Ekonomi Jabodetabek

Rupiah Tembus Rp17.800, Industri Mulai Lakukan Efisiensi dan PHK

INTENS PLUS – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus level Rp17.800 mulai memberikan tekanan nyata terhadap sektor industri nasional. Kenaikan biaya impor bahan baku hingga melemahnya permintaan ekspor membuat sejumlah perusahaan melakukan langkah efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja dan penghentian operasional pabrik.

Pada perdagangan terbaru, rupiah sempat menyentuh level Rp17.830 per dolar AS. Kondisi tersebut memperpanjang tren pelemahan mata uang Garuda yang sebelumnya juga ditutup melemah pada perdagangan Selasa (26/5/2026) di level Rp17.796 per dolar AS.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah yang berkepanjangan mulai memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan industri yang bergantung pada bahan baku impor serta pasar ekspor.

Menurutnya, kenaikan kurs dolar AS membuat biaya produksi perusahaan melonjak karena sebagian besar bahan baku industri masih didatangkan dari luar negeri. Di sisi lain, kondisi ekonomi global yang belum stabil juga menyebabkan permintaan ekspor melemah.

“Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor sehingga meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK),” ujar Ibrahim, Rabu (27/5/2026).

Dampak pelemahan rupiah mulai terlihat di sektor manufaktur, terutama industri elektronik. Salah satu kasus yang mencuat adalah penghentian operasional pabrik PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat.

Penutupan pabrik tersebut menyebabkan sekitar 350 pekerja kehilangan pekerjaan. Ibrahim menilai kondisi tersebut tidak lepas dari tekanan biaya impor yang meningkat serta melemahnya pasar ekspor yang menjadi salah satu tujuan utama penjualan perusahaan.

Kondisi ini dinilai menjadi sinyal bahwa pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga mulai merembet ke dunia industri dan ketenagakerjaan.

Selain industri elektronik, tekanan serupa mulai dirasakan sektor tekstil, garmen, dan alas kaki yang selama ini sangat sensitif terhadap perubahan kurs mata uang asing. Industri padat karya tersebut menghadapi tantangan berat karena tingginya biaya produksi di tengah lemahnya daya beli pasar global.

Tekanan akibat mahalnya dolar AS juga mulai menghantam sektor otomotif. Kenaikan harga komponen impor membuat harga kendaraan meningkat sehingga permintaan pasar mengalami penurunan.

Di Sidoarjo, Jawa Timur, perusahaan otomotif CV Asri dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 200 karyawan akibat turunnya penjualan kendaraan.

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut menunjukkan pelemahan rupiah dapat memicu efek berantai terhadap sektor industri nasional apabila berlangsung dalam jangka panjang.

“Selain sektor elektronik, tekanan juga terjadi di industri otomotif. Kenaikan harga kendaraan akibat mahalnya komponen impor mulai menekan permintaan pasar,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika pelemahan rupiah terus berlangsung tanpa perbaikan signifikan, maka risiko PHK di berbagai sektor industri dapat semakin meningkat.

Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, pemerintah memastikan kondisi fiskal nasional masih tetap terkendali. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini masih berada dalam skenario yang telah diperhitungkan pemerintah sebelumnya.

Menurut Purbaya, berbagai simulasi ekonomi makro telah disiapkan, termasuk kemungkinan harga minyak mentah dunia mencapai 100 dolar AS per barel dan dampaknya terhadap nilai tukar rupiah.

“Ketika kita menyusun skenario harga minyak 100 dolar AS per barel, asumsi nilai tukar juga sudah dimasukkan. Jadi kondisi sekarang tidak mengganggu, APBN tetap sesuai rencana,” katanya.

Pemerintah menilai tekanan terhadap rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor global dibandingkan melemahnya fundamental ekonomi domestik. Sejumlah indikator ekonomi nasional disebut masih relatif stabil sehingga pemerintah optimistis ketahanan fiskal tetap terjaga.

Selain memantau nilai tukar rupiah, pemerintah juga terus mengawasi pergerakan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan beban subsidi energi apabila mengalami lonjakan tajam.

Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam beberapa waktu ke depan. Pada perdagangan yang bertepatan dengan libur Idul Adha 2026, rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp17.790 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Menurutnya, sentimen global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah, mulai dari kebijakan suku bunga AS, ketegangan geopolitik, hingga volatilitas harga komoditas dunia.

Meski demikian, pemerintah diharapkan terus memperkuat langkah mitigasi agar pelemahan rupiah tidak semakin menekan sektor riil dan memicu gelombang PHK yang lebih luas.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *