Headline Yogyakarta

DEN RI: Tangki Idle Berkapasitas 9 Juta Barel Bisa Jadi Cadangan BBM hingga 30 Hari

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Dewan Energi Nasional (DEN) mengungkapkan potensi pemanfaatan tangki penyimpanan minyak dan bahan bakar yang tidak terpakai (idle) untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Total kapasitas tangki idle yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia diperkirakan mencapai 9 juta barel dan dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari cadangan penyangga energi nasional.

Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN) RI, Satya Widya Yudha, mengatakan pemerintah sebenarnya telah memiliki dasar hukum terkait pembentukan cadangan penyangga energi nasional. Dalam skema tersebut, kapasitas penyimpanan dihitung berdasarkan kebutuhan impor energi selama 30 hari.

“Besarnya tangki yang dipakai untuk menimbun, baik itu LPG maupun BBM, adalah 30 hari dikalikan volume impor kita. Kalau satu hari kita impor berapa juta barel, itu dikalikan 30, kalau ditotal bisa sampai 9 juta barel, tetapi harus dicek dulu karena yang sudah idle harus diperbaiki,” Kata Satya usai mengikuti Dialog Indonesia Punya Kamu di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dikutip Sabtu (13/6/2026).

Menurutnya, langkah tersebut menjadi solusi untuk mempercepat peningkatan kapasitas penyimpanan energi tanpa harus sepenuhnya membangun fasilitas baru yang membutuhkan investasi besar.

“Cadangan penyangga energi itu adalah cadangan yang hanya dimanfaatkan disaat kondisi krisis dan darurat. Jadi kalau tidak krisis dan darurat ya tidak dipakai,” kata Satya.

Satya menjelaskan, kebutuhan tangki penyimpanan untuk memenuhi target cadangan energi nasional sangat besar. Di sisi lain, kemampuan negara untuk membangun fasilitas baru secara sekaligus memiliki keterbatasan.

Karena itu, pemerintah mulai mengidentifikasi tangki-tangki yang saat ini tidak dimanfaatkan secara optimal tetapi masih layak digunakan setelah dilakukan perbaikan.

“Karena tangki besar itu, kemampuan negara untuk membangun langsung pasti terbatas. Apalagi ini dipakai saat kondisi krisis dan darurat. Maka jalan keluarnya adalah kita mengidentifikasi tangki-tangki yang idle tetapi masih bisa diperbaiki untuk dijadikan bagian dari cadangan penyangga energi,” jelasnya.

Menurut perhitungan awal, total kapasitas tangki idle yang tersedia bisa mencapai sekitar 9 juta barel.

Tangki-tangki tersebut umumnya berasal dari wilayah operasi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas yang mengalami penurunan produksi.

“KKKS yang dulu produksinya tinggi kini sekarang sudah turun. Otomatis banyak tangki yang tidak penuh lagi,” ujar Satya.

Dalam kesempatan itu, Satya juga menjelaskan bahwa Indonesia memiliki tiga kategori cadangan energi yang berbeda fungsi dan karakteristiknya.

Pertama adalah cadangan operasional yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan harian distribusi energi nasional. Kedua adalah cadangan penyangga energi yang hanya digunakan ketika terjadi krisis atau keadaan darurat. Ketiga adalah cadangan strategis berupa sumber daya energi yang masih tersimpan di dalam bumi.

“Cadangan itu ada tiga. Satu adalah cadangan operasional, dua cadangan penyangga energi, tiga adalah cadangan strategis,” ujarnya.

Saat ini, cadangan operasional BBM nasional berada pada kisaran 19 hingga 20 hari, tergantung jenis komoditas bahan bakar.

“Cadangan operasional memang sekarang rangenya antara 19 sampai 20 hari. Itu pun tergantung dari jenis komoditasnya. Pertalite beda, Pertamax beda, Pertamax Dex juga berbeda,” jelasnya.

Sementara cadangan penyangga energi memiliki fungsi khusus sebagai stok darurat yang tidak digunakan dalam kondisi normal.

“Kalau cadangan penyangga ini betul-betul ditimbun dan didiamkan. Kalau kondisi krisis baru dikeluarkan. Kalau di Amerika namanya Strategic Petroleum Reserve,” katanya.

Satya mengungkapkan pemerintah juga berencana meningkatkan kapasitas penyimpanan BBM nasional agar cadangan operasional dapat mencapai 30 hari.

Menurutnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah menyampaikan rencana pembangunan fasilitas penyimpanan baru untuk mendukung target tersebut.

“Pak Bahlil mengatakan nanti kapasitas storage bisa ditambah sampai 30 hari untuk cadangan operasional. Rencananya akan dibangun baru di Sumatera,” ujarnya.

Penambahan kapasitas penyimpanan tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan gangguan rantai pasok energi global.

Satya menilai, langkah pemerintah saat ini merupakan bentuk mitigasi dini terhadap potensi krisis energi dunia.

“Yang terjadi di Indonesia itu pra-krisis. Jadi sebelum krisis kita langsung mitigasi,” katanya.

Ia mencontohkan gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah yang sempat menjadi perhatian pemerintah sehingga dilakukan berbagai upaya diversifikasi sumber pasokan minyak mentah.

“Presiden melobi beberapa negara. Kita berharap nanti ada sekitar 150 juta barel dari Rusia. Itu dalam rangka memenuhi cadangan operasional kita,” ungkapnya.

Selain memperkuat cadangan energi, pemerintah juga terus mendorong peningkatan penggunaan biodiesel melalui program B50 yang merupakan campuran 50 persen bahan bakar nabati dan 50 persen solar.

Menurut Satya, peningkatan dari B40 menuju B50 akan memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan impor solar nasional.

“Solar itu nanti dari B40 ke B50 otomatis. Solar itu bisa nol impornya karena campurannya diganti oleh biomassa,” ujarnya.

Ia menilai semakin besar kandungan biodiesel dalam campuran bahan bakar, maka kebutuhan impor solar akan semakin berkurang.

“Kalau ini meningkat, otomatis impornya berhenti. Untuk solar kita bisa sendiri,” kata Satya.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *