Pendidikan Yogyakarta

Seminar Internasional IFI di UGM Bahas Masa Depan Penerjemahan di Era AI

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Institut Français d’Indonésie (IFI) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar seminar internasional yang membahas masa depan penerjemahan, interpretariat, dan penulisan kreatif di tengah perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).

Kegiatan tersebut ditujukan bagi mahasiswa jurusan bahasa Prancis dari berbagai universitas di Indonesia dan Malaysia, peserta magang pengajaran bahasa Prancis sebagai bahasa asing (FLE), hingga guru bahasa Prancis tingkat SMA.

Seminar berlangsung secara hibrida di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta, menggandeng Fakultas Ilmu Budaya UGM, serta terhubung dengan IFI Yogyakarta. Sebanyak 13 narasumber dari Prancis, Malaysia, dan Indonesia hadir untuk memberikan konferensi serta lokakarya terkait penerjemahan, interpretariat, dan penulisan kreatif.

Asisten Direksi IFI Yogyakarta, Inta Fitriya Devi mengatakan seminar ini didukung oleh Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, Erlangga, GIK, serta Institut Français Paris.

“Tujuan kegiatan ini adalah membuka peluang profesional bagi mahasiswa bahasa Prancis dalam bidang penerjemahan dan interpretariat, mempertanyakan posisi Kecerdasan Artifisial dalam praktik-praktik tersebut, serta memperkuat pemahaman antarbudaya antara Prancis dan Indonesia. Dalam seminar tersebut, para pembicara menyoroti perkembangan teknologi penerjemahan otomatis yang semakin canggih dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, profesi penerjemah dan juru bahasa disebut tetap memiliki posisi penting yang belum bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin atau AI,” ujar Devi, Senin (18/5/2026).

Devi menjelaskan, penerjemah manusia memiliki kemampuan memahami konteks budaya, nuansa bahasa, hingga gaya retoris yang tidak dapat direplikasi secara sempurna oleh teknologi.

“Meskipun kemajuan teknologi dalam penerjemahan otomatis telah mengubah bidang ini secara mendalam, penerjemah dan juru bahasa tetap tidak tergantikan karena sensitivitas mereka, pengetahuan budaya, dan kemampuan mereka dalam menyampaikan nuansa, gaya bahasa retoris, dan gaya penulisan berkualitas yang tidak dapat direproduksi oleh mesin,” katanya.

Menurutnya, peran juru bahasa sangat penting terutama dalam diplomasi internasional yang membutuhkan ketepatan komunikasi dan membangun kepercayaan dalam hubungan antarnegara.

Ia menambahkan, penerjemahan saat ini telah berkembang menjadi praktik transdisipliner yang menghubungkan ilmu humaniora, ilmu sosial, dan berbagai bidang terapan lainnya. Karena itu, kemampuan penerjemahan dinilai menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk berkarier di bidang diplomasi budaya maupun dunia internasional.

Seminar internasional tersebut juga menyoroti masih minimnya karya sastra Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam seminar, sepanjang periode 1958 hingga 2019 hanya terdapat 54 novel Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa Prancis.

Meski demikian, jumlah proyek penerjemahan karya sastra Indonesia disebut mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu contohnya ialah terbitnya buku Sato l’impie karya Eka Kurniawan di Prancis pada Mei 2026.

Menurut Devi, peningkatan proyek penerjemahan ini menjadi langkah positif dalam memperluas pertukaran budaya antara Indonesia dan Prancis. Namun, ia menilai upaya pendampingan dan penyebarluasan karya sastra kedua negara masih perlu terus diperkuat.

Selain membahas penerjemahan dan interpretariat, seminar juga menghadirkan lokakarya penulisan kreatif yang menjadi ruang dialog antara warisan budaya dan penciptaan kontemporer.

Lokakarya tersebut mengambil inspirasi dari budaya Indonesia, mulai dari dongeng, cerita lisan, hingga figur-figur naratif yang berkembang di masyarakat.

“Lokakarya-lokakarya ini akan mengeksplorasi penulisan kreatif sebagai ruang dialog antara warisan budaya dan penciptaan kontemporer, dengan mengambil referensi dari budaya Indonesia,” jelas Devi.

Ia mengatakan praktik menulis kreatif juga dapat diterapkan dalam dunia pendidikan untuk membantu mahasiswa dan siswa meningkatkan keterampilan bahasa sekaligus memperkuat rasa percaya diri dan keterbukaan terhadap budaya global.

“Seluruh sesi seminar berlangsung dalam bahasa Prancis, kecuali lokakarya penulisan kreatif yang diselenggarakan dalam bahasa Inggris dan terbuka secara gratis untuk masyarakat umum,” tutup Devi.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *