INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Sebanyak 50 becak motor (bentor) di Kota Yogyakarta resmi dihancurkan dan digantikan dengan becak listrik yang lebih ramah lingkungan. Program ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mempercepat transformasi transportasi tradisional menuju moda yang rendah emisi, khususnya di kawasan Malioboro dan Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Penghancuran 50 bentor tersebut dilakukan bersamaan dengan penyerahan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) berupa 50 unit becak listrik dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 6 Yogyakarta kepada para pengemudi becak, Rabu (3/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Pengujian Kendaraan Bermotor Kota Yogyakarta itu juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Pemerintah Kota Yogyakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyerahkan Surat Izin Operasional Kendaraan Tidak Bermotor (SIOKTB) dan Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor (TNKTB) kepada pengurus koperasi pengemudi becak yang menerima bantuan.
“Atas nama Pemerintah Kota Yogyakarta, kami mengucapkan terima kasih kepada PT KAI atas bantuan 50 becak listrik ini. Becak listrik menjadi solusi terbaik karena tetap mempertahankan mata pencaharian para pengemudi sekaligus mendukung upaya pengurangan polusi udara jadi lebih bersih di kawasan perkotaan,” ujar Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.
Menurut Hasto, becak listrik merupakan moda transportasi yang lebih sesuai dengan konsep kawasan rendah emisi yang tengah dikembangkan Pemkot Yogyakarta, terutama di wilayah Malioboro dan Sumbu Filosofi yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia.
Ia menambahkan, bahwa penggantian becak konvensional dan becak motor menuju becak listrik akan terus dilakukan secara bertahap.
“Lambat tapi pasti becak yang konvensional harus habis. Kemudian secara bertahap becak listrik hadir. Dengan cara begitu maka cita-cita kita mewujudkan kawasan yang minim polusi, khususnya di Sumbu Filosofi Yogyakarta, dapat tercapai,” kata Hasto.

Pemkot Yogyakarta menargetkan jumlah becak listrik di wilayahnya terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan.
Hasto menyebut, hingga saat ini jumlah becak listrik yang sudah tersedia mencapai sekitar 260 unit, baik yang telah beroperasi maupun yang masih dalam tahap pengembangan dan penyesuaian teknis. pihaknya menargetkan jumlah tersebut meningkat hingga mencapai 900 unit dalam kurun waktu dua tahun.
Hasto melanjutkan, keberhasilan program ini membutuhkan dukungan berbagai pihak, baik dari sektor swasta melalui program CSR maupun lembaga penyedia energi listrik.
“Kami berharap nanti penyediaan charge station atau stasiun pengisian daya dapat didukung oleh PLN. Pemerintah Kota juga siap bekerja sama agar biaya pengisian daya bagi pengemudi becak listrik tidak terlalu mahal,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, bantuan becak listrik tidak diberikan secara individu, melainkan melalui koperasi pengemudi becak. Kebijakan ini diterapkan untuk memastikan pengawasan berjalan lebih efektif dan mencegah munculnya kembali bentor baru di Kota Yogyakarta.
“Syaratnya menerima becak ini harus dalam bentuk koperasi, bukan individu-individu. Koperasi yang akan mengontrol agar tidak ada penambahan bentor lagi,” tegas Hasto.
Hasto menerangkan, setiap pengemudi yang menerima becak listrik wajib menyerahkan bentor yang dimiliki untuk dihancurkan.
Karena itu, penghancuran 50 bentor pada hari tersebut menjadi simbol komitmen bersama dalam mendukung transportasi yang lebih ramah lingkungan.
“Begitu menerima becak listrik, bentornya dihancurkan. Harapan kami tidak ada lagi yang menambah becak motor maupun becak konvensional baru,” ujarnya.
Executive Vice President PT KAI Daop 6 Yogyakarta Bambang Respationo mengatakan program bantuan becak listrik merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan.
Menurutnya, pihaknya selama ini tidak hanya fokus pada layanan transportasi kereta api, tetapi juga aktif menjalankan berbagai program tanggung jawab sosial yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Di Yogyakarta ada program untuk menggantikan becak motor menjadi becak listrik yang lebih ramah lingkungan. Program ini sejalan dengan komitmennya yang juga mendukung berbagai kegiatan ramah lingkungan,” katanya.

Bambang mengungkapkan, total nilai bantuan CSR untuk pengadaan 50 becak listrik tersebut hampir mencapai Rp1 miliar. Selain becak listrik, Ia juga terus mengembangkan berbagai inisiatif lingkungan lainnya, termasuk pemanfaatan energi terbarukan melalui pemasangan panel surya atau solar cell di sejumlah fasilitas operasional.
“Kami ingin mendukung seluruh program yang mengarah pada pengurangan emisi dan pelestarian lingkungan,” tambahnya.
Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti, yang hadir mewakili Sekretaris Daerah DIY menyampaikan apresiasi atas kontribusi PT KAI dalam mendukung transportasi berkelanjutan di Yogyakarta.
Menurut Erni, bantuan becak listrik bukan hanya soal penggantian alat transportasi, tetapi juga bagian dari strategi mengurangi tekanan lingkungan dan pencemaran udara di kawasan perkotaan.
“Penghapusan becak motor yang dilaksanakan hari ini bukan semata-mata penggantian alat transportasi, melainkan bagian dari upaya mengurangi tekanan lingkungan dan mewujudkan kawasan rendah emisi di wilayah Sumbu Filosofi Yogyakarta,” ucapnya.
Ia menilai, langkah tersebut akan memberikan dampak positif bagi kualitas udara sekaligus memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota budaya yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.
Selain itu, keberadaan becak listrik juga dinilai mampu menjaga eksistensi moda transportasi tradisional yang telah menjadi ikon pariwisata Yogyakarta selama puluhan tahun.
Salah satu penerima bantuan becak listrik, Jagiyo, mengaku sangat senang mendapatkan kendaraan baru tersebut. Pria yang telah berprofesi sebagai pengemudi becak selama sekitar 40 tahun itu mengatakan becak listrik jauh lebih ringan dan nyaman digunakan dibandingkan becak kayuh maupun bentor.
Menurutnya, usia yang semakin bertambah membuat tenaga fisiknya tidak lagi sekuat dahulu.
“Dulu saya mulai dari becak kayuh. Kemudian sekitar 20 tahun pakai bentor. Sekarang dapat becak listrik, lebih ringan dan menghemat tenaga,” ujarnya.
Jagiyo mengaku proses peralihan ke becak listrik tidak membebani dirinya karena kendaraan tersebut diperoleh melalui program bantuan.
“Ini ditukar tanpa bayar. Sangat membantu kami yang sudah tua,” katanya.(*)
Penulis : Elis
