INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Paseduluran Angkringan Silat (PAS) Yogyakarta menggelar Sarasehan Pencak Silat bertema “Pencak Silat Tradisional di Persimpangan Zaman”, pada Kamis (27/8) di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM).
Kegiatan ini merupakan rangkaian Pencak Wisata Budaya ke-5, sekaligus bagian dari agenda Bulan Warisan Budaya DIY tahun 2026. Sarasehan membahas tantangan pelestarian pencak silat tradisional di tengah perkembangan zaman yang semakin modern dan cepat.
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM Prof. Dr. Wening Udasmoro mengatakan UGM telah memfasilitasi pencak silat sejak era 1980-an. Melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), berbagai perguruan dan aliran silat diberikan ruang yang setara.
“Jadi sudah tidak ada lagi barrier antar-perguruan. Tujuannya adalah untuk kemajuan pencak silat,” ungkap Wening dikutip, Sabtu (29/8/2026).
Selain menyediakan ruang apresiasi, pihaknya juga melakukan kajian sosiologis dan antropologis mengenai pencak silat, termasuk dinamika sosial budaya, keberagaman gender, karakteristik jurus, serta keberlangsungan perguruan kecil dalam menjaga tradisi.
Selain itu, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi menegaskan pencak silat bukan sekadar seni bela diri. Sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO sejak 15 Desember 2019, pencak silat memiliki nilai, makna, filosofi, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.
Dian mengingatkan, perkembangan zaman berpotensi membuat nilai-nilai tersebut tergerus sehingga pencak silat hanya dikenal dari gerakannya.
“Yang sampai hanya gerakan-gerakannya saja yang mungkin tanpa makna. Nah, ini yang benar-benar harus kita jaga,” tegasnya.
Sementara itu, Koordinator PAS Yogyakarta Suryadi atau Suryo menyebut, pencak silat memiliki jalur prestasi dan jalur tradisi. Pencak silat tradisional tidak berorientasi pada piala atau medali, melainkan mempertahankan sejarah, filosofi, ritual, musik, tutur, hingga jati diri masyarakat.
“Pencak silat tradisional bukan sekadar bagaimana seseorang bertarung, tetapi bagaimana seseorang belajar mengendalikan diri,” katanya.(*)
Penulis : Elis
