INTENS PLUS – JAKARTA. Proyek ambisius Jalan Tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap (Getaci) senilai Rp56 triliun hingga kini belum menunjukkan perkembangan signifikan. Minimnya minat investor membuat pemerintah harus mengambil langkah baru dengan mengkaji ulang kelanjutan proyek sekaligus mengalihkan fokus ke infrastruktur lain yang dinilai lebih mendesak.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, mengungkapkan rendahnya minat investor terhadap proyek tol terpanjang di Indonesia itu disebabkan oleh proyeksi lalu lintas kendaraan (traffic) yang kurang menarik secara finansial.
“Biasanya kalau satu proyek yang kita tawarkan itu tidak banyak minatnya, ya biasanya karena traffic-nya kurang,” ujar Dody di Kantor Kementerian PU, Jumat (10/4/2026).
Dalam proyek jalan tol berbasis investasi, tingkat trafik menjadi faktor utama dalam menentukan kelayakan finansial. Proyek dengan potensi kendaraan rendah dinilai berisiko karena berpengaruh langsung terhadap pendapatan dari tarif tol.
Dody menjelaskan, dalam kondisi normal pemerintah dapat memberikan dukungan konstruksi atau chip in untuk meningkatkan daya tarik proyek. Namun, keterbatasan anggaran membuat opsi tersebut tidak menjadi prioritas saat ini.
“Kalau traffic-nya kurang, supaya tetap menarik kan pemerintah chip in. Dengan keterbatasan anggaran hari ini, akhirnya itu dipinggirkan,” katanya.
Akibatnya, proyek Tol Getaci yang telah masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak 2020 harus melalui proses evaluasi ulang setelah beberapa kali gagal lelang.
Di tengah keterbatasan fiskal, pemerintah kini dihadapkan pada pilihan strategis dalam menentukan prioritas pembangunan.
Alih-alih memaksakan dukungan untuk Tol Getaci, Kementerian PU mempertimbangkan percepatan proyek infrastruktur yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat.
Salah satunya adalah pembangunan Bendungan Cibeet dan Bendungan Cijurey yang berfungsi untuk mengurangi risiko banjir di wilayah Karawang, Bekasi, dan Bogor.
“Apakah lebih baik kita chip in di Getaci atau kita percepat Cibeet dan Cijurey supaya Karawang dan Bekasi tidak banjir lagi ke depannya,” ujar Dody.
Ia menargetkan, kedua proyek bendungan tersebut dapat selesai secara bertahap pada periode 2027 hingga 2028.
“Kalau tidak segera diselesaikan, saya khawatir Karawang dan Bekasi banjir lagi,” tegasnya.
Tol Getaci merupakan proyek jalan tol terpanjang yang dirancang membentang sepanjang 206,65 kilometer, menghubungkan Gedebage di Bandung hingga Cilacap di Jawa Tengah.
Proyek ini akan melintasi dua provinsi, yakni Jawa Barat sepanjang 169,09 km dan Jawa Tengah sepanjang 37,56 km.
Dengan panjang tersebut, Tol Getaci digadang-gadang menjadi jalan tol terpanjang di Indonesia, melampaui ruas tol lain di jaringan Trans Jawa bagian selatan.
Secara teknis, proyek ini dibagi dalam empat seksi utama:
- Seksi 1 Gedebage–Garut Utara (45,20 km)
- Seksi 2 Garut Utara–Tasikmalaya (50,32 km)
- Seksi 3 Tasikmalaya–Patimuan (76,78 km)
- Seksi 4 Patimuan–Cilacap (34,35 km)
Namun, sejumlah segmen dinilai memiliki biaya konstruksi tinggi, terutama jalur Bandung-Garut, sehingga mempengaruhi kelayakan investasi.
Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PU, Rachman Arief Dienaputra, mengatakan bahwa proyek ini masih dalam tahap peninjauan ulang.
“Karena memang biaya dari Bandung-Garut itu terlalu mahal. Harus dikaji ulang lagi,” ujarnya.
Kondisi serupa juga dialami proyek Tol Gilimanuk-Mengwi di Bali. Tol sepanjang 96,84 kilometer dengan nilai investasi sekitar Rp25,4 triliun itu juga belum berhasil menarik investor dan masih dalam tahap evaluasi sebelum dilelang kembali.(*)
Penulis : FDA
