Destinasi Yogyakarta

Tak Sekadar Transit, Stasiun Tugu Kini Jadi Ruang Pamer Budaya Sumbu Filosofis

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Fungsi Stasiun Tugu Yogyakarta kini terus berkembang, tidak hanya sebagai tempat naik turun penumpang, tetapi juga menjadi ruang publik edukatif dan kultural. Hal ini terlihat dari penyelenggaraan pameran bertajuk “Sumbu Filosofi Yogyakarta dan Penanda Sejarahnya: Melihat Pusaka Dunia Melalui Sudut Pandang Berbeda” yang digelar di Lobby Timur stasiun Tugu Yogyakarta, pada 18-19 April 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai filosofis Yogyakarta, sekaligus mendorong pengembangan ekonomi berbasis budaya. Pameran ini melibatkan kolaborasi lintas institusi, mulai dari budayawan, seniman, hingga akademisi dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, serta partisipasi internasional dari TU Wien.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan sinergi lintas sektor dinilai mampu menghadirkan pendekatan baru dalam memahami Sumbu Filosofis Yogyakarta. Tampilan melalui bentuk visual dan interaktif menjadi kunci agar nilai filosofis yang selama ini terkesan abstrak dapat lebih mudah dipahami oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

“Pameran ini sangat baik karena kita membutuhkan desain dan pendekatan yang mampu membuat filosofi menjadi lebih mudah dipahami. Heritage harus kita pertahankan, fasadnya diperbaiki, dan yang paling penting masyarakat bisa memahami maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Hasto menegaskan, bahwa pelestarian nilai filosofis tidak boleh berhenti pada aspek budaya semata, tetapi juga harus memberi dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat. Ia berharap Sumbu Filosofi Yogyakarta dapat berkembang menjadi daya tarik wisata unggulan sekaligus penggerak ekosistem ekonomi kreatif.

“Sumbu Filosofi ini bisa menjadi menara gading baru yang tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga memberi dampak ekonomi dan menjadi destinasi pariwisata,” tambahnya.

Penanggung jawab pameran sekaligus akademisi ISI Yogyakarta, Nano Warsono menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi internasional yang telah terjalin sejak 2005 antara TU Wien, UGM, dan ISI Yogyakarta.

Sebanyak 30 mahasiswa lintas disiplin turut terlibat, mulai dari bidang seni, ilmu budaya, hingga arsitektur. Mereka menghadirkan konsep pameran yang lebih interaktif dan ramah bagi semua kalangan, termasuk anak-anak.

“Kami ingin masyarakat bisa memahami filosofi ini dengan cara yang menyenangkan. Harapannya, Sumbu Filosofi tidak hanya menjadi konsep, tetapi benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat,” jelas Nano.

Executive Vice President (EVP) Daop 6 KAI Yogyakarta, Bambang Respationo, mengungkapkan bahwa transformasi stasiun menjadi ruang publik edukatif merupakan bagian dari pengembangan layanan berbasis pengalaman bagi penumpang.

“Stasiun tidak hanya tempat transit. Kami kembangkan sebagai ruang publik bersejarah yang bisa digunakan untuk kegiatan edukatif. Di Jogja, ruang non-komersial ini salah satunya ada di area Lobby Timur kini difungsikan sebagai non-commercial public space yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan edukasi dan sosialisasi tanpa biaya,” ujarnya.

Ia menyebutkan, jumlah penumpang kereta jarak jauh di Stasiun Tugu mencapai sekitar 8.000 orang per hari, dan dapat meningkat hingga 16.000 orang saat akhir pekan. Waktu tunggu penumpang sebelum keberangkatan dinilai sebagai peluang untuk menghadirkan pengalaman baru melalui kegiatan seperti pameran.

“Penumpang biasanya datang lebih awal. Waktu tunggu ini bisa dimanfaatkan untuk menikmati pameran, sehingga mereka mendapatkan pengalaman berbeda,” tambahnya.

Pihaknya membuka peluang bagi komunitas, institusi pendidikan, hingga pelaku seni untuk memanfaatkan ruang di stasiun sebagai lokasi pameran.

Berbagai kegiatan telah digelar sebelumnya, seperti edukasi membatik, pameran seni rupa, hingga kegiatan budaya tradisional seperti macapat. Ke depan, tema pameran akan terus diperbarui secara berkala, termasuk rencana pameran komunitas pecinta bunga dan seni patung.

“Silakan dimanfaatkan. Bisa bergantian temanya, dari bunga, patung, hingga seni lainnya. Kami sangat terbuka untuk kegiatan edukatif seperti ini. Selain itu, untuk kegiatan yang melibatkan produk karya, kami juga membuka peluang kerja sama berbasis bagi hasil jika terjadi transaksi pembelian,” jelas Bambang.(*)

Penulis : Elis

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *