Teknologi Yogyakarta

UBTECH Kenalkan Robot Edukasi untuk Dorong Pembelajaran AI dan Coding di Sekolah

INTENS PLUS – YOGYAKARTA. PT Tekno Otsar Vision bersama PT Voltx memperkenalkan berbagai robot edukasi UBTECH dalam ajang Pameran IT Yogyakomtek 2026 di Gedung Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, 26–30 September 2026.

Pengenalan robot tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan teknologi robotika dalam dunia pendidikan. Produk UBTECH tidak hanya menawarkan perangkat robot, tetapi juga modul pembelajaran, kit robot, silabus, dan kurikulum yang dirancang untuk mendukung proses belajar siswa.

Direktur PT Tekno Otsar Vision, Septamia Sofia, mengatakan pihaknya melihat peluang besar untuk mengembangkan pembelajaran robotika di sekolah-sekolah Indonesia.

Menurutnya, pembelajaran robotika di Indonesia saat ini masih banyak ditempatkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk mengenalkan pendekatan pembelajaran yang menggabungkan robotika dengan coding dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Karena di Indonesia untuk robotik ini belum masuk ke intra, masih ke ekstrakurikuler sehingga kami mencoba menawarkan produk baru, ini kami merek UBTECH. Produk kami ini selain kita menjual robotnya, kita ada istilahnya silabusnya, kurikulumnya,” ujar Septamia. Selasa (29/9/2026).

Robot Edukasi UBTECH untuk Berbagai Jenjang

Dalam pameran Yogyakomtek 2026, PT Tekno Otsar Vision dan PT Voltx menampilkan sejumlah produk robot edukasi UBTECH. Produk tersebut mencakup UKIT, UGOT, dan YANSHEE yang menyasar jenjang pendidikan berbeda.

UKIT dan UGOT ditujukan untuk pendidikan dasar hingga menengah. Robot tersebut membantu siswa mengenal dasar-dasar robotika sekaligus mempelajari cara mendesain robot agar mampu menjalankan tugas dan fungsi tertentu.

Selain perangkat robot, UBTECH menyediakan platform pemrograman berbasis visual. Platform tersebut dirancang agar siswa lebih mudah memahami cara membuat program untuk mengendalikan robot.

Sehingga pembelajaran tidak berhenti pada aktivitas merakit atau mengendalikan robot, siswa juga diarahkan untuk memahami logika pemrograman dan coding.

“Bukan hanya main robot, tapi lebih ke coding, belajar coding, belajar AI dan pemrograman, tiga hal itu,” kata Septamia.

Sementara itu, YANSHEE menyasar siswa sekolah menengah atas hingga mahasiswa. Produk ini digunakan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam mempelajari robot dengan tugas dan fungsi yang lebih kompleks.

YANSHEE juga mendukung pemrograman berbasis AI, yang dapat digunakan untuk melakukan simulasi tugas serta mendukung robot dalam membuat keputusan secara mandiri.

Direktur PT Tekno Otsar Vision, Septamia Sofia | Foto : Elis

Puluhan Sekolah Ikuti RoboG Action

Untuk memperkenalkan robotika secara langsung kepada pelajar, digelar juga RoboG Action dalam rangkaian Yogyakomtek 2026.

Kompetisi tersebut menjadi sarana bagi siswa, untuk mengenal dan mengasah kemampuan mengontrol robot. Peserta terlebih dahulu mendapatkan workshop dari instruktur sebelum mengikuti perlombaan.

Septamia mengatakan, antusiasme sekolah dalam kegiatan tersebut cukup tinggi. Lebih dari 60 sekolah dari jenjang SD, SMP, hingga SMA mengikuti kompetisi.

“Kami juga surprise karena pesertanya lebih dari 60-an, lebih dari sekolah yang mengikuti, ada jenjang SD, SMP, SMA,” ujarnya.

Pada tahap awal, kompetisi masih berfokus pada ketangkasan mengendalikan robot. Peserta menggunakan mouse untuk mengontrol robot yang digunakan dalam pertandingan.

Ke depan, kompetisi akan diarahkan pada kemampuan pemrograman dan coding sehingga peserta tidak hanya memiliki kemampuan mengendalikan robot, tetapi juga memahami cara membuat program yang menjalankan fungsi robot.

“Lomba kali ini baru perkenalan, belum ada pemrograman, jadi masih ketangkasan. Kita akan melanjutkan nanti lombanya melalui pemrograman, coding,” imbuh Septamia.

UBTECH juga menyiapkan konsep kompetisi robotik secara berjenjang, Kompetisi akan dimulai dari tingkat kabupaten, kemudian provinsi, nasional, hingga internasional.

Pemenang pada tingkat provinsi dapat melanjutkan kompetisi ke tingkat nasional. Selanjutnya, pemenang tingkat nasional berpeluang mengikuti kompetisi internasional.

Septamia mengatakan, standar perlombaan yang digunakan mengacu pada standar internasional. Dengan demikian, siswa yang nantinya mengikuti kompetisi di tingkat internasional sudah terbiasa dengan pola perlombaan yang sama.

“Standar lomba yang kita pakai ini standar internasional. Jadi kalau anak-anak menang besok ke internasional, tahun depan di Hongkong, mereka tidak kaget karena sudah pakai cara yang bersama,” ujarnya.

Dorong Robotika Masuk Pembelajaran Sekolah

Septamia melihat, pengembangan robotika di sekolah tidak cukup hanya melalui kegiatan ekstrakurikuler. Perusahaan berharap robotika dan teknologi AI dapat menjadi bagian dari pembelajaran yang lebih luas di sekolah.

Menurut Septamia, kegiatan ekstrakurikuler bersifat pilihan sehingga siswa memiliki banyak alternatif kegiatan, mulai dari olahraga, musik, menari hingga robotika.

Karena itu, pihaknya berharap pembelajaran robotika dapat berkembang menjadi bagian dari pembelajaran wajib sehingga lebih banyak siswa mendapatkan pengetahuan mengenai teknologi.

Pameran robot UBTECH | Foto : Elis

“Kami harapkan ini nanti jadi pelajaran wajib supaya anak-anak mengikuti perkembangan teknologi terus,” harapnya.

Septamia berfikir, bahwa pengenalan AI sejak dini penting agar, siswa memiliki bekal untuk menghadapi perkembangan teknologi ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

“Paling tidak, mereka sudah dibekali AI sehingga tidak ketinggalan dengan negara lainnya,” ujar Septamia.

Robot Komersial untuk Layanan Publik

Selain robot edukasi, Septamia juga memperkenalkan robot komersial dalam pameran Yogyakomtek 2026.

Produk yang ditampilkan antara lain Cuzr Smart Services Robot dan CadeBot Delivery Robot. Robot tersebut dapat digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan layanan mandiri, seperti memberikan informasi, menjelaskan produk hingga melakukan pengantaran.

Pemanfaatannya diarahkan untuk berbagai sektor, antara lain hotel, rumah sakit, museum, restoran, dan perkantoran. Kehadiran robot komersial tersebut menunjukkan pengembangan teknologi robot tidak hanya menyasar dunia pendidikan, tetapi juga kebutuhan otomasi pada sektor layanan.

Septamia juga mulai memperkenalkan produk robot UBTECH, kepada sekolah dan masyarakat melalui kegiatan pameran serta kompetisi. Septamia mengatakan harga robot yang ditawarkan berada pada kisaran Rp10 juta hingga Rp50 juta, tergantung jenis produk.

“Untuk harga yang paling murah dimulai dari 10 jutaan hingga yang paling mahal dari 40 hingga 50 juta,” katanya.

Perusahaan saat ini masih berada dalam tahap memperkenalkan dan mengedukasi sekolah mengenai pemanfaatan robotika. Kompetisi menjadi salah satu strategi untuk memperkenalkan robot secara langsung kepada siswa sekaligus melihat minat sekolah terhadap teknologi tersebut.

“Penjualan yang ini kita baru mulai, belum ada satu tahun. Jadi kita ini masih mencoba mengedukasi dulu, memperkenalkan dulu ke sekolah-sekolah dengan mengadakan kompetisi,” ujar Septamia.

Selain Yogyakarta, pengembangan pemasaran robot edukasi juga diarahkan ke sejumlah daerah lain. Tidak hanya berada di Yogyakarta, tetapi juga Jakarta dan Palembang yang direncanakan mulai dikembangkan pada Januari mendatang.

Septamia berharap pengenalan robotika dapat semakin luas, sehingga siswa Indonesia memiliki kesempatan mempelajari AI, coding, dan pemrograman sejak bangku sekolah.

“Harapan kami, kita perkenalkan anak-anak supaya tertarik. Karena ke depannya semua harus tahu AI. Kalau anak-anak itu mengikuti perkembangan, mereka nggak ketinggalan dengan negara lain,” tutupnya.(*)

Penulis : Elis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *