INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Grand Rohan Jogja menghadirkan ruang kreatif bagi seniman melalui pameran seni lukis bertajuk “The Beauty of Color”. Pameran ini resmi dibuka pada Senin (18/5) di area Lembayung Senja dan akan berlangsung selama 92 hari, mulai 18 Mei hingga 18 Agustus 2026 secara gratis untuk masyarakat umum.
Pameran tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Grand Rohan Jogja bersama seniman Endang Apriyanto sebagai penggagas acara. Melalui kegiatan ini, hotel tidak hanya menghadirkan fasilitas akomodasi, tetapi juga menjadi wadah bagi pelaku seni dan industri kreatif untuk menampilkan karya terbaik mereka kepada publik.
Acara pembukaan dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Tourism Advisor Tazbir Abdullah, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martianti, Ketua Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada M. Baiquni, para seniman, relasi, tamu undangan, serta rekan media. Kegiatan pembukaan dipandu oleh Helina Tojo.
Ketua Penyelenggara pameran “The Beauty of Color”, Endang Apriyanto, mengatakan tema yang diangkat dalam pameran kali ini memiliki makna yang luas dan dekat dengan kehidupan manusia.
“Temanya The Beauty of Color, karena warna-warna itu banyak mengandung arti. Bisa suka, duka, politik, ataupun kehidupan sehari-hari. Warna menjadi bentuk ekspresi yang sangat luas,” ujarnya dikutip, Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan, karya yang dipamerkan didominasi seni lukis dengan berbagai media, mulai dari kanvas hingga media yang lebih unik seperti payung. Menurutnya, penggunaan media payung menjadi salah satu daya tarik dalam pameran kali ini.
“Yang lebih unik ada media payung. Itu dari teman-teman Himpunan Perupa Tasik yang melukis menggunakan media payung,” katanya.
Endang menyebutkan para peserta pameran berasal dari berbagai daerah, termasuk seniman mancanegara dari Singapura.
“Dari komunitas Himpunan Perupa Tasik terdapat 14 perupa yang terlibat, sementara dari Yogyakarta sendiri sekitar 30 seniman ikut ambil bagian dalam pameran ini,” jelasnya.
Ia mengungkapkan antusiasme seniman untuk mengikuti pameran sangat tinggi. Tercatat sekitar 200 seniman mendaftar untuk mengikuti kegiatan ini, namun panitia harus melakukan proses kurasi karena keterbatasan ruang pamer.
“Yang mendaftar sekitar 200-an seniman. Karena tempat terbatas, maka dilakukan proses kurasi agar karya yang ditampilkan benar-benar sesuai dengan tema dan kualitas pameran,” ungkapnya.
Selain dari Yogyakarta, karya-karya yang dipamerkan juga berasal dari luar daerah dan luar negeri. Terdapat empat karya dari seniman Singapura yang turut meramaikan pameran tersebut.
Endang berharap para seniman tetap aktif berkarya di tengah berbagai tantangan, termasuk kondisi ekonomi yang tidak menentu. Menurutnya, semangat berkesenian tidak boleh berhenti hanya karena persoalan pasar.
“Laku atau tidak laku, seniman harus tetap berkarya. Semua karya itu sudah ada jodohnya, tinggal menunggu waktunya saja,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martianti mengapresiasi semakin berkembangnya kolaborasi antara dunia seni dan industri perhotelan di Yogyakarta. Menurutnya, hotel kini menjadi ruang alternatif yang efektif untuk memperluas akses publik terhadap karya seni.
“Ekosistem kesenian hari ini bisa berjalan dengan baik karena para perupa diberikan ruang media oleh teman-teman hotel yang sekarang mulai banyak membuka kolaborasi,” katanya.

Ia menilai pameran seni tidak lagi harus diselenggarakan di galeri atau ruang konvensional lainnya, tetapi juga dapat hadir di ruang publik seperti hotel yang dekat dengan wisatawan dan masyarakat umum.
“Media hotel ini menjadi salah satu cara yang bagus dan tepat karena hubungan antara seni dengan turisme itu sangat dekat,” ujarnya.
Menurut Yetti, keberadaan pameran seni di hotel memberikan pengalaman baru bagi wisatawan yang datang ke Yogyakarta. Wisatawan tidak hanya menikmati fasilitas penginapan, tetapi juga mendapatkan pengalaman budaya melalui karya seni yang dipamerkan.
“Wisatawan yang menginap akan punya banyak insight baru tentang Jogja sebagai kota pariwisata yang ternyata juga memiliki kekuatan di bidang kesenian,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi untuk menjaga keberlanjutan ekosistem seni dan budaya di Yogyakarta.
“Seni akan berkembang dengan baik apabila saling support dan saling didukung. Kolaborasi diperlukan untuk keberlanjutan pelestarian dan pengembangan kebudayaan,” jelasnya.
Yetti memberikan apresiasi terhadap pameran “The Beauty of Color” yang dinilai berhasil menghadirkan semangat warna, kreativitas, dan kebersamaan antar komunitas seni.
“Pamerannya sangat bagus, luar biasa, sesuai dengan judulnya, penuh warna. Berwarnanya bukan hanya dari karya-karyanya, tetapi juga karena didukung banyak pihak dan berbagai komunitas seni,” tambahnya.
Pada penyelenggaraannya, rangkaian acara diawali dengan sambutan dari pihak penyelenggara dan dilanjutkan sambutan dari Executive Assistant Manager Grand Rohan Jogja, M Sulkhan Habibi.
Setelah itu, sejumlah tokoh penting yang hadir turut memberikan sambutan, apresiasi, serta pandangan mengenai perkembangan seni dan budaya di Yogyakarta, termasuk Tazbir Abdullah, M. Baiquni, serta kurator pameran I Gusti Nengah Nurata.
Suasana pembukaan semakin semarak dengan penampilan hiburan seni dari Gunawan Pastel Biru dan Irwan Sukendra, serta pertunjukan Tari Payung Kembang Nusantara. Prosesi simbolis pembukaan dilakukan melalui kegiatan menggoreskan payung sebagai simbol kreativitas, kolaborasi, dan keberagaman seni.
Setelah seremoni pembukaan, para tamu diajak berkeliling menikmati puluhan karya seni lukis dari seniman lokal maupun mancanegara yang dipamerkan di area koridor Meeting Room Jasmin lantai lobi hingga area lantai dua Grand Rohan Jogja.
Berbagai karya seni kontemporer yang dikuratori oleh I Gusti Nengah Nurata dihadirkan. Beragam karya ditampilkan melalui eksplorasi warna, teknik, dan ekspresi artistik yang menggambarkan keindahan sekaligus dinamika kehidupan.
Pameran ini diharapkan dapat menjadi sarana apresiasi seni sekaligus memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota budaya dan kreativitas. Selain sebagai ruang apresiasi seni, seluruh karya yang dipamerkan juga tersedia untuk pembelian secara komersial.
Pameran dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 22.00 WIB dan dapat dinikmati oleh seluruh kalangan, mulai dari wisatawan, pecinta seni, akademisi, hingga masyarakat umum.
Melalui penyelenggaraan pameran ini, Executive Assistant Manager Grand Rohan Jogja M Sulkhan Habibi mengatakan pihaknya akan terus mendukung perkembangan industri kreatif dan seni rupa di Yogyakarta.
“Saya berharap dapat terus mendukung perkembangan industri kreatif dan seni rupa di Yogyakarta, sekaligus menghadirkan pengalaman menginap dan berwisata yang lebih berkesan bagi para tamu hotel maupun masyarakat luas,” ucap Sulkhan.(*)
Penulis : Elis
