan panitia. Gamelan dan tarian Jawa menjadi bagian dari rangkaian acara. Dedi tetap menghadirkan band sebagai hiburan, tetapi unsur tradisi Jawa menjadi bagian penting dalam keseluruhan konsep.
Dedi mengatakan konsep tersebut sengaja dipilih untuk menghidupkan kebanggaan terhadap budaya lokal atau local pride.
“Konsep pernikahan Natural Kejawen. Jadi ada band yang muncul, hanya gamelan, kemudian hiburannya juga tarian Jawa, sehingga memang konsepnya ya itu tadi menghidupkan local pride, budaya Jawa,” jelasnya.
Menurutnya, pilihan konsep tersebut juga sesuai dengan latar belakang Hasto Wardoyo sebagai orang Jawa.
“Pak Wali sebagai orang Jawa,” ujarnya.

Pernikahan Putra Hasto Libatkan UMKM Yogyakarta
Selain menghadirkan kesenian tradisional, panitia juga melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam hajatan tersebut.
Produk UMKM digunakan untuk memenuhi kebutuhan suvenir bagi para tamu. Panitia memastikan produk yang diberikan kepada tamu merupakan produk lokal dan tidak menggunakan barang impor.
“Termasuk itu yang souvenir-souvenirnya itu tidak ada yang barang impor. Semua produk UMKM. Jadi ada bakpia, ada makanan-makanan khas UMKM,” kata Dedi.
Untuk tamu VIP, pihaknya menyiapkan sejumlah makanan tradisional seperti bakpia dan keripik. Produk tersebut berasal dari UMKM binaan yang diminta untuk menyediakan kebutuhan suvenir. Dedi menekankan panitia membeli seluruh produk tersebut dari pelaku UMKM.
“Jadi mereka UKM binaan-binaan itu yang diminta untuk menyediakan itu. Tapi bukan gratis ya, kita beli,” tegasnya.
Sementara itu, tamu reguler mendapatkan suvenir yang berbeda-beda. Ada yang memperoleh bakpia, peyek, hingga keripik.
“Kalau yang non-VIP itu ala carte, ada yang dapat bakpia, ada yang dapat peyek, ada yang dapat keripik-keripik. Tapi yang VVIP digabung, namun jumlahnya lebih banyak,” ujarnya.
Pelibatan UMKM dalam pernikahan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat. Produk lokal tidak hanya menjadi suvenir, tetapi juga mendapat ruang dalam sebuah acara keluarga besar yang dihadiri ribuan orang.(*)
Penulis : Elis
