Lifestyle Yogyakarta

Dukung Industri Kreatif, Pemkot Yogyakarta Apresiasi Film Piye To Kih?

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Pemerintah Kota Yogyakarta mendukung perkembangan industri kreatif, khususnya perfilman yang mampu mengangkat potensi generasi muda sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya lokal. Dukungan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, dalam audiensi promosi dan pemutaran khusus film Piye To Kih? di Balai Kota Yogyakarta.

Film produksi Miracle Pictures yang disutradarai sekaligus diproduseri Ito Mavin tersebut mengusung genre drama komedi dengan sentuhan supranatural. Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 19 November 2026.

Wawan Harmawan mengapresiasi kehadiran film Piye To Kih? yang tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan moral tentang refleksi diri dan proses menjadi pribadi yang lebih baik.

“Film Piye To Kih? dengan kemasan komedi ringan juga relevan untuk bisa dinikmati masyarakat. Kami mengapresiasi terlebih, film ini turut melibatkan sejumlah pemain asal Yogyakarta, termasuk Marwoto,” ujar Wawan Harmawan saat memberikan sambutan pada Audiensi CINELIFT promosi film “Piye To Kih” di ruang Yudhistira Balaikota Yogyakarta, Jumat (23/10/2026).

Menurutnya, Kota Yogyakarta memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai salah satu pusat kegiatan perfilman nasional. Selain menjadi tujuan pemutaran khusus berbagai film, Yogyakarta juga memiliki beragam lokasi yang menarik untuk dijadikan tempat pengambilan gambar.

Ia berharap para sineas dapat berkontribusi mempromosikan Yogyakarta melalui karya film, baik dengan melibatkan talenta lokal maupun mengangkat destinasi budaya dan pariwisata. Salah satu kawasan yang dikenal melalui dunia perfilman adalah Prawirotaman, yang menjadi salah satu lokasi dalam film Ada Apa dengan Cinta?.

Pemerintah Kota Yogyakarta juga terus memperkuat posisinya sebagai Kota Festival. Melalui Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan, pemerintah daerah secara rutin menyelenggarakan Kota Baru Heritage Film Festival (KHFF) sebagai ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mengembangkan, dan merawat warisan budaya melalui film.

“Film ini lucu, tetapi ada pesan moral di dalamnya. Saya lebih mengistilahkan sebagai film refleksi diri, bagaimana kita melihat diri sendiri. Tidak ada sesuatu yang instan, semuanya harus melalui proses,” ujar Wawan.

Sutradara sekaligus produser Piye To Kih?, Ito Mavin, menjelaskan bahwa film tersebut dirancang agar dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, termasuk keluarga dan generasi muda. Film ini telah dinyatakan lolos sensor untuk penonton berusia 13 tahun ke atas.

Salah satu daya tarik film ini adalah penggunaan bahasa Jawa dalam sekitar 85 persen dialognya. Untuk membantu penonton dari berbagai daerah memahami cerita, hampir seluruh dialog berbahasa Jawa dilengkapi dengan subtitle.

Ito mengatakan, penggunaan bahasa Jawa merupakan bagian dari upaya memperkaya budaya Indonesia melalui industri perfilman. Ia berharap film tersebut dapat mendorong sineas lain untuk mengangkat bahasa daerah masing-masing ke layar lebar.

Menurutnya, keberagaman bahasa dan budaya Indonesia merupakan kekayaan yang dapat dikembangkan menjadi identitas sekaligus daya tarik karya film nasional.

Film Piye To Kih? berkisah tentang Mukidi, seorang pria yang berpura-pura kaya demi mendapatkan hati perempuan yang dicintainya. Dalam upaya mewujudkan keinginannya, Mukidi berusaha membeli rumah. Namun, rumah yang dibelinya ternyata menyimpan kisah misterius.

Di dalam rumah tersebut, Mukidi menemukan sebuah boneka yang menyimpan sosok arwah seseorang yang telah meninggal sekitar 20 tahun sebelumnya. Kehadiran sosok supranatural itu kemudian memunculkan berbagai persoalan yang harus dihadapi Mukidi.

Di balik unsur komedi dan supranatural, film ini membawa pesan tentang pentingnya memantaskan diri sebelum menginginkan sesuatu. Berbagai persoalan yang dialami Mukidi menjadi bagian dari proses pembentukan dirinya menuju pribadi yang lebih baik.

Tokoh Mukidi diperankan Heri Chandra, sedangkan Dara Sarasvati memerankan Sukma. Film ini juga dibintangi Sutrisno Agung sebagai Gendut, Eko Dunung sebagai Penyok, serta Marwoto, Ibnu Gundul, Yono Bakrie, Wiyono, Rizka Oktavia, Faisal Wash, Fajar Mukti, Sky Sitorus, Gabriella Desta, TJ Ruth, Devina Aureel, Lorenzo Gibbs, dan Ivone Dahler.

Dukungan terhadap film yang mengangkat identitas lokal juga disampaikan Kepala Bidang Sejarah, Permuseuman, Bahasa, dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Andrini Wiramawati.

Ia mengapresiasi produksi film yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bagian dari upaya menjaga dan memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas.

“Kota Baru Heritage Film Festival (KHFF) telah diselenggarakan sejak 2023 dan berkembang menjadi kegiatan berskala nasional. Festival ini menghadirkan berbagai program, mulai dari pemutaran film kompetisi, pemutaran film nonkompetisi, hingga program pendukung lainnya,” kata Andrini menjelaskan.

Menurutnya, film Piye To Kih? berpotensi menjadi bagian dari kolaborasi program pemutaran non kompetisi pada penyelenggaraan festival mendatang. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta juga membuka peluang untuk membantu promosi film melalui kanal media sosial resmi, termasuk Instagram dan YouTube.

“Film “Piye To Kih?” berpotensi menjadi bagian dari kolaborasi program pemutaran non kompetisi pada penyelenggaraan festival berikutnya. Dinas Kebudayaan juga membuka peluang untuk membantu promosi film melalui kanal media sosial resmi, termasuk Instagram dan YouTube,” tambahnya.

Melalui dukungan pemerintah daerah, keterlibatan pelaku kreatif lokal, serta promosi budaya dan pariwisata, film Piye To Kih? diharapkan dapat menjadi contoh pengembangan industri kreatif yang tetap berakar pada identitas lokal.

“Selain menjadi sarana hiburan, film ini diharapkan mampu memperkenalkan bahasa Jawa kepada penonton lintas daerah sekaligus memperkuat posisi Yogyakarta sebagai salah satu ruang tumbuh industri perfilman Indonesia,” tutup Andrini.(*)

Penulis : Elis

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *