Seni Budaya Yogyakarta

Yogyakarta Jadi Ruang Kolaborasi Seniman Indonesia dan 8 Negara Pasifik Lewat IPCC 2026

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Yogyakarta menjadi ruang kolaborasi seniman Indonesia dan delapan negara Pasifik melalui program residensi Indonesia Pacific Cultural Connect (IPCC) 2026. Program ini mempertemukan puluhan seniman untuk mengeksplorasi seni musik, tari, dan kriya sebagai sarana memperkuat diplomasi budaya serta kerja sama lintas negara.

Sebanyak 47 seniman dan pelaku budaya dari delapan negara Pasifik serta sembilan provinsi di Indonesia mengikuti residensi selama 10 hari yang dimulai pada 5 Oktober 2026. Program tersebut ditutup dengan perhelatan puncak hasil kolaborasi 8 Negara Asia Pasifik.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengatakan Indonesia memiliki hubungan sejarah dan budaya yang erat dengan kawasan Pasifik melalui interaksi maritim, migrasi, serta pertukaran pengetahuan dan tradisi selama berabad-abad.

“Sering kali kita lupa bahwa kita ini juga merupakan bagian dari Pasifik,” kata Fadli usai acara di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Rabu (14/10/2026) malam.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon | Foto : Elis

Menurut Fadli, budaya memiliki peran penting sebagai kekuatan diplomasi atau soft power untuk membangun hubungan yang lebih baik antarnegara. Melalui IPCC 2026, para pelaku budaya dari Indonesia dan negara-negara Pasifik mendapat ruang untuk saling mengenal, bertukar pengetahuan, dan menciptakan karya bersama.

“Kalau hard power itu seperti militer. Tetapi kalau soft power ini budaya, bisa menjadi satu jembatan untuk perdamaian dan untuk kerja sama di berbagai bidang,” ujarnya.

Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti, mengatakan residensi IPCC 2026 memperkuat pemahaman mengenai nilai universal seni yang tidak mengenal batas wilayah maupun negara.

Menurut Endah, Indonesia memiliki kedekatan budaya dengan negara-negara kepulauan Pasifik, termasuk melalui rumpun budaya Austronesia dan Melanesia. Kesamaan tersebut menjadi salah satu landasan untuk membangun kolaborasi dan memperkuat hubungan antarmasyarakat.

Delapan negara Pasifik yang terlibat dalam program ini meliputi Fiji, Kepulauan Marshall, Kaledonia Baru, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Timor-Leste, dan Vanuatu, bersama Indonesia.

“Program ini menguatkan pemahaman kita mengenai nilai universal dari seni. Ia tidak kenal batas wilayah dan negara,” kata Endah.

Dalam program residensi IPCC 2026, para seniman mengeksplorasi berbagai bentuk kesenian tradisional melalui kolaborasi musik, tari, dan kriya. Salah satu yang menarik perhatian peserta adalah gamelan Jawa yang kemudian dikembangkan menjadi bagian utama dalam komposisi musik lintas budaya.

Cultural connect IPCC 2026 | Foto : Elis

Juru bicara Yayasan Works of Wonder (WoW) Indonesia, Achmad Ridho Wahyudi, mengatakan ketertarikan para residen terhadap gamelan mendorong kurator untuk memfasilitasi penciptaan karya musik kolaboratif.

Awalnya, gamelan diperkenalkan sebagai bagian dari pengenalan instrumen musik tradisional Indonesia. Namun, para peserta dari negara-negara Pasifik menunjukkan ketertarikan untuk mengeksplorasi instrumen tersebut lebih jauh.

“Para peserta justru tertarik sehingga kurator memfasilitasi merancang karya kolaborasi musik yang menggabungkan gamelan dengan alat musik tradisional Indonesia dan mancanegara,” ujar Ridho.

Selain musik, peserta juga mengolah bambu dan batok kelapa menjadi produk kriya yang memiliki nilai seni sekaligus potensi ekonomi. Anyaman bambu, misalnya, dikembangkan menjadi properti tari jaranan yang digunakan dalam pertunjukan hasil kolaborasi.

Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa residensi tidak hanya menghadirkan pertukaran pengetahuan budaya, tetapi juga membuka peluang pengembangan produk kreatif berbasis tradisi lokal.

“harapannya program ini dapat menjadi pintu pembuka sebagai penguatan kerja sama Indonesia dengan negara-negara Pasifik di berbagai sektor, sekaligus mendukung pengembangan ekosistem seni dan budaya nasional,” kata Endah.

Pameran hasil residensi turut menampilkan karya kolaborasi musik serta produk kerajinan bambu dan kelapa bersama produk seni dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lainnya.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *