INTENS PLUS – YOGYAKARTA. Pelajar SMA sederajat se-Kota Yogyakarta belajar demokrasi melalui kompetisi adu gagasan dan wawasan kebangsaan dalam Final Olimpiade Demokrasi 2026. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Yogyakarta menggelar kegiatan tersebut di Gedung Balai Kota Yogyakarta.
Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori, mengatakan pemahaman demokrasi tidak hanya berkaitan dengan proses politik. Menurutnya, demokrasi juga mengajarkan masyarakat untuk menerima dan menghormati perbedaan pendapat.
“Belajar demokrasi itu adalah belajar adanya perbedaan, saling menghormati antara pendapat yang berbeda. Ini menjadi pembelajaran sepanjang masa, bagi anak-anak maupun kita yang sudah dewasa,” kata Budi. Senin (28/9/2026).
Budi menilai, kemampuan menghargai perbedaan penting bagi generasi muda yang tumbuh di tengah arus informasi yang beragam.
“Perbedaan pendapat dapat muncul bahkan di antara orang-orang yang memiliki latar belakang agama atau suku yang sama,” lanjutnya.
Sementara itu, Sekretaris Badan Kesbangpol Kota Yogyakarta, Widiyastuti, mengatakan Olimpiade Demokrasi menjadi sarana mengenalkan demokrasi dan politik kepada generasi muda sejak dini.
“Demokrasi dan politik itu tidak hanya urusannya orang tua, orang yang siap menjadi caleg, wali kota, atau bupati. Politik dan demokrasi harus sudah ada di pikiran sejak muda, sejak awal,” ucapnya.
Melalui kompetisi tersebut, pelajar tidak hanya mempelajari teori demokrasi, tetapi juga berlatih berdiskusi, menyampaikan pendapat, serta menghargai gagasan yang berbeda.
Dalam Final Olimpiade Demokrasi 2026, MA Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta meraih Juara I. Juara II diraih SMA Negeri 1 Yogyakarta, sedangkan SMA Negeri 5 Yogyakarta meraih Juara III. Sementara itu, SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta menjadi Juara Harapan I dan SMA Negeri 11 Yogyakarta meraih Juara Harapan II.
Anggota tim MA Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta, Bagaskara Yunari Bumi, mengatakan timnya mempersiapkan diri sekitar satu bulan. Menjelang final, mereka menjalani persiapan intensif selama empat hari dengan mempelajari berbagai materi tentang lembaga negara, wawasan kebangsaan, Empat Pilar MPR, hingga keistimewaan Yogyakarta.
“Kami membedah banyak buku, mulai dari buku tentang lembaga negara, karya Saldi Isra, Mahfud MD, Jimly Asshiddiqie, dan berbagai materi lainnya, terutama materi Empat Pilar MPR. Kami berharap, generasi muda terus memiliki ruang untuk mengembangkan wawasan kebangsaan sekaligus menjaga identitas keistimewaan Yogyakarta,” kata Bagaskara.(*)
Penulis : Elis
