Edukasi Yogyakarta

Fadli Zon: Diplomasi Budaya Indonesia Asia Pasifik Penting di Tengah Ketegangan Geopolitik

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan diplomasi budaya memiliki peran strategis dalam memperkuat hubungan Indonesia dengan negara-negara Asia-Pasifik di tengah ketegangan geopolitik, krisis iklim, dan transformasi digital.

Hal tersebut disampaikan Fadli saat memberikan pidato kunci dalam seminar internasional bertajuk Indonesia-Pacific Cultural Connect: Beyond Cultural Exchange di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (15/10/2026).

Fadli mengatakan, kebudayaan merupakan kekuatan lunak (soft power) yang mampu membangun kepercayaan, mempererat hubungan antar masyarakat, serta membuka peluang kerja sama lintas negara tanpa menggunakan pemaksaan.

“Budaya ini adalah soft power yang bisa menjadi jembatan untuk perdamaian dan kerja sama di berbagai bidang,” ujar Fadli.

Menurutnya, hubungan historis dan budaya Indonesia dengan kawasan Pasifik telah terjalin selama berabad-abad melalui interaksi maritim, migrasi, serta pertukaran pengetahuan dan tradisi.

Melalui program Indonesia-Pacific Cultural Connect (IPCC) 2026, pemerintah berupaya memperkuat diplomasi budaya dengan mempertemukan seniman dan pelaku budaya dari Indonesia serta negara-negara Pasifik.

Sebanyak 47 seniman dan pelaku budaya dari delapan negara Pasifik dan sembilan provinsi di Indonesia mengikuti residensi selama 10 hari di Yogyakarta. Mereka berkolaborasi melalui seni musik dan kriya, termasuk eksplorasi kerajinan berbahan bambu dan kelapa.

Fadli menekankan, diplomasi budaya tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial atau pertunjukan sesaat. Kolaborasi tersebut perlu dikembangkan menjadi jejaring budaya berkelanjutan melalui pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas pelaku budaya, dan pengembangan industri kreatif.

Selain itu, Ia mengatakan bahwa Indonesia juga mendorong kerja sama penelitian, dokumentasi, dan pewarisan pengetahuan tradisional antar generasi untuk menghadapi ancaman perubahan iklim terhadap warisan budaya dan kehidupan masyarakat kepulauan Pasifik.

“Kementerian Kebudayaan menetapkan lima agenda kerja sama, meliputi penguatan jejaring budaya berkelanjutan, transmisi pengetahuan dan peningkatan kapasitas, kolaborasi industri kreatif, penguatan kerja sama kelembagaan, serta pemastian keberlanjutan dan hasil kerja yang terukur,” jelasnya.

“Melalui langkah ini, diplomasi budaya Indonesia diharapkan dapat memperkuat kemitraan dengan negara-negara Asia-Pasifik sekaligus mendorong perdamaian, pelestarian warisan budaya, dan pembangunan berkelanjutan,” imbuhnya.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *