INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Rencana pemerintah memperbarui buku pelajaran siswa mulai jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) mendapat tanggapan dari Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si.
Haedar mengatakan, rencana pembaruan buku pelajaran merupakan kewenangan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Ia menilai kebijakan tersebut dapat dilaksanakan selama memiliki tujuan yang baik dan dilakukan dengan format serta pelaksanaan yang tepat.
“Tentu itu wilayah di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Sejauh itu baik dilaksanakan, tinggal bagaimana formatnya, bagaimana pelaksanaannya, dan bagaimana membuatnya,” kata Haedar usai mengikuti acara resepsi Milad ke-111 Suara Muhammadiyah berlangsung meriah di Ballroom SM Tower Malioboro, Yogyakarta, dikutip Jumat (14/8/2026).
Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Resepsi Milad ke-111 Suara Muhammadiyah Bertabur Tokoh, https://www.suaramuhammadiyah.id/read/resepsi-milad-ke-111-suara-muhammadiyah-bertabur-tokoh
Haedar memilih tidak memberikan penilaian dari sisi teknis terkait rencana pemerintah tersebut. Menurutnya, setiap kebijakan pada dasarnya memiliki niat dan tujuan yang baik.
Namun, ia menekankan bahwa tujuan dan gagasan yang baik harus diterjemahkan ke dalam program yang juga memiliki pelaksanaan yang baik.
“Kuncinya satu saja, tujuan-tujuan yang baik, gagasan-gagasan yang baik itu harus di-delivery menjadi program yang pelaksanaannya baik,” ujarnya.
Rencana pembaruan buku pelajaran siswa sebelumnya, disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Pemerintah berencana memperbarui buku pelajaran yang digunakan siswa SD hingga SMA di Indonesia.
Teddy mengatakan, Presiden Prabowo Subianto melakukan pengecekan terhadap buku pelajaran anak-anak. Dalam pemeriksaan tersebut, Prabowo menemukan sejumlah persoalan, mulai dari bahan buku yang dinilai mudah rusak hingga ukuran tulisan yang terlalu kecil.
Menurut Teddy, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah ingin melakukan perbaikan terhadap buku pelajaran agar kualitasnya menjadi lebih baik.
“Saat mengecek buku pelajaran, itu beliau lihat satu per satu, kemudian kok ada yang bahannya mudah rusak, ada yang sudah rusak juga, kemudian tulisannya kecil-kecil, sehingga anak-anak SD khususnya bacanya sangat dekat, kemudian ya kalau dibaca kurang baik,” kata Teddy, dikutip dari akun Instagram resmi @sekretariat.kabinet, Senin (10/8/2026).
Teddy menyebut Prabowo bahkan memeriksa buku pelajaran siswa satu per satu.
“Dari hasil pengecekan tersebut, pemerintah kemudian berencana melakukan perbaikan terhadap buku-buku pelajaran yang digunakan siswa,” ucap Teddy.(*)
Penulis : Elis
