INTENS PLUS – JAKARTA. Kegagalan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali menuai sorotan. Presiden AS, Donald Trump, disebut-sebut menjadi salah satu faktor utama yang memicu kebuntuan diplomasi hingga saat ini.
Pernyataan tersebut mencuat setelah mantan Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, menilai pendekatan keras Washington terhadap Teheran telah merusak fondasi negosiasi yang selama ini dibangun.
Menurut Zarif, gaya diplomasi yang mengedepankan tekanan dan syarat sepihak, yang telah dimulai sejak era pemerintahan Donald Trump, menjadi penyebab utama sulitnya mencapai kesepakatan damai.
“Tidak ada negosiasi—setidaknya dengan Iran—yang akan berhasil jika didasarkan pada ‘syarat kami/Anda’,” ujar Zarif dalam pernyataannya yang dikutip Agence France-Presse, Minggu (12/4/2026).
Kebijakan luar negeri Donald Trump terhadap Iran, termasuk penarikan sepihak dari kesepakatan nuklir 2015, atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), dinilai sebagai titik awal memburuknya hubungan kedua negara.
Langkah tersebut memicu kembali sanksi ekonomi berat terhadap Iran dan meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Sejak saat itu, kepercayaan antara kedua negara terus menurun, sehingga menyulitkan upaya diplomasi di masa pemerintahan berikutnya.
Zarif, yang sebelumnya menjadi arsitek utama kesepakatan nuklir tersebut, menegaskan bahwa pendekatan koersif ala Trump masih membayangi sikap Amerika Serikat dalam negosiasi terbaru.
Ia juga menyinggung bahwa Washington belum sepenuhnya meninggalkan pola lama yang cenderung mendikte hasil perundingan tanpa mempertimbangkan kepentingan Iran secara setara.
Sebelumnya, pejabat tinggi dari Amerika Serikat dan Iran menggelar pembicaraan damai di Pakistan pada Sabtu. Pertemuan tersebut berlangsung selama sekitar 21 jam di tengah gencatan senjata yang masih bertahan.
Namun, perundingan berakhir tanpa kesepakatan final. Laporan Axios menyebutkan bahwa perbedaan utama mencakup tuntutan Iran atas kendali Selat Hormuz serta penolakannya menghentikan program pengayaan uranium.
Delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa Iran tidak bersedia memenuhi syarat yang diajukan pihaknya.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengakui adanya kemajuan dalam beberapa poin, meski perbedaan tetap bertahan pada isu-isu krusial.
Konflik Memanas Sejak Serangan Februari
Ketegangan antara kedua negara meningkat tajam sejak 28 Februari 2026, ketika serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Insiden tersebut memicu serangan balasan dari Iran dan memperluas konflik ke berbagai wilayah di Timur Tengah, meningkatkan kekhawatiran akan perang regional yang lebih besar.
Meski demikian, melalui mediasi Pakistan, kedua negara akhirnya menyepakati gencatan senjata pada (7/4/2026). Gencatan senjata tersebut masih bertahan hingga kini, meskipun situasi tetap rapuh.
Masa Depan Diplomasi Masih Abu-Abu
Hingga saat ini, belum ada kepastian apakah Amerika Serikat dan Iran akan kembali melanjutkan perundingan dalam waktu dekat. Para analis menilai bahwa tanpa perubahan pendekatan, terutama dari pihak Washington, peluang tercapainya kesepakatan damai akan tetap kecil.
Kebijakan Donald Trump yang dinilai, memperkeras hubungan bilateral menjadi tantangan besar bagi upaya diplomasi ke depan. Jika kedua pihak tidak menemukan titik temu, konflik berpotensi terus berlanjut dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.(*)
Penulis : FDA
