INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Presenter televisi Sonny Valentino Tulung atau yang akrab disapa Sonny Tulung kini menjalani kehidupan yang cukup berbeda dibandingkan masa kejayaannya sebagai pembawa acara kuis Famili 100.
Sonny mengungkapkan, saat ini dirinya tidak hanya aktif di dunia hiburan. Ia juga menjalankan sejumlah bisnis, menyelesaikan pendidikan hukum, serta aktif dalam kegiatan politik bersama Partai Hanura.
“Sebetulnya pekerjaan saya saat ini bisnis. Ada beberapa bisnis laundry, ada financial technology, terus saya baru selesai kuliah S1,” kata Sonny usai kegiatan pelantikan DPD Hanura DIY dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Nasional Anggota DPRD Provinsi dan Kabupaten Kota Partai Hanura tahun 2026 yang digelar mulai di Hotel Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center, Yogyakarta. Rabu (16/9/2026).
Sonny mengatakan, dirinya sebelumnya telah menyelesaikan pendidikan S1 Ilmu Komunikasi. Namun, ia kembali menempuh pendidikan tinggi dan baru saja menyelesaikan studi S1 Hukum di Universitas Bung Karno (UBK).
Ia menyebut proses yudisium telah dilalui dan wisuda dijadwalkan berlangsung pada November 2026. Selain itu, pendidikan S2 Sonny juga telah selesai dan dirinya mengikuti wisuda pada November 2025.
“Jadi ya terus kemudian di Partai Hanura dan ada beberapa proyek-proyek lainnya,” ujarnya.
Meski tidak lagi sesering dahulu muncul di layar kaca, Sonny mengaku masih menerima pekerjaan sebagai pembawa acara atau MC.
Dalam sebulan, ia biasanya hanya mengambil sekitar satu atau dua pekerjaan MC. Sonny mengatakan kini lebih selektif memilih pekerjaan karena aktivitasnya di partai politik juga semakin menyita perhatian.
“MC masih sebulan sekali dua kali. Dan saya juga sekarang belakangan agak selektif, karena saya juga di partai,” katanya.
Untuk acara pernikahan, Sonny mengaku masih menerima pekerjaan tersebut setidaknya dua kali dalam sebulan. Sementara di televisi, Sonny kini lebih banyak hadir sebagai bintang tamu karena belum memiliki program reguler.
Sonny juga melihat adanya perubahan besar dalam industri televisi dibandingkan era 1990-an hingga awal 2000-an. Menurut dia, era kejayaan televisi, termasuk program-program kuis, sudah berubah seiring berkembangnya media sosial dan platform digital.
“TV memang sudah mengalami perbedaan dibanding zaman 90-an. Mungkin itu puncaknya TV ya sampai 2000, paling 2010. Habis itu kan media sosial semuanya sekarang sudah,” lanjutnya.
Sonny menilai masyarakat kini memiliki lebih banyak pilihan hiburan melalui YouTube, TikTok, Instagram, dan berbagai platform digital lainnya.
“Artinya TV secara garis besar ya sudah tergantikan dengan media sosial. Orang sudah jarang banget nonton TV,” katanya.
Namun, ia mengakui tidak mengetahui secara pasti persentase penurunan penonton televisi. Menurutnya, pola konsumsi masyarakat juga berubah karena sebagian orang kini menonton konten televisi melalui perangkat seluler.
Era Kejayaan Kuis Dinilai Sudah Lewat
Sebagai mantan pembawa acara Famili 100, Sonny juga melihat perubahan format program kuis di televisi. Menurutnya, dahulu program kuis tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memberikan pengetahuan kepada penonton. Kini, pengamatannya, program kuis cenderung lebih banyak menggabungkan unsur hiburan dan komedi.
“Kalau dulu kan ada bisa dibilang kuis-kuis yang berbobot. Mungkin Who Wants to Be a Millionaire, kalau kita nonton habis nonton kita jadi merasa pintar, menambah pengetahuan,” tuturnya.
