INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Desainer fesyen asal Yogyakarta, Lia Mustafa, menghadirkan koleksi TerraLoom Rinjani dalam ajang IN2MOTIONFEST x Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2026. Koleksi yang terinspirasi dari perjalanan ke Gunung Rinjani tersebut ditampilkan di Signature Zone (Hall A), Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, pada 18 Oktober 2026.
Melalui koleksi ini, Lia Mustafa memadukan teknik ecoprint, batik, serta pewarna alami untuk menghadirkan karya fesyen yang mengangkat keindahan alam Indonesia sekaligus mengusung prinsip sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan.
Lia mengatakan, keikutsertaannya dalam IN2MOTIONFEST x JMFW 2026 merupakan kesempatan untuk memperkuat branding sekaligus memperkenalkan perkembangan karyanya kepada publik dan pelaku industri fesyen.
Ia mengikuti ajang tersebut setelah menerima undangan resmi dari AFC Nasional. Menurut Lia, terdapat lima desainer yang mendapat undangan melalui asosiasi tersebut.
“Buat saya, meskipun sudah sering melakukan show di Jakarta, branding itu penting untuk dilaksanakan secara berkelanjutan, terus-menerus, dan konsisten,” ujar Lia. Rabu (21/10/2026).
Menurutnya, kepercayaan yang diberikan oleh institusi, asosiasi, maupun pemerintah merupakan tanggung jawab profesional yang harus dijalankan secara optimal. Selain menampilkan karya, keikutsertaan dalam ajang fesyen juga menjadi kesempatan untuk membangun jejaring dan bertemu langsung dengan berbagai pihak.
Koleksi TerraLoom Rinjani lahir dari pengalaman perjalanan Lia ke Gunung Rinjani yang kemudian diterjemahkan ke dalam warna, motif, tekstur, dan siluet busana.
Koleksi tersebut dikembangkan melalui tiga bagian, yakni The Roots, The Mist, dan The Summit. Penampilan di JMFW 2026 menjadi bagian ketiga dari rangkaian eksplorasi tersebut, setelah sebelumnya diperkenalkan melalui INACRAFT Jogja dan Jogja Fashion Week.
Inspirasi alam Rinjani terlihat dari penggunaan warna biru indigo, cokelat tanah, dan putih yang menggambarkan lanskap pegunungan, abu vulkanik, vegetasi, hingga kabut. Unsur-unsur tersebut dipadukan dengan berbagai tekstur kain untuk menghadirkan karakter busana yang elegan sekaligus modern.
Sebanyak 10 outfit ditampilkan dalam koleksi ini, termasuk dua outfit yang dikenakan muse AVMS. Desainnya mencakup berbagai siluet, mulai dari vest berbahan linen hingga trench coat, dengan konsep yang memungkinkan setiap busana dipadupadankan sesuai kebutuhan.
Lia juga menekankan fleksibilitas pemakaian melalui desain yang dapat dikenakan laki-laki maupun perempuan. Konsep zero waste dan layanan ukuran khusus turut menjadi bagian dari pendekatan yang diusung dalam koleksi tersebut.
Salah satu keunikan koleksi TerraLoom Rinjani adalah perpaduan teknik ecoprint dan batik dalam satu lembar kain. Dalam prosesnya, Lia berkolaborasi dengan Kain Halal™ untuk dukungan kain ecoprint dan Aruna untuk unsur batik.
Kain yang digunakan mencakup material berkode KH SATIN, dengan motif batik kawung sebagai salah satu elemen utama. Proses pewarnaan memanfaatkan bahan alami, antara lain indigo, kayu tingi, kayu jambal, dan kayu akasia.
Pendekatan tersebut memperkuat karakter koleksi yang mengutamakan material berserat alami dan pewarna berbasis bahan alam. Melalui kombinasi teknik tradisional dan eksplorasi desain modern, Lia berupaya menghadirkan fesyen yang tetap memiliki identitas budaya sekaligus relevan dengan perkembangan industri mode.
Bagi Lia, TerraLoom Rinjani bukan sekadar busana untuk ditampilkan di atas panggung. Koleksi ini menjadi cara untuk menerjemahkan pengalaman perjalanan dan hubungan manusia dengan alam ke dalam karya yang dapat dikenakan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain mengembangkan karya fesyen, Lia Mustafa juga konsisten mendorong regenerasi desainer muda di Yogyakarta melalui House of Elmar, yang berdiri sejak 1995.
Selama sekitar 15 tahun, ia memberikan pendampingan kepada generasi muda yang ingin menemukan identitas kreatif dan mengembangkan karier di industri fesyen. Program tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk belajar, mengembangkan karya, hingga memahami pengelolaan usaha.
Program pendampingan itu kini telah memasuki angkatan ke-11. Karya para peserta dipresentasikan melalui kegiatan tahunan Fashion on the Street Prawirotaman, yang diharapkan menjadi wadah kolaborasi sekaligus ruang tumbuh bagi desainer muda.
Lia juga membuka kesempatan kolaborasi dengan para desainer binaannya dalam berbagai kegiatan. Menurutnya, regenerasi menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan industri fesyen lokal dan membuka peluang bagi generasi baru.
Ke depan, Lia berencana terus mengembangkan koleksi yang terinspirasi dari perjalanan alam dan pengalaman sosialnya di berbagai daerah Indonesia. Salah satu karya yang pernah dikembangkannya adalah motif batik jati, terinspirasi dari pengalamannya mendampingi desa binaan di wilayah Tepus, Gunungkidul.
Melalui TerraLoom Rinjani di IN2MOTIONFEST x JMFW 2026, Lia Mustafa tidak hanya memperkenalkan eksplorasi wastra dan fesyen berkelanjutan, tetapi juga membawa cerita perjalanan, kekayaan alam, serta identitas lokal Indonesia ke panggung mode nasional.(*)
Penulis : FDA
