INTENS PLUS – MAKASSAR. Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) X dan Kursus Banser Pimpinan (SUSBANPIM) IX yang digelar di Makassar pada 23–28 Juni 2026 menjadi momentum penting dalam membentuk karakter, kepemimpinan, serta semangat pengabdian kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dari berbagai daerah di Indonesia.
Selama enam hari, para peserta tidak hanya menerima materi kepemimpinan dan kebangsaan, tetapi juga menjalani proses pembinaan yang mengedepankan disiplin, ketangguhan, loyalitas, serta nilai-nilai pengabdian.
Rangkaian pendidikan ini menjadi wadah untuk mencetak kader yang memiliki integritas, kemampuan memimpin, dan kesiapan mengabdi kepada agama, masyarakat, bangsa, dan negara.
PKN X dan SUSBANPIM IX bukan sekadar agenda pendidikan kader, melainkan proses pembentukan jiwa dan karakter. Setiap peserta ditempa agar mampu mengendalikan diri sebelum kelak dipercaya memimpin dan melayani masyarakat.
Rutinitas harian yang dimulai sejak sebelum fajar menjadi bagian dari proses pembentukan tersebut. Para peserta dibiasakan bangun lebih awal untuk melaksanakan ibadah, berzikir, mengikuti apel dan baris-berbaris dalam satu komando, hingga menerima materi kepemimpinan, keorganisasian, kebangsaan, dan wawasan keislaman yang berlangsung hingga malam hari.
Selain pembelajaran di dalam kelas, peserta juga mengikuti berbagai dinamika lapangan yang menguji ketahanan fisik, mental, kemampuan bekerja sama, serta ketepatan mengambil keputusan dalam situasi yang penuh tantangan.
Seluruh proses itu dirancang untuk menanamkan nilai kedisiplinan, kesabaran, keikhlasan, loyalitas, serta semangat pengabdian yang menjadi ruh kader GP Ansor dan Banser.
Salah satu peserta yang mengikuti PKN X dan SUSBANPIM IX adalah Wahyudi Kurniawan. Baginya, mengikuti kaderisasi bukan sekadar mengenakan seragam ataupun memperoleh pengakuan, melainkan kesempatan untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik.
Menurut Wahyudi, seorang kader harus memiliki orientasi untuk memberi manfaat kepada masyarakat, bukan sekadar mengejar posisi ataupun jabatan.
“Menjadi kader bukan tentang apa yang bisa kita terima, tetapi tentang apa yang bisa kita berikan kepada sesama. Pengabdian adalah panggilan yang harus dijalankan dengan tulus dan ikhlas,” ujar Wahyudi Kurniawan pada keterangan dikutip, Senin (29/6/2026).
Ia menilai, masyarakat saat ini membutuhkan sosok yang mampu hadir di tengah persoalan, mau mendengar, serta memberikan solusi nyata.
Baginya, ukuran keberhasilan seorang kader bukanlah seberapa tinggi jabatan yang dimiliki, melainkan sejauh mana kehadirannya mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Saya ingin dikenal bukan karena posisi ataupun atribut yang saya kenakan, tetapi karena manfaat yang bisa saya berikan. Jika ada masyarakat yang merasa terbantu, merasa didengar, dan merasa tidak berjalan sendiri menghadapi persoalan mereka, maka itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya,” tuturnya.
Wahyudi meyakini, bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir dari kenyamanan. Melainkan melalui proses panjang yang penuh perjuangan.
Ia mengibaratkan, seorang kader seperti besi yang harus ditempa oleh panasnya api sebelum menjadi baja yang kuat. Begitu pula seorang pemimpin, harus melalui berbagai ujian agar memiliki keteguhan hati, kerendahan hati, serta kesiapan mengabdi tanpa pamrih.
Menurutnya, seluruh pengalaman selama enam hari mengikuti PKN X dan SUSBANPIM IX memberikan banyak pelajaran tentang arti disiplin, kepemimpinan, kebersamaan, dan tanggung jawab.
Ia berharap, nilai-nilai yang diperoleh selama pendidikan tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi, tetapi dapat diwujudkan dalam bentuk pelayanan nyata kepada masyarakat.
Bagi Wahyudi, kaderisasi merupakan titik awal perjalanan panjang sebagai kader Ansor, bukan garis akhir dari proses belajar.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang menegaskan bahwa Ansor tidak mencari kekuasaan, melainkan mencari jalan pengabdian kepada masyarakat.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa setiap kader harus selalu mengedepankan kemanfaatan, persaudaraan, dan kepedulian sosial dalam setiap langkah pengabdiannya.
“Selama masih diberi kesempatan, saya ingin terus belajar, terus berbuat, dan terus hadir di tengah masyarakat. Sebab sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” tutup Wahyudi Kurniawan.(*)
Penulis : Elis