Sonny menyebut, saat ini program kuis yang masih dikenal masyarakat antara lain Famili 100 dan program yang menggabungkan unsur permainan dengan hiburan.
Meski demikian, Sonny tidak ingin langsung menyimpulkan bahwa kualitas peserta kuis saat ini menurun. Ia mengatakan perubahan tersebut bisa saja disebabkan oleh format program yang memang berbeda.
“Apakah kualitas peserta kuisnya menurun atau jenis kuisnya yang memang juga tidak membuat orang jadi lebih cerdas, enggak tahu juga,” ujarnya.
Pernah Membuat Pilot Project Kuis di YouTube
Di tengah perubahan industri televisi, Sonny mengaku sempat mencoba membuat program kuis melalui YouTube. Konsep tersebut masih dalam tahap pilot project. Namun, program tersebut belum berjalan lebih jauh karena membutuhkan dukungan sponsor.
“Bisa aja sih kalau bikin YouTube kuis, cuma kan harus dihitung lagi. Harus ada sponsor,” katanya.
Sonny menilai aspek bisnis menjadi salah satu pertimbangan utama ketika sebuah program hiburan hendak diproduksi.
“Pertimbangannya kan bisnis. Laku enggak nih, ada sponsor enggak nih,” ujarnya.
Memasuki fase baru dalam kehidupannya, Sonny mengatakan dirinya tidak ingin terus mengandalkan popularitas masa lalu. Ia mengaku, perubahan industri hiburan merupakan bagian dari siklus kehidupan yang harus diterima oleh para pekerja seni.
“Ini adalah satu fakta siklus kehidupan yang kita harus terima. Cuma artis apalagi, makanya kita enggak boleh berhenti untuk berkarya, berhenti bergerak,” katanya.
Sonny melihat media sosial sebagai salah satu peluang bagi para pekerja seni untuk tetap berkarya dan mempertahankan eksistensi. Ia menyebut Instagram, TikTok, dan YouTube dapat dimanfaatkan untuk menjangkau kembali masyarakat.
“Harus selalu berusaha untuk adaptasi terhadap zaman dengan ide-ide kreatif dan jangan menyerah,” ujarnya.
Dari PDIP, PKPI hingga Hanura
Selain bisnis dan hiburan, Sonny kini aktif di dunia politik. Jejak politiknya sebelumnya mencatat ia pernah menjadi anggota PDIP, sebelum berpindah ke PKPI pada 2018. Saat bergabung dengan PKPI, Sonny mengatakan dirinya memilih partai tersebut karena melihat PKPI sebagai partai nasionalis dan memiliki visi yang menurutnya sesuai dengan aspirasinya.
Sonny bahkan didaftarkan PKPI sebagai bakal calon legislatif untuk DPRD Provinsi DKI Jakarta pada Pemilu 2019. Dalam perjalanan berikutnya, Sonny sempat bergabung dengan Partai Era Masyarakat Sejahtera atau Partai Emas.
Kini, Sonny aktif di Partai Hanura. Dalam susunan DPP Hanura periode 2024-2029 yang dikukuhkan pada April 2025, Sonny Valentino Tulung tercatat sebagai salah satu Wakil Ketua Umum DPP Hanura.
Target Politik Sonny Menuju Senayan
Sonny mengatakan dirinya kini mengikuti target yang ditetapkan partai. Ia menyebut pembenahan struktur menjadi salah satu pekerjaan yang harus dilakukan sebelum menentukan langkah politik berikutnya.
“Target pribadi tidak ada, tentu target partai. Target partai seperti apa, saya ngikut aja,” katanya.
Menurut Sonny, bagi partai politik nasional, salah satu target utama tentu adalah memperoleh kursi di parlemen tingkat nasional.
“Tujuannya tentu Senayan, DPR RI. Jadi ya itu yang lagi kita kejar, membenahi struktur dan lain-lain sebagainya, peluang untuk maju di tingkat DPR maupun DPRD masih akan bergantung pada keputusan dan strategi partai,” tutup Sony.(*)
Penulis : Elis
