INTENS PLUS – JAKARTA. Program bantuan becak listrik yang disebut berasal dari dana pribadi Presiden Prabowo Subianto menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah sejumlah pengguna mengeluhkan performa kendaraan tersebut. Keluhan itu ramai beredar di platform X dan memicu diskusi mengenai efektivitas program bantuan yang telah menyalurkan ribuan unit becak listrik kepada masyarakat.
Sorotan bermula dari unggahan akun X @daruzarmedian yang menceritakan pengalaman keluarganya setelah menerima becak listrik bantuan. Dalam unggahan tersebut, ia mengaku kendaraan yang diterima tidak mampu digunakan sesuai harapan karena daya tahan baterainya dinilai sangat terbatas.
Menurut pengakuannya, becak listrik tersebut hanya mampu digunakan dalam jarak pendek sebelum harus kembali diisi daya. Kondisi itu membuat kendaraan lebih sering terparkir dibandingkan digunakan untuk mencari nafkah.
“Becak di rumahku sudah diganti becak listrik dengan gambar Prabowo. Katanya ini uang Prabowo sendiri, bukan uang negara. Becak ini tidak bisa dipakai lebih dari sekitar 4 kilometer. Sedikit-sedikit minta dicas. Padahal katanya harganya lebih dari Rp20 juta,” tulis akun tersebut dikutip, Kamis (25/6/2026).
Unggahan itu kemudian mendapat perhatian luas dari warganet dan dibagikan ribuan kali. Sejumlah pengguna media sosial mengaku menemukan kondisi serupa di daerah masing-masing, meski sebagian lainnya meminta agar persoalan tersebut ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan penyebab kerusakan atau penurunan performa kendaraan.
Program becak listrik merupakan salah satu bantuan yang diberikan kepada para pengemudi becak di sejumlah daerah. Selain bertujuan meningkatkan kesejahteraan pengayuh becak, program tersebut juga diharapkan menjadi bagian dari transisi menuju transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Berdasarkan spesifikasi yang diperkenalkan saat program diluncurkan, becak listrik tersebut diklaim mampu menempuh jarak hingga 50 kilometer dalam sekali pengisian daya baterai.
Hingga saat ini, jumlah becak listrik yang telah disalurkan disebut mencapai sekitar 2.303 unit. Jumlah tersebut merupakan bagian dari target distribusi yang disebut berada di kisaran 5.000 hingga 10.000 unit.
Namun, sejumlah keluhan yang muncul di media sosial menimbulkan pertanyaan mengenai kesesuaian spesifikasi yang dijanjikan dengan kondisi penggunaan di lapangan.
Beberapa pengguna mengaku kendaraan tidak mampu mencapai jarak tempuh sebagaimana yang diinformasikan saat penyaluran bantuan. Selain itu, terdapat keluhan mengenai performa kendaraan ketika digunakan di jalan menanjak maupun saat membawa penumpang.
Salah satu persoalan yang paling banyak dikeluhkan adalah kondisi becak ketika baterai kehabisan daya. Menurut sejumlah pengguna, becak menjadi jauh lebih berat dibandingkan becak konvensional sehingga sulit dikayuh secara manual.
Kondisi tersebut dinilai menyulitkan para pengemudi becak yang sehari-hari mengandalkan kendaraan tersebut sebagai sumber penghasilan.
Dalam unggahan lanjutan, akun @daruzarmedian menyebut bahwa beberapa penerima bantuan di wilayahnya mengalami persoalan serupa. Ia juga mengaku melihat sejumlah becak listrik akhirnya tidak lagi digunakan dan hanya tersimpan di rumah.
“Kalau tidak pakai listrik, berat sekali kayuhannya karena memang diperuntukkan sebagai becak listrik. Akhirnya becak ini mangkrak,” tulisnya.
Selain persoalan daya baterai, pengguna juga menyoroti aspek perawatan kendaraan. Mereka mengaku kesulitan melakukan perbaikan apabila terjadi kerusakan karena tidak semua daerah memiliki layanan teknis yang mudah dijangkau.
Keluhan lain yang muncul berkaitan dengan proses distribusi dan perawatan kendaraan. Menurut sejumlah unggahan warganet, penerima bantuan harus mengambil becak ke lokasi tertentu yang berada di wilayah perkotaan.
Hal tersebut dinilai menambah biaya bagi penerima bantuan yang berasal dari daerah pedesaan atau wilayah yang cukup jauh dari pusat distribusi.
Selain itu, ketika kendaraan mengalami gangguan teknis, pengguna mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membawa becak ke lokasi servis atau perbaikan.
Kondisi tersebut membuat sebagian penerima bantuan memilih menghentikan penggunaan kendaraan, karena biaya operasional dan perawatan dianggap tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh.
Dalam unggahannya, akun tersebut juga mengklaim bahwa penerima bantuan tidak diperbolehkan menjual becak listrik yang diterima. Akibatnya, kendaraan yang sudah tidak digunakan hanya tersimpan di rumah tanpa memberikan manfaat ekonomi.
Namun demikian, klaim tersebut masih memerlukan konfirmasi dari pihak pengelola program maupun instansi terkait. Ramainya perbincangan mengenai becak listrik bantuan ini memunculkan beragam respons dari masyarakat. Sebagian warganet menilai program bantuan perlu dievaluasi secara menyeluruh agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.
Akun X @realitakantor menilai persoalan bantuan tidak hanya berhenti pada penyaluran barang kepada masyarakat.
“Pelajaran dari banyak program bantuan bukan cuma soal barangnya ada. Tapi apakah barang itu benar-benar cocok dengan kebutuhan pengguna dan bisa dipakai dalam jangka panjang. Karena bantuan yang mangkrak akhirnya hanya menjadi aset yang tidak memberi manfaat nyata,” tulis akun tersebut.
Pendapat tersebut mendapat dukungan dari sejumlah pengguna lain yang menilai pentingnya pendampingan, pelatihan penggunaan, serta ketersediaan layanan purna jual untuk memastikan bantuan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat penjelasan resmi dari pihak penyelenggara program maupun penyedia becak listrik terkait berbagai keluhan yang beredar di media sosial.(*)
Penulis : FDA
