INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Jogja Book Fair (JBF) 2026 kembali hadir di Yogyakarta pada 29 Agustus – 8 September 2026, pada gelaran yang keempat ini menargetkan jumlah pengunjung sebanyak 1.500 orang per hari dan omzet penjualan mencapai Rp78 juta per hari dengan mengusung tema “Jangka”.
Berkolaborasi dengan Pameran Arsip Keistimewaan dalam rangkaian kegiatan bertema besar “Membumikan Literasi, Merawat Memori”.
“Kegiatan tersebut berlangsung selama 11 hari di Grhatama Pustaka, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. Tema “Jangka” dimaknai sebagai langkah untuk terus mengembangkan ekosistem perbukuan dan literasi di Yogyakarta,” ungkap Ketua IKAPI DIY, Wawan Arif, Senin (24/8/2026).
Ia kembali dihidupkan JBF, pada 2023 setelah sebelumnya tidak ada geliat book fair selama sekitar satu dekade. Sejak digelar kembali, kegiatan ini terus berkembang dan telah dilaksanakan di sejumlah lokasi.
“Tahun kemarin kami mencatat sehari bisa up to 5 ribu, jadi totalnya selama 10 hari mencapai 52.000 pengunjung. Yang menarik jumlah transaksi itu nyaris sama dengan jumlah pengunjung,” ujar Wawan.
Sebanyak 119 penerbit nasional dari Yogyakarta dan berbagai daerah turut ambil bagian. Buku yang tersedia meliputi kategori anak, pendidikan, sastra, sosial, budaya, agama dan berbagai tema lainnya.
Pengunjung juga dapat menikmati berbagai promo, mulai dari buku obral Rp5.000, diskon 25 persen, 50 persen hingga 80 persen. Ada pula program bundling satu tas penuh buku seharga Rp75.000.
Selain pameran buku, JBF 2026 menyiapkan 85 program acara, di antaranya bedah buku, talkshow literasi, workshop, kompetisi, pentas musik, pasar kuliner, donor darah hingga pameran arsip.
Kepala DPAD DIY, Ir. Syam Arjayanti, M.P.A., mengatakan kolaborasi JBF dengan Pameran Arsip Keistimewaan menjadi upaya memperkuat ekosistem literasi sekaligus merawat memori kolektif masyarakat.
“Buku dan arsip sama-sama menjadi sumber pengetahuan sekaligus rekaman perjalanan masyarakat, tahun ini diharapkan bisa tercapai target omzet kurang lebih berhari 78 juta dari pengunjung 1.500 per hari, meski Yogyakarta tengah dipadati berbagai agenda lainnya,” katanya.
Pameran Arsip Keistimewaan sendiri mengusung tema “Jelajah Memori Keistimewaan Budaya DIY”, yang menghadirkan berbagai potret budaya dan perjalanan keistimewaan DIY.
Selain itu, Kepala Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Informasi, Dewi Ambarwati, mengatakan, pihaknya mengumpulkan berbagai jenis buku-buku yang terbit di DIY maupun Nasional.
“Harapannya di kegiatan itu berkumpulnya penulis, ada penampil, ada pengarang dan sebagainya itu untuk mendiskusikan tentang buku. Di kegiatan kami talkshow itu ada terkait dengan hak cipta juga, hak cipta bagaimana hak cipta tentang buku yang sudah dibuatkan itu bisa dikembangkan di situ,” jelasnya.
“Kemudian juga ada talkshow tentang buku untuk generasi Z dan apa dan terkait something about buku tentu saja. Jadi bedanya mungkin dengan event-event yang lain, kami menghadirkan ada pameran asik, ada talkshow tentang literasi, ada tentang perbukuan, tentang penerbit, dan sebagainya untuk menarik masyarakat untuk hadir mengunjungi,” tutup Dewi.(*)
Penulis : Elis
